mengenai sastra

Danziger dan Johnsons (1961) menggambarkan sastra sebagai “seni bahasa”. Tak berlebihan juga bila disebut sebagai seni karena seni jelas berkaitan dengan ‘rasa’. Sementara sastra pun lekat hubungannya dengan ‘rasa’. Ada cara khas dalam pengungkapan makna-makna dalam teks sastra. Contoh mudah dan yang cukup berkesan adalah cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul ‘Klara’. Berhasil dalam menggambarkan suasana dan membangun nuansa. Berbeda bila dibandingkan dengan sejumlah artikel berita di koran misalnya, yang juga menceritakan peristiwa kelam tentang perkosaan warga keturunan di tengah kecamuk kerusuhan 1998. Masih ada juga contoh lainnya.
Jelas bahwa sastra banyak bertumpu pada penggambaran nuansa-nuansa perasaan dan pikiran, sementara jenis tulisan semacam artikel, berita lebih banyak bertumpu pada data, fakta, sumber primer, makna pemikiran yang eksplisit.
Sastra memiliki makna. Tentu, mendalam malah. Namun susunan kata dan pemilihan diksi menjadi hal super penting dalam penyampaian makna. Karena yang ditonjolkan adalah kesan, adalah nuansa. Dengan demikian tujuan utama sastra, yaitu menyentuh dan menggugah rasa akan terwujud. Bisa dilihat teks berikut ini:
Maafkan aku,
secarik kertas tertinggal ‘karna alpaku
tercecer tak rapi
cederai meja pojokmu

petang nanti kukembali
‘kan kuhapus cacat artistik
di sudut ruangmu.
Sekilas nampak ribet, minta maaf seperti itu, kebanyakan orang cenderung akan meninggalkan pesan atau mengirim sms dengan bahasa yang lebih singkat “maaf, tadi aku nyampah”. Akan tetapi ada rasa yang berbeda menerima pesan seperti itu(sekalipun terasa berlebihan mungkin, bahkan cenderung gombal,haha3).
Untuk puisi, sebagai bagian dari sastra, Wordsworth seorang penyair Inggris menyatakan bahwa “ poetry is a spontaneous overflow of powerful feelings”. Sementara roman Jacobson (ahli linguistik Prancis) lebih menekankan pada fungsi puitik teks, yaitu fungsi yang mengerahkan segenap upaya dan perhatian pada unsur-unsur teks itu sendiri.
Ya, begitulah banyak makna terkandung dalam karya sastra, makna yang ingin disampaikan pada khalayak. Akan tetapi, upaya terkeras para penyair adalah pada perhatiannya dalam memilih dan menyusun unsur-unsur teks sehingga puitik dan menonjolkan keindahan. Tiada lain untuk memancarkan kesan dan nuansa yang kuat sehinnga menyentuh ‘rasa’.
Karena berkaitan erat dengan rasa, bukan pula menjadi suatu hal yang aneh ketika setiap orang bisa memiliki interpretasi berbeda. Setelah suatu karya sastra diluncurkan pada publik, dicerap dengan berbagai level pemikiran dan kepekaan rasa penjamahnya, kekuatan pesan dan kepresisian pemaknaan ‘asli’ dari pengarang sangat mungkin akan berbeda, terdistorsi, tereduksi, atau sampai mengalami rekonstruksi makna berulang. Dan itulah karya sastra, lepas dari rahim penyair, ia melanglang di alamnya sendiri dan menjelma menjadi purwarupa dalam benak atau ruangwaktu yang berbeda.
Sebagai penutup bagian satu ini, saya deretkan sejumlah kata-kata berikut:
Apakah sakit hati itu?
dendam yang terbata
mengeja luka
perih yang lirih
memeram bara
haru yang beku
menyekap maaf
Itulah, sakit hatimu

[bojongwetan,15091429, to be continued]

Advertisements

3 thoughts on “mengenai sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s