newbie or not to be

Lagi-lagi terinspirasi sebuah film. Banyak juga sebenarnya karya–baik berupa film atau novel—yang belum sempat ku-review. Di samping karena keterbatasan waktu, juga kadang karena temanya yang lumayan everlasting jadi kupikir tak perlulah menuliskannya segera. Hanya saja, kali ini agak istimewa, karena inspirasi datang dari sebuah film seri. Terus terang saja aku bukan tipe orang yang cukup tertarik pada serial Asia. Seingatku hanya Jewel in the Palace yang juga kental dengan suasana politik dan gambaran profesionalitas (itu pun hanya menonton beberapa episode saja, cerita keseluruhan kuketahui dari membaca sinopsisnya), lalu ada Hotelier, dan Choonyang (entah judul aslinya apa) yang kutonton karena seorang rekomendasi seorang teman . Wah, tidak sedikit juga ternyata.

Langsung saja, serial Jepang ini dibintangi Kimutaku (Takuya Kimura, pen). Ceritanya tentang seorang guru SD yang dengan sejumlah coincidences (walo kesannya dipaksakan tapi cukup masuk akal juga)bertransformasi menjadi perdana menteri Jepang!

Sebenarnya serial ini membawa misi propaganda yang cukup halus mengenai pendidikan berdemokrasi. Memberi gambaran mengenai dunia politik yang penuh dengan trik, backstabbing, kecurangan wakil rakyat, namun menggambarkan juga harapan besar bahwa ketika orang-orang baik bergerak di dalamnya, rakyat masih bisa berharap untuk pemerintahan dan kehidupan yang lebih baik.

Dari sisi lain, filmmaker-nya pun terkesan cukup menjaga konsistensi inti cerita dan lumayan pintar meramu kisah-kisah menarik dari keseharian dunia politik yang bagi sebagian orang mungkin menjemukan tanpa banyak menyelipkan adegan bernuansa romantisme picisan dalam ceritanya. Aku hanya menonton 7 dari 10 episode secara keseluruhan, dan dalam tujuh episode yang kutonton, kurasa cukup clean, walau terasa ada chemistry yang kuat antara sang tokoh utama dengan Miyama, sekretarisnya. Ya, membuktikan teori kawanku, seorang scriptwriter, bahwa membangun chemistry di antara dua tokoh cerita tak perlu melalui adegan-adegan fisik yang akibatnya malah ‘mengganggu’.

Ok, inti pembicaraan dari artikel ini sebenarnya tentang perjalanan politik sang tokoh utama, Asakura Keita yang diperankan Kimutaku. Seolah mimpi di siang bolong ia berubah tiba-tiba dari seorang guru yang benci politik menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Jepang. Terlepas dari kondisi bahwa pada mulanya ia diperalat, dengan menghadapi berbagai kesulitan yang menghadang akhirnya ia tumbuh dengan segera menjadi individu yang cukup matang dalam politik dan menjadi lawan yang cukup tangguh bagi lawan-lawannya. Dalam waktu yang relatif singkat sang newbie akhirnya to be. Ia yang diremehkan banyak orang, menjadi ‘seseorang’ dalam pusat perpolitikan Jepang. Populer, jujur, penuh optimisme dengan jargon “wanna give the children the future filled with hopes”.

Kali ini, kurasa bukan waktunya untuk mengkritisi praktik politik dalam serial tersebut yang jelas berbeda haluan denganku*. Akan tetapi ada renungan yang ingin kusampaikan. Antara lain adalah mengenai keberanian untuk memulai suatu pekerjaan besar dari nol, khususnya di bidang politik.

Dalam dunia politik yang seringkali digambarkan orang sebagai dunia dengan sejuta kemungkinan dan dinamika yang sangat tinggi, apapun bisa terjadi. Kebetulan, saat ini, aku tengah membaca sebuah novel sejarah-politik yang ditulis Robert Harris: Imperium, mengisahkan Cicero, negarawan Roma yang berambisi memperoleh imperiumnya dengan kondisi inisial yang tidak menjanjikan ( bukan berasal dari golongan aristokrat, tidak kaya, kurang populer, dan hanya mengandalkan kemampuan ‘suaranya’). Jika kuambil komparasi paralel antara Cicero dan Asakura, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya dari segi kondisi awal, motivasi, latar belakang politik, negara, kondisi sekutu maupun seteru politiknya, dan lain sebagainya. Sejumlah perbedaan yang jelas terjadi karena perbedaan zaman, budaya, oh, bahkan yang satu merupakan realita yang dikisahkan ulang sebegitu apik, sementara satunya lagi hanyalah fiksi yang disusun dengan baik.

Namun kisah keduanya di awal karir politik mereka, cukup menarik. Ada sejumlah ekspresi yang kugarisbawahi: kerja keras, berpikir keras, dan dukungan dari orang-orang terdekat yang memiliki satu tujuan, terakhir motivasi yang kuat. Dimulai dengan sedikitnya modal untuk meraih jabatan tertinggi sebagai konsul, Cicero memulai karier sebagai pengacara**. Ia mempersiapkan sumber daya bagi dirinya hingga tiba waktunya untuk mengumumkan pencalonannya sebagai aedilis yang pada awalnya mengundang cibiran. Sementara Asakura, mulanya terpilih karena posisinya sebagai keturunan ayahnya yang merupakan seorang politisi senior. Kadung dipilih oleh partai sebagai penerus ayahnya, ia menjadi terlibat begitu jauh dalam dunia politik yang selama ini dibencinya. Pada akhirnya dengan membawa suatu harapan besar, ia bekerja keras mendidik dirinya sendiri dalam politik dan berusaha menunaikan tugasnya dengan baik walau banyak orang yang meragukan kemampuannya.

Relevan dengan kondisi saat ini, yang ingin kugarisbawahi adalah, sebenarnya banyak orang yang memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal besar untuk dunia, untuk umat manusia. Akan tetapi ambisi dan keinginan besar itu kadangkala punah dalam dunia yang tidak begitu ramah. Begitu banyak kutemui orang-orang di kampus yang memiliki kepedulian cukup terhadap masyarakat namun tak memberi kesempatan pada dirinya untuk menjadi seorang newbie yang cukup belajar hingga to be. Hanya berapa langkah, dan kembali menemui tembok tebal berulangkali lalu menyerah kalah.

Terkadang tak bisa disalahkan juga, gelombang penolakan maupun kesan merendahkan yang diterima memang bukan sesuatu yang mudah. Akan tetapi, memang dibutuhkan strategi bukan hanya untuk menghadapinya tapi untuk mencegahnya. Banyak sekali ambisi besar yang diucapkan terlalu dini, saat setiap orang tidak melihat sedikitpun kemungkinan mimpi tersebut menjadi realitas di masa datang. Jika hambatan tadi tidak akan mematikan, alih-alih menjadi pelecut yang kuat untuk terus maju, kurasa tak ada salahnya menjadi bulan-bulanan cemoohan di awal. Namun bila telah mengukur diri dan kiranya tak sekuat itu, strategi perlu dibangun untuk meraih dukungan. Sebaiknya dibuat kondisi-kondisi awal yang cukup mendukung, sehingga pada saat yang tepat nanti, ketika ambisi diikrarkan, semua orang tak lagi melihat kecuali realitas yang nyaris terhampar di depan mata. Begitulah, orang-orang kuat akan selalu mendapat jalan untuk mendapatkan keinginannya, apalagi jika motivasinya pure untuk kebaikan manusia. Apalagi jika ia hanya berharap pada rahmat TuhanNya saja, bukan hanya kekuatan manusia, tapi uluran kasih sang Pencipta akan memudahkan jalannya. Well, selamat bermimpi, berambisi, dan mulailah walau sebagai newbie, waktulah yang akan memberi kesempatan untuk MENJADI.

*( FYI, aku seorang antidemokrasi :), mengenai hal ini baiknya dibahas dalam tulisan terpisah, kapan-kapan)
**review mengenai Imperium pun sepertinya akan kutulis sendiri, tak lama setelah ujianku selesai semester ini

Advertisements

4 thoughts on “newbie or not to be

  1. hmmmm….
    dicari politisi dengan harapan besar seperti asakura keita…

    “wanna give the children the future filled with hopes”

  2. @ saha we: saha nya?? harapan besar aja gak cukup. sangat-sangat gak cukup…
    @surani: UAS??? apa ya?? baru libur sur? selamat..
    sabtu ini, aku baru secara resmi mengakhiri liburanku, hoho…

  3. malam ini, jadwal gak tidur, dan emang gak bisa lagi :p
    lantas nonton CHANGE (lagi), entah untuk keberapa kalinya–‘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s