Q.E.D syndrome

Pernah denger atau baca ekspresi di atas? Bukan Quantum Electro Dynamics, hehe. Di buku teksku banyak banget tertulis Q.E.D. di setiap ujung persamaan matematis. Singkatan dari Quod Erat Demonstrandum/ sudah terbukti dengan jelas. Biasanya tercantum di samping persamaan yang katanya “ it’s easily derived…, we then can obtain…, with no so complicated ways we find out that…”

Ehm, namanya juga buku teks, biasanya memang tidak diturunkan secara lengkap, karena memang bukan buku kotretan, hoho iya lah. Maka seorang saintis biasanya belajar untuk menelusuri jejak-jejak penemuan rumusan tadi dengan menghampiri tiap titik yang disediakan tadi, mencari missing link istilahnya. Sekali ketemu terus diulang-ulang sampai dapet feelnya dan merasakan “sensasi eureka”. Begitu terus sampai tiba masanya nanti benar-benar ‘berhak’ berteriak eureka ,tentu tidak disertai gaya amoral Archimedes yang berlari di jalanan—maaf—tanpa busana saking girangnya. Atau lebih bagus bagi saintis muslim berteriak subhanallah, langsung disertai sujud syukur atas karunia memahami sebagian ilmu-Nya (mata menerawang, halah).

Mungkin kondisi para saintis sedikit berbeda dengan kultur di teknik yang mayoritas lebih menggunakan rumusan alam semesta dalam matematika tadi sebagai end user dan berkonsentrasi untuk mengeksplorasinya dalam pengembangan teknologi. Walau hubungan saintis-teknokrat tidak sesempit itu, tapi ada relasi mutualisme yang lebih intens. Bahkan banyak juga kalangan teknik yang memberi sumbangan pada dunia sains, banyak contoh, misalnya dalam bidang termodinamika.

Ok, jadi intinya dalam proporsi yang sesuai kebiasaan menggunakan Q.E.D. dengan mudah tidak saya permasalahkan lagi. Nah, yang jadi masalah adalah ketika para pemikir secara umum menggunakan ekspresi tadi ketika menyampaikan ide-idenya. Jadi inget kebiasaan buruk diri sendiri, biasanya kalo nulis suka panjang-panjang banget. Pas nulis bagian akhirnya biasanya sudah keburu capek dan cuma poin-poin utama rekomendasi aja yang dicantumkan, dasar pemalas.

Biasanya, ada asumsi yang muncul, ah kan gampang aja disimpulkan demikian, TST (tau sama tau) gitu lah. Masa nyimpulin gitu aja gak nyampe? Hoho… Yang ada para audiens atau sidang pembaca males juga. Ah, rupanya ini tantangan untuk bisa menyampaikan pemikiran secara runut dengan empati pada alur pemikiran orang lain.

Memang gak gampang sih melakukan penetrasi pemikiran secara halus, yang jelas agar pemikiran diterima dengan penuh kesadaran dan kerelaan, jalan masuknya emang mesti baik-baik. Waduh apa sih, makin abstrak? Ah, belajar aja lah, bagaimana menstrukturkan pemikiran dan ide-ide agar mudah dicerna, gak perlu dimamah biak, karena gak semua orang punya empat perut (eh bukannya malah gak ada ya?). Upps, keterusan, dah ngantuk kali nih… Yang jelas tulisannya cukup jelas kan? Q.E.D

;p

Advertisements

3 thoughts on “Q.E.D syndrome

  1. Q.E.D.
    itu komik favorit gw ra.hehe..
    karekter utamanya toma,anak MIT yg lulus diusia 16th.balik ke jepang,malah jadi anak sma.kurang kerjaan.haha..sayang belum ada anime nya.manganya jg ga di-publish luas.
    well,nice posting.

  2. nice posting.

    saya juga kadang kena sindrom ini nih.
    Inti poinnya siap dituangkan, tapi hierarki informasi yang harus disampaikan masih belum kebayang.

    Gak bisa diraba audiens saya itu memiliki informasi sebelumnya yang kira2 memadai utk memahami teks saya seperti apa.

    Jadinya pake standar deviasi pribadi deh, kalau saya sendiri gak ngerti maka jangan harap orang lain ngerti. Cuma masalahnya, saya sendiri adalah pembaca yang cukup buruk (susah mengartikan teks orang lain).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s