Welcome, here you will find my writings, mostly in Indonesian. I write anything I’d like to; be it politics, physics, philosophy, history, jokes, anything. It might become my intellectual journey record, so that the knowledges and values in this life that I grasp everyday can be traced. Yeah, sort of.
Mengingatnya dari Jauh
01 Selasa Mei 2012
Posted in random
Bandung itu seperti kekasih yang kejam. Berkali-kali menyesakkan dan berkali-kali pula aku lari darinya, tapi selalu muncul keinginan untuk kembali. Bagaimanapun, di sana, entah berapa persen bagian dari diriku—yang kecil kemungkinannya akan berubah hingga akhir waktu—telah terbentuk. Kujumpai realitas bahwa sekedar cinta saja tidak cukup, namun dedikasi, prioritas, dan ketabahan merupakan unsur penting. Semakin kukenal diriku yang terlampau sulit berdamai dengan otoritas. Juga kelemahanku di hadapan ikatan dengan manusia. Berulang kali kujalin persahabatan dan kuputuskan. Entah yang kusyukuri atau yang kusesali, semuanya telah terjadi.
Menimbang Keadilan dan Kesetaraan Gender
17 Selasa Apr 2012
Posted in gender
Tag
Sepintas kedua kata itu (kesetaraan dan keadilan) terdengar merdu di telinga. Secara alamiah, manusia berkecenderungan untuk menuntut diperlakukan sama dan tidak dibeda-bedakan dengan yang lainnya. Hal itulah yang menjadi persepsi kesetaraan baginya. Sementara tidak adil adalah kedzaliman, kesewenang-wenangan, kejahatan, bahkan penghinaan terhadap kemanusiaan. Kedua kata itu kemudian disandingkan dengan kata gender. Gender yang sering dipahami sebagai bentukan budaya atas peran dan posisi yang layak atau tidak layak, pantas atau tidak pantas, serta baik atau tidak baik terkait dengan perbedaan jenis kelamin (seks). Sehingga dalam konteks demikian keseteraan gender berarti menuntut terdapatnya perlakuan dan sikap yang sama dii antara dua jenis seks yang berbeda, yakni laki-laki dan perempuan serta mewujudkan keadilan yang diharapkan oleh keduanya. Pertanyaannya, siapakah yang berhak menentukan parameter keadilan itu sendiri?
Roland Barthes – Myth Today
15 Minggu Apr 2012
Posted in budaya, filsafat bahasa, linguistik
Tag
identifikasi, mitos, neither-norism, realitas, Roland Barthes, semiologi, statement of fact, tautologi
Dalam “Myth Today”, Roland Barthes menganalisis retorika proses pembuatan mitos modern. Dia menganalisis mitos sebagai suatu bentuk bahasa dan bagaimana bahasa dapat membentuk realitas alternatif. Dia melakukan hal ini dalam konteks borjuis (bourgeoisie) dan borjuis kecil (petit-bourgeoisie). Hanya saja, dikarenakan baru membaca sedikit, saya tidak begitu yakin bagaimana kedua hal tersebut berhubungan. Setidaknya (hal-hal berikut yang dapat disampaikan terkait konsep ini):
Sekilas Gerakan Feminisme
10 Selasa Apr 2012
Tag
Elizabeth Cady Stanton, feminisme, Jeremy Bentham, liberal, Mary Wollstonecraft, sejarah, Susan B. Anthony, Women's Rights
Salah satu entry point utama gerakan liberasi dan emansipasi perempuan adalah agenda yang dilontarkan oleh Mary Wollstonecraft dalam A Vindication of the Rights of Women (1792). Gerakan ini muncul dengan asumsi awal bahwa perempuan berada dalam posisi termarginalkan, sebagai subordinat, terkucilkan, dan berada dalam dominasi laki-laki. Sebelumnya telah ada sejumlah pemikir yang mengemukakan hal-hal terkait hak perempuan untuk bersuara dalam politik seperti Jeremy Bentham (1781) dalam Introduction to the Principles of Morals and Legislation , serta Marquis de Condorcet yang menulis sebuah artikel dalam Journal de la Société de 1789. Tapi istilah feminis itu sendiri baru muncul sekitar tahun 1872 di Prancis dan Belanda[i].
Kritik atas Beberapa Aliran Feminisme
10 Selasa Apr 2012
Posted in budaya, eksistensialisme, gender
Tag
ekofeminisme, eksistensialisme, emansipasi, feminisme, liberal, multikultural, postmodernisme, radikal
Dalam pertumbuhan pertama feminisme, yang dominan, kalau bukan satu-satunya adalah gerakan feminisme aliran liberal tradisionalis yang ditandai dengan tulisan Mary Wolltonescraft (A Vindication of Rights of Women). Ide utama feminis generasi pertama masih berkutat seputar kesetaraan hak terutama dalam keluarga, pendidikan, dan politik. Pada perkembangannya, feminisme tumbuh menjadi berbagai aliran dengan perspektif masing-masing terhadap ketidakadilan yang dialami wanita, termasuk strategi menghadapinya. Dimulai pada feminisme gelombang kedua, sekitar tahun 60-an, berkembang beberapa aliran berdasarkan basis ideologi yang beragam. Sebut saja feminisme radikal, feminisme sosialis, feminisme psikoanalisis dan gender, feminisme eksistensialis, feminisme postmodern, serta feminisme multikultural dan global.[i] Terakhir muncul yang disebut ecofeminism. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu berikut kritiknya[ii]: