Erotisasi Sastra dan Gerakan Perempuan

(salah satu tulisan lama, ditulis sekitar thn 2006)

Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia sastra kita seolah  dikejutkan oleh kemunculan sejumlah penulis perempuan   dengan karya yang menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Sebagian menganggap fenomena ini  sebagai angin segar bagi Sastra Indonesia, sehingga bagi beberapa  orang, kehadiran mereka dengan kecenderungan serupa—mengeksplorasi sensualitas—seperti demikian, dianggap sebagai titik pembaharuan.

Tulisan berikut ini  merupakan sebuah analisis mengenai kemunculan genre baru penulisan sastra tersebut  serta kaitannya dengan upaya penetrasi nilai-nilai liberal, terutama dalam hal kebebasan berekspresi.

Kredo Psikoanalitik dan Kebebasan Berekspresi

Dalam pandangan Freudian, seluruh kerja kreatif manusia—baik seni, hukum, agama, dan sebagainya—dianggap sebagai perkembangan dari libido. Libido sebagai  suatu bentuk dari energi psikis yang terutama bersifat seksual kemudian disebut orang  sebagai inti dari doktrin psikoanalisa.[2]

Bagi masyarakat yang menganut pandangan tersebut, tidaklah mengherankan  bila kemudian aspek seksual dipandang menjadi hal yang membutuhkan pemenuhan mutlak. Sehingga berimplikasi pada lahirnya produk-produk budaya yang cenderung mengangkat sensualitas serta seksualitas, tak terkecuali pada sastra.
Selain itu, asas kehidupan yang sekuler menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kebebasan berekspresi. Maka, tidaklah menjadi soal untuk berperilaku apapun selama dianggap tidak merugikan orang lain. Batas-batas kesopanan maupun susila semakin kabur bahkan menghilang di dalam kehidupan yang semakin bebas nilai (agama). Demikianlah yang terjadi pada masyarakat Barat. Nampaknya, hal tersebut kini mulai merasuk ke dalam budaya masyarakat non Barat, termasuk Indonesia sebagai dampak globalisasi.

Terlihat jelas dari kemunculan berbagai karya yang semakin kebarat-baratan. Sejumlah film layar lebar  yang belakangan banyak diproduksi, cenderung berkiblat ke Hollywood. Mengedepankan kebebasan. Diantaranya dengan  menjadikan adegan berciuman menjadi sesuatu yang biasa saja, lumrah dilakukan. Dalam hal ini saja sudah nampak adanya pergeseran nilai. Bahkan tema penyimpangan seksual—homoseksualitas—pun  pernah diangkat.

Begitu pula  dalam  karya sastra berupa prosa atau puisi. Sebagai contoh adalah karya Ayu Utami—yang  akan banyak disoroti dalam tulisan ini. Dalam Saman dan Larung, Ayu  tidak mengetengahkan cerita mengenai kehidupan seksual yang normal dan sah, katakanlah seperti itu. Namun yang terjadi adalah belitan cerita tentang perzinahan, perselingkuhan, homoseksualitas, biseksualitas. Semua itu dikemas dalam bahasa yang eksplisit. Menerjang budaya yang memandang masalah seksual sebagai hal yang tabu. Apalagi diumbar sebegitu terbuka.

Ketika hal tersebut diangkat di tengah masyarakat yang berpandangan berbeda, muncullah kontroversi. Fenomena kontroversi ini oleh Anton Kurnia dinilai sebagai ketidaksiapan  masyarakat yang bersangkutan atau penguasa (penguasa politis, spiritual, moral) dalam menghadapi ekspresi individu yang berbeda dan bertentangan dengan tata nilai kolektif[3]. Hal tersebut tentu dapat diterima. Saat Saman muncul pertama kali (1998) terjadi perubahan dalam khazanah sastra Indonesia melalui bentuk penulisan yang berbeda mengenai seksualitas, oleh penulis perempuan, dan kemudian seolah menjadi tren bagi penulis perempuan lainnya. Lalu Djenar Maesa Ayu, tema yang diangkat dalam kumpulan cerpennya Jangan Main-main dengan Kelaminmu atau novelnya Nayla tidak jauh dari persoalan seksualitas dan kelamin. Begitu pula Herlinatines, dalam bukunya Garis Tepi Seorang Lesbian, menggugat masyarakat yang dianggap hipokrit karena menolak keberadaan realitas homoseksual.

Jembatan Sastra?

Sekalipun demikian, banyak yang berpendapat bahwa karya-karya Ayu Utami, juga yang bermunculan setelahnya dipandang sebagai karya yang berhasil memupus dinding antara sastra eskapis (populer) dengan sastra sejati—karena diapresiasi oleh kalangan yang sangat beragam, terlepas dari klasifikasi yang membedakan  pembaca karya intelektual atau eskapis, sastra ‘berat’ maupun stensilan.

Menurut Jakob Sumarjo (1995), sastra sejati membawa pembaca lebih dekat dengan kehidupan, agar lebih memikirkannya, lebih waspada, sedangkan sastra populer justru menarik pembaca keluar sejenak dari kehidupannya[4]. Dalam pandangan saya, hasil karya Ayu Utami dan kawan-kawan, alih-alih mendekatkan pembaca dengan kehidupan, justru malah mengenalkan masyarakat pada kehidupan masyarakat lain yang lebih bebas, lebih liberal, pengagung libido. Karena realitas yang diangkat dalam karya tersebut justru tidak sesuai dengan realitas yang dijumpai di tempat kelahiran karya tersebut.

Kalaupun mau memaksa, hanya kehidupan segelintir orang saja yang tercakup dalam karya-karya tersebut. Yaitu kaum menengah ke atas di kota-kota besar. Sebagaimana latar belakang tokoh-tokoh fiktif dalam Saman dan Larung yang bertualang di negeri  Paman Sam—yang dianggap dapat merepresentasikan kebebasan seks, dengan industri seksnya yang beragam, mulai dari prostitusi, vouyerisme (ngintip), sadomachocis (seks sadis), sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang-orang biasa). Begitu pula pasangan gay Dhimas dan Ruben dalam Supernova-nya Dewi Lestari, dikisahkan dalam latar belakang budaya Amerika yang kental, tempat mereka bersekolah.

Karena itulah, gelontoran karya-karya semacam itu di pasaran lebih tepat jika dianggap sebagai bentuk propaganda atas kebebasan berekspresi dan seksual di tengah-tengah masyarakat.

Perjuangan Perempuan Lewat Sastra?

Hal menarik lainnya adalah, mengenai pandangan sejumlah kalangan—terutama aktivis perempuan—yang  menilai fenomena ini sebagai bentuk perjuangan perempuan yang merambah dunia sastra. Ada muatan feminisme dalam karya-karya tersebut. Gugatan atas patriarki menjadi bahasan penting. Terutama dekonstruksi gender . dalam sebuah tulisan bertajuk “Larung dan Dekonstruksi Masyarakat Patriarkal”, Sumarwan mengutip perkataan Derrida:

“… in classical philosophical opposition we are not dealing with the peaceful coexistence of a vis-à-vis, but rather with a violent hierarchy. One of the two terms governs the other (axiologically, logically, etc.), or has the upper hand. To deconstruct the opposition, first of all, is to overturn the hierachy at a givent moment.” (Jacques Derrida, “Positions”, hlm. 41).

Sumbangan Derrida dalam  filsafat strukturalisme, menyatakan bahwa makna benda lebih bermakna bukan karena hubungan penanda dengan yang ditandakan pada benda tersebut, namun  karena perbedaannya dengan oposisi biner dari benda tersebut. Sebagai contoh adalah laki-laki><perempuan. Oposisi tersebut tidak berakhir pada hubungan damai namun membentuk hirarki dimana yang satu menekan yang lain, menindas yang lainnya. Dengan demikian, dikatakan lebih lanjut bahwa gerakan feminisme semestinya membalik hirarki antara laki-laki dan perempuan. Dalam pandangan Sumarwan, selama ini yang terjadi adalah dominasi kekuatan laki-laki  atas perempuan, dan kemudian Ayu Utami dalam Larung berupaya untuk mengubah otoritas  laki-laki tersebut dan menjadikannya sebagai milik perempuan. Hal tersebut nampak dalam kisah antara Laila dan Saman.

Namun dalam pandangan kritikus sastra Katrin Bandel, upaya Ayu Utami untuk mendekonstruksi pola relasi laki-laki>< perempuan tersebut justru terkesan ambivalen, karena Ayu justru menimbulkan kesan falosentris dalam beberapa bagian novelnya[1]. Di tengah upaya untuk melakukan dekonstruksi posisi perempuan terhadap laki-laki, Ayu mengibaratkan perempuan sebagai bunga yang secara alami bersifat pasif bukan aktif, walaupun yang dimaksud adalah bunga karnivora (dalam Larung) dan diamnya bunga tertanam di atas tanah bukankah justru semakin mengukuhkan kedudukan perempuan sebagai objek, bukan subjek. Namun bagaimanapun juga, terlepas dari sejumlah kelemahan dan ambivalensi yang ditemukan, nuansa feminisme  tetap saja terasa kental.

Yang sebenarnya patut dipertanyakan lagi, adalah bentuk perjuangan yang seperti apa? Melawan siapa? Untuk mendapatkan apa?  Lagipula apakah benar mewakili perempuan? Perempuan mana? Karena yang  ada justru nampak janggal dan menimbulkan sebuah paradoks. Benarkah perempuan harus memperjuangkan dirinya, justru melalui jalan dimana ia biasa dieksploitasi, secara sadar atau tidak? Karena tidak bisa disangkal, ketika para penulis perempuan berbondong-bondong menggarap tema seksualitas dan menganggapnya sebagai bentuk perlawanan serta pemberontakan mereka terhadap sistem patriarkal, hal tersebut justru semakin  mengukuhkan mereka sebagai pihak yang identik dengan seksualitas. Seolah-olah sumbangan para perempuan hanya sebatas masalah seksual, bukan lainnya.

Mengapa bukan karya yang lebih  bernilai dan memberi wacana positif yang dipersembahkan? Sesuatu yang akan menjadi sebuah pencerahan bagi masyarakat. Sebuah karya untuk meningkatkan taraf berpikir mereka, bukan justru membuatnya semakin familiar dengan budaya Barat yang jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai (agama) yang kita anut dan bersifat merusak.

Sekulerisme dan gaya hidup liberal yang kental dalam sejumlah karya sastra belakangan ini jelas merupakan produk ideologi kapitalis yang berorientasi pasar, bukan nilai. Dalam pandangan kapitalisme, apapun yang dapat ditukar dengan uang, maka ia menjadi komoditas. Termasuk  perkara seksualitas, hingga muncul terma  libidonomics system yaitu sebuah sistem yang mengeksploitasi setiap potensi libido untuk kepentingan ekonomi semata. Karya sastra yang semacam ini akhirnya akan memunculkan erotisasi budaya atas nama ekonomi. Jelas tidak akan mampu membebaskan perempuan  dari berbagai kepelikan permasalahan  hidupnya, justru semakin merendahkan kedudukan mereka dan menjerumuskannya ke dalam sampah peradaban. Maka, dalam pemikiran saya, sangatlah dangkal pemikiran yang menganggap bahwa gebrakan para penulis perempuan yang tak ragu mengeksplorasi seksualitas  secara vulgar merupakan bentuk perjuangan perempuan.  Hal tersebut hanya semakin menunjukkan  emosionalitas dan ketidakobjektifan feminisme dalam memandang masalah.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, di dalam masyarakat yang sekuler dan mengagungkan kebebasan, norma serta nilai-nilai (agama) tidak lagi menjadi patokan baik-buruk.  Bahkan  demi keuntungan, segalanya dipertaruhkan. Demikian  juga yang dilakukan oleh para penulis perempuan tadi, entah sadar atau tidak mereka pun telah terjebak ke dalam kungkungan kapitalisme yang menjadikan seksualitas sebagai komoditas. Hanya saja dijual dalam bentuk fiksi, dalam tulisan.

Referensi:
[1]Bandel,Katrin. Heteronormatifitas dan Falosentrisme Ayu Utami
[2]Downs, Robert B.2001. Buku-buku Pengubah Sejarah. Yogyakarta:Tarawang Press.
[3]Kurnia, Anton.2004.Perempuan, Seks, Sastra.URL:http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0424/bud2.html
[4]Patel,Ismail Adam.2005.Perempuan, Feminisme, dan Islam.Bogor:PTI
[5]Sumarjo,Jakob.1995.Sastra dan Massa. Bandung:Penerbit ITB
[6]Sumarwan.Larung dan Dekonstruksi Masyarakat Patriarkal. URL:www.filsafatkita.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s