Manusia Kamar Seno Gumira Ajidarma

Sejak pertama membaca karya Seno Gumira Ajidarma ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’ beberapa tahun lalu, sudah muncul ketertarikan saya pada pengarang yang satu ini. Setidaknya dari sedikit karya sastra yang saya baca, dialah yang pertama saya temukan menyuguhkan racikan imajinasi yang merdeka dari tuntutan realistisnya suatu karya. Semakin memberi gambaran jelas di benak bahwa, seorang pengarang berhak membangun dunianya sendiri, membangun logikanya sendiri, yang terkadang tak nyata di dunia nyata. Logikanya hanya berlaku di dunia kata yang dibangunnya, sekalipun hal tersebut bisa saja—atau justru biasanya—merupakan simbol atau analogi dari sebuah realitas.


Manusia kamar adalah metafora dari sejumlah manusia yang—sebagaimana dikatakan oleh aku lirik—biasa, yang sedang menjalani tahap-tahap dalam kehidupannya. Tapi tahap itu dilaluinya dengan amat serius dan penuh makna. Berbeda dengan orang kebanyakan yang senantiasa mencari kemudahan dan banyak hal untuk mempermudah kehidupan. Bukan berarti kawan aku lirik yang diceritakan dalam cerita ini mencari-cari keruwetan dalam hidup yang memang sudah ruwet. Mulanya tidak, saya rasa—walau ternyata belakangan ia melakukannya.


Ia hanya lebih peka dalam menatap, merekam, dan mempertanyakan kehidupan, yang dalam timbangannya banyak terselubung kepalsuan, kerusakan, kekacauan. Hal yang sangat mungkin menghinggapi tipikal orang penyendiri—yang lebih banyak punya waktu untuk berpikir sendiri—ketimbang orang yang menghabiskan waktu dengan kawan-kawan sehingga penilaiannya terhadap kehidupan terkena bias lingkungan.


Sekalipun dalam cerpen ini, hampir seluruhnya merupakan uraian pikiran, ungkapan pendapat, pandangan aku lirik, namun justru pokok cerita adalah si manusia kamar. Tentang aku lirik yang menjadi kawan dekat si manusia kamar, tidak digambarkan sedikitpun perihal pribadinya secara eksplisit. Aku lirik menjadi penutur, atau malah menjadi wakil pembaca yang berinteraksi dengan tokoh utama. Dengan menempatkan aku lirik sebagai orang kedua, teman dekat sang manusia kamar, Seno telah membatasi interaksi pembaca dengan manusia kamar tersebut. Pembaca mengenali karakter, pikiran, serta pendapat tokoh utama cerita ini dari pikiran satu-satunya kawannya, dari uraian—lebih tepatnya dialog-dialog pendek—antara dia dengan kawannya itu atau informasi-informasi yang didapatkannya. Dengan demikian kemisteriusan si manusia kamar tetap tak tersentuh langsung.


Melalui cerpen ini Seno ingin mengetengahkan sinisme terhadap kepalsuan duniawi. Dalam cerita pun nampak, sesungguhnya bukan hanya si manusia kamar yang merasakan hal tersebut, belakangan sang kawan satu-satunya pun merasakan hal serupa. Hal ini nampak dalam ungkapannya ketika malam-malam mencari si manusia kamar.


‘…Tak terasa sebetulnya aku mendapatkan sesuatu yang lain, sesuatu yang berharga. Malam memang menyingkap kepalsuan. Di balik kekelaman itu, topeng-topeng dibuka dan bentuk asli yang serba gombal itu pun bisa kutangkap, kekelaman seperti memberi perasaan aman dan terlindung. Bisa kudengan bisik-bisik sekongkol politik, kasak-kusuk para penyebar gosip. Bisa kulihat para penipu diri beraksi. Antara strip-tease dan lonceng gereja, antara penggarongan dan azan subuh, antara perzinahan terbuka dan perzinahan tertutup…’

Hanya saja yang berbeda adalah penyikapan mereka. Si aku lirik tetap berada dalam ‘dunia’—sembari tak dijelaskan apa yang berusaha dia lakukan untuk mengatasi atau membongkar kepalsuan itu—sementara kawannya mengisolasi diri dari dunia, sekalipun ia tetap menghadirkan dunia ke dalam rumah anehnya melalui berbagai media informasi. Dengan dermikian ia tetap dapat memonitor perkembangan ‘musuhnya’—sebagaimana pernyataannya ‘…pokoknya aku menyatakan perang terhadap dunia dan keduniawiannya.’—kemudian dapat melancarkan serangan melalui media ekspresi satu-satunya: tulisannya di berbagai media maupun sayembara.


Namun jelas dia mencari jawaban atas kepalsuan itu dengan sederet pisau analisis sosial yang dia pelajari, dengan berbagai kacamata yang berganti-ganti ia kenakan. Hanya satu kealpaannya: ia begitu angkuh seolah tak ada manusia lain yang berpandangan sama dengannya, sehingga tak sedikitpun ia mau mencoba berdiskusi dengan orang lain kecuali kawan dekatnya itu. Sehingga tafsir yang dia gunakan dalam memandang dunia dan segala bentuk keduniawian tadi mutlak miliknya sendiri. Sekalipun menggunakan kacamata pemikiran lainnya—dari kitab suci, lalu Goethe,Tao, konghucu, Sartre, Heidegger, Marx, Erich Fromm, dll—jelas tafsirannya adalah hasil pemahamannya sendiri.


Karakter si manusia kamar sendiri yang kontroversial dan ekslusif wajar terlahir dari buah pikiran seorang Seno Gumira Ajidarma yang dalam rubrik apa dan siapa majalah Tempo disebut sebagai sosok pembangkang. Melepaskan diri dari dunia aturan dan agenda kehidupan orang kebanyakan, selepas SMP ia menolak sekolah dan mengembara mencari pengalaman, terpengaruh cerita menarik Old Shatterhand di tengah suku Apache besutan pengarang Jerman Karl May.


Yang menarik, ketika mencari bahan lain mengenai topik ini, dalam halaman hasil pencarian tertera pula beberapa halaman para blogger yang berisi kesannya terhadap cerpen ini, beberapa mengaku ‘sama’ dengan sang manusia kamar—mungkin tidak persis seperti dia yang membangun kubus pribadi untuk tempat bertapanya, namun lebih mirip ‘ksatria Schrodinger’-nya Dewi Lestari untuk alasan berbeda—hanya saja mungkin belum selevel atau seserius si manusia kamar dalam menghasilkan karya-karya dobrakan untuk membongkar kepalsuan dunia saat ini. Entahlah, apakah mereka terinspirasi oleh tokoh ini, kemudian tertarik melakukan hal yang sama.


Entahlah, untuk mereka saya hanya ingin berkata se A vida e, never runaway from it, make it better.

Terakhir yang dikeluhkan oleh Seno ialah respon masyarakat yang selalu tidak memuaskan. Gebukan si manusia kamar nampaknya tak cukup untuk merenggut topeng-topeng kepalsuan tadi. Atau mungkin dia pun akhirnya menyerah setelah melancarkan senjata terakhirnya pada sang musuh: cerbung ‘Topeng-topeng’. Kehidupan kembali berjalan ‘normal’. Isu-isu baru silih datang berganti untuk dilupakan. Seperti halnya yang terjadi saat ini, kenaikan BBM,rencana kenaikan TDL,berganti isu RUU APP, bersaing dengan Freeport, Blok Cepu, Kenaikan gaji anggota DPR, kematian anak kurang gizi. Semua seolah tak punya tempat untuk benar-benar mengusik sindrom kenyamanan yang kadung membius nyaris semua orang di dunia topeng ini.(mei 2006)

Advertisements

6 thoughts on “Manusia Kamar Seno Gumira Ajidarma

  1. masyarakat adalah satu perasaan, pemikiran, dan aturan yang sama…transformasi masyarakat mau tidak mau harus mengubah perasaan, pemikiran, dan aturan-aturan yang ada.

    Apa yang dilakukan Seno adalah usaha dalam mengubah pemikiran-pemikiran yang ada dalam masyarakat, tetapi transformasi masyarakat adalah sebuah proses layaknya memanaskan air dalam sebuah ketel, setiap usaha akan menaikan suhunya, sampai suatu saat air itu mendidih dan air itulah yang akan mendobrak dinding-dinding aturan yang ada.

    sayangnya, instrumen media tidak hanya dimiliki Seno, tetapi para aktivis2 liberalis, kapitalis pun memilikinya, bahkan dengan instrumen yang lebih besar. Kabar baiknya adalah, sebuah kebenaran tidak mungkin dikalahkan oleh kebohongan, hanya usaha-usaha kontinu untuk menyadarkan masyarakat yang dibutuhkan untuk sebuah transformasi.

  2. gak yakin apa seno memang berniat mengubah masyarakat ato gak. cuma terlalu berat kalo hal seperti itu dibebankan pada sastra, bukan bagiannya. sastra hanya menggugah rasa, bukan sarana efektif menyampaikan pemikiran untuk sampai pada masyarakat dengan pesan yang akurat

  3. emang sih masih penasaran juga dengan karya sastra yang cukup berpengaruh kayak novelnya Harriet Bhecher Stowe ” Uncle Tom’s cabin…tapi kayaknya itu emang tinggal nyulut deh, bahan bakar perubahannya sudah siap sedia…

  4. saya pikir karya sastra tidak harus hanya dinikmati sebagai rasa, tetapi memang menciptakan karya sastra yang dapat membuat transformasi pemikiran dan memiliki rasa bukan hal yang mudah.

    Al-qur’an, subhanallah, indah banget, dan retorikanya tak terbantahkan. Dapat mengaitkan emosi dan akal sekaligus…suatu kalimat paling agung…dan manusia tidak akan pernah dapat menyamainya

    Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (2:116)

    Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (2:117)

    Pertanyaan Retoris dari Allah kepada Nabi Isa A.S meruntuhkan semua argumen, karena Nabi Isa A.S sendiri yang menjawabnya….

    bagi saya itu indah banget, bisa nyentuh akal dan perasaan…

  5. kupikir gak ada pendapat kita yang bertentangan, cuma tertangkap suatu bias dan penegasan hal-hal sbb kayaknya perlu:
    1. ya, alQur’an bukanlah karya sastra berbeda dari gaya bahasa prosa maupun puisi arab
    2. bahasa alQur’an indah? jelas, bahkan tak tak mungkin ada yang menandingi keindahannya, sudah berulangkali manusia berupaya membuat tandingannya, tapi tak ada yang berhasil. karena manusia dengan sastranya sangatlah terbatas
    3. ada karya sastra yang menggugah pemikiran, tapi terbatas pengaruhnya,pertama menginisiasi, menyentak, yang kedua adalah menyulut, mengobarkan, menurutku salah satunya adalah Uncle Tom’s Cabin itu… hasilnya: perang saudara amerika! Tapi permasalahan memang dirasakan sebelumnya, pendalaman pemikiran juga pastinya dilakukan dalam banyak diskusi dan literatur non-fiksi (yang berupa teks pemikiran). Itulah, transformasi pemikiran hanya dapat dilakukan melalui teks-teks pemikiran, dalam sastra ada sejumlah ‘perbedaan tujuan’ walaupun bisa berkontribusi (bisa banget…), apalagi puisi yang menekankan fungsi poetic-nya (coba lihat tulisan di blog ini juga “ mengenai sastra”), porsinya adalah membangkitkan emosi, yah misalkan saja sajak2 wiji tukul,dll.
    4. penggunaan bahasa dalam menyampaikan pemikiran memang berperan sangat penting. Dalam beramar ma’ruf nahi munkar, kita harus selalu belajar untuk memperhatikan makna yang mudah dipahami, hubungan-hubungan yang jelas, argumen yang meyakinkan, bahasa yang tepat dan indah…

  6. setuju, memang gak bisa disamakan al-qur’an dan karya sastra, saya salah buat perbandingan.

    setuju, memang bentuk tulisan yang benar-benar memberikan pemahaman tidak dapat dalam bentuk karya sastra, harus dalam sebuah artikel khusus yang membahas suatu permasalahan.

    tetapi suatu pembahasan yang sistematis, argumentatis dan disusun dengan sangat baik, sehingga mudah memahami dan tidak terbantahkan juga merupakan salah satu bentuk keindahan dari sebuah tulisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s