filosofi pendidikan islam

Idealnya, ketika seseorang memulai untuk melakukan sesuatu, ia sudah mengerti alasan kuat mengapa ia ‘harus’ atau minimal perlu melakukan hal tersebut. Saat proses memahami maksud dan menentukan tujuan tadi tidak dihiraukan, yang selanjutnya terjadi adalah proses pengkonsumsian waktu yang nirmakna. Mungkin saja bukannya tidak berguna, akan tetapi esensi yang semestinya dinikmati dan menjadi motivasi kala lelah, terhablur begitu saja.

Tak usah jauh-jauh, kebanyakan dari kita mungkin saja melalui kondisi tersebut. Hitunglah, berapa tahun kita belajar, bersekolah? Enam tahun di SD, tiga tahun di SMP, tiga tahun lagi di SMA, ditambah empat tahun di perguruan tinggi, atau mungkin lebih (sepertiku J), lebih ‘sial’ lagi bagi mereka yang sempat menghabiskan satu atau dua tahun di Taman Kanak-kanak (sepertiku juga J). Jadi, jika diambil pendidikan dasar sebagai standar minimal, paling tidak sembilan tahun kita habiskan waktu sebagai siswa, lebih dari itu, katakanlah 19 tahun dari TK hingga PT, seseorang berjuluk siswa. Sama sekali bukan waktu yang sebentar. Bayangkan jika waktu selama itu diisi oleh pendidikan dengan landasan jelas dan benar melalui proses dan pemaknaan yang tepat, kaderisasi dalam waktu sepanjang itu! Manusia macam apa yang akan lahir dari rahim pendidikan seperti itu?

Sayang sekali, di dunia para manusia ini, yang katanya memiliki kemuliaan lebih dibanding makhluk Tuhan lainnya, perfection is an utopia. Such an agony. Pendidikan bertahun-tahun menghasilkan mayoritas generasi yang bahkan kurang kreatif dalam mencipta skenario kehidupannya (mayoritas manusia cukup puas dengan proses linear lahir-sekolah-kerja-nikah-punya anak-mati tanpa nilai plus yang dia beri pada kehidupan umat manusia secara signifikan). Generasi yang memahami moral sebagai kisah indah yang hanya dijumpai dalam dongeng, kisah para nabi, dan ujian kewarganegaraan, menerima sains sebagai rumusan diagram dan pembuktian yang menyiksa otak, atau dalam kutub berlainan (parahnya) ada yang menggunakannya sebagai senjata melawan Tuhan, bukti digdayanya sekitar 1011.neuron yang berkelindan dalam batok yang tak lebih besar dari volume bola sepak. Bukan hanya itu, banyak sekali lulusan institusi pendidikan tertinggi sekalipun yang gagal menjadi manusia. Lulusan doctor universitas kelas dunia yang jadinya pintar mengotak-atik angka untuk menguras uang negara. Investasi politik pada kampanye menjadi penguasa, lantas menggunakan jabatan untuk meraih laba, tak jauh beda denagn kelakuan para gubernur Romawi penghisap darah masyarakat provinsi di Italia berabad silam. Ada guru ngaji yang tega mencabuli muridnya, siswa SD pencandu narkoba, pengajar yang melakukan praktik kekerasan. Potret pendidikan yang sungguh memalukan dan memilukan.

Begitu banyak permasalahan pendidikan yang cukup melelahkan kita dalam menyusun daftarnya, hingga kita tersungkur lemas, mengurut dada dan bertanya, darimana semua bermula. Jika kucoba untuk menelusuri ulang, baiknya kumulai merumuskan masalah ini dari penentuan tujuan. Hal tersebut adalah hal penting yang tak dapat ditawar.

Rosseau berpendapat bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan secara bebas dan berkecenderungan untuk mengembangkan kebebasannya, menyelenggarakan kehidupan berdasarkan kepentingannya sendiri, maka menurutnya, pendidikan dimulai dari keluarga sangat penting untuk menyadarkana posisinya sebagai warga dari republik agar mampu hidup berdampingan dan berbagi serta menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Maka pendidikan adalah upaya sistematis untuk mengekang sifat dasar manusia sebagaimana ungkapan Hobbes homo homini lupus, dengan menggunakan negara sebagai sang Leviathan, iblis besar yang mengekang kebebasan serigala-serigala kecil itu (yakni manusia/ warga negara) baik dengan hukum sebagai instrumen utama juga pendidikan yang memberi pencerahan dan kesadaran

Masalahnya, penetuan tujuan berpijak pada landasan ideologi yang berbeda-beda. Kaidah universal yang berupaya mengakomodasi seluruh kepentingan cenderung bias dan sulit diturunkan bentuk implementasinya yang konsisten pada nilai tertentu. Dengan demikian, biarlah kumulai dengan menggunakan paradigmaku sebagai Muslim. Pada intinya, tujuan pendidikan bagiku adalah untuk mengembalikan manusia pada tujuan penciptaannya. Bagaimana mempersiapkan manusia agar siap mengemban tugas sesuai tujuan ia diciptakan.

Adapun Islam memandang setiap manusia/ setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, implikasinya tentu akan lebih mudah mendidik manusia untuk menapaki jalan yang benar (sesuai dengan fitrahnya, yakni Islam) ketimbang sebaliknya.. Jika diturunkan dari hakikat penciptaan manusia yang digariskan dalam Islam, akan kumulai dari ayat pertama, adzDzariat ayat 56:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Tujuan penciptaan manusia di muka bumi adalah ibadah pada sang Pencipta, menempatkan manusia pada posisi tertinggi yaitu sebagai makhluk yang tidak memperhambakan diri selain kepada-Nya, sang Pencipta itu sendiri. Tidak ada penghambaan manusia pada manusia lain maupun makhluk lainnya. Seyogyanya manusia pun tidak diperhamba oleh hawa nafsunya sendiri dan mampu mengendalikan diri untuk konsentrasi berjalan di muka bumi ini hanya dengan mengikuti aturan dan ukuran yang telah digariskan sang Pencipta saja, yaitu hukum Syara’. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa Allah menciptakan mereka (jin dan manusia) sehingga mereka beribadah padaNya. Barangsiapa yang taat pada Allah akan diberi pahala sebaik-baiknya, dan siapapun yang ingkar, baginya hukuman terberat. Sementara ketaatan terhadap Allah adalah totalitas melaksanakan seluruh aturannya dalam kehidupan sebagaimana yang telah diturunkan pada RasulNya.

Manusia pun diciptakan di bumi untuk menjadi pemimpin/khalifah. Dalam Al-Baqarah 30, Allah berfirman:

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Jadi, tersirat bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi pada Allah dan menjadi pemimpin di muka bumi. Untuk apa? Untuk menjalankan seluruh aturan Allah yang diturunkan oleh Allah melalui Rasulullah Muhammad saw, yang tiada lain sebagai rahmat bagi sekalian alam. Aturan itu begitu komprehensif dan fundamental, merupakan aturan sempurna yang diciptakan untuk menghadirkan keteraturan di bumi yang kemudian melahirkan kondisi rahmatan lil’alamin.

Pendidikan, memiliki fungsi untuk mewujudkan kondisi tersebut. Menyiapkan setiap individual menjadi manusia utuh yang siap mengemban amanah ‘khalifah’ di muka bumi ini. Perlu ditanamkan keimanan dan ketaqwaannya, ditumbuhkan karakter kepemimpinannya, serta kemampuan untuk mengeksplorasi alam semesta ini sesuai dengan kehendak-Nya, sehingga yang dihadirkan bukan kerusakan di muka bumi, namun benar-benar rahmatan lil ‘alamin.

p.s.: masih ada ‘yang loncat-loncat’ dalam tulisan ini…hmmm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s