jasmerah, katanya…

Ungkapan sederhana yang sering diulang ini sebenarnya memiliki makna luar biasa. Terutama bagi mereka yang hendak membangun dan mengembangkan peradaban. Perlu diketahui, sejarah bisa berubah di setiap zaman, namun pelakunya tetap sama: manusia. Manusia yang sama dengan kita saat inilah yang dulu menemukan cara bertani, menaklukkan negeri-negeri, membangun kuil-kuil, membangun benteng dan berperang, melukai dan melakukan pengobatan, menamai bintang-bintang, juga menciptakan berbagai warisan kuliner yang pada zaman ini masih terasa lezat di lidah kita.

Akan tetapi, tentunya ada cara yang berbeda dalam memaknai sejarah agar ia tak tinggal sebagai dongeng, nostalgia, dan romantisme masa lalu semata. Deretan tanggal, nama tempat, orang-orang hebat atau penjahat serta kisah luar biasa yang merangkainya, harus disusun sedemikian rupa sehingga memiliki makna lebih. Ingat, pelakunya masih sama, manusia. Yang memiliki potensi sama di zaman apapun: dari sifat-sifat biologis dasar seperti makan dan minum, juga ingin memiliki atau berkuasa, hingga kapasitas berpikir. Dengan demikian kita dapat saja menemukan suatu pola yang mungkin berulang sebagai akibat dari terbatasnya potensi manusia.

Kalau pun kehidupan nampaknya linear, dalam arti sifat zaman adalah progresif dapat dijelaskan sebagai berikut. Misal, pada abad ke-16 manusia menemukan kesesuaian gerak pada alam dengan hukum-hukum Newton, sementara awal abad ke-20 merupakan zamannya mekanika kuantum dan relativitas umum. Namun bukan berarti Planck, Schrodinger, Einstein, dkk. jauh lebih hebat dari Newton,akan tetapi informasi awal yang mereka dapatkan pada masanya tentu jauh lebih banyak dari Newton dan ilmuwan lain di zamannya. Itulah yang disebut dengan kebenaran akumulatif sebagai sifat yang melekat pada sains. Andaikan level revolusioner sains dapat diukur, mungkin dampak revolusinya sama, tapi yang satu menginjak papan start-nya jauh di depan dalam skala waktu dibandingkan dengan pendahulunya.

Adapun pada aspek sosial, keberulangan pola ini akan lebih mudah terlihat. Dibanding proses sains yang sifat linearnya begitu jelas, pola kehidupan manusia dalam aspek sosial cenderung berulang, hanya dibedakan oleh sarana mutakhir pada setiap zamannya. Mungkin realitas ini yang menginspirasi Marx bahwasanya perubahan teknik produksi-lah yang menentukan sistem ekonomi sehingga akan mengubah pula sistem kehidupan lainnya, sebagaimana ia uraikan dalam The German Ideology. Pandangan Marx tentu terlalu gegabah, walaupun sepintas nampak tak salah. Kenyataannya, manusialah yang menciptakan sarana, termasuk alat produksi, sehingga dinamisnya sistem kehidupan tak dapat dinisbahkan begitu saja pada benda-benda, pada materi, sebagaimana asas materialisme yang mendasari pemikiran Marx.

Tulisan ini takkan mengkritisi pemikiran Marx lebih lanjut, kita kembali pada pembahasan pola-pola sejarah manusia. Aspek-aspek perulangan tadi, ada yang berlaku sebagai hukum sosial yang umum maupun hanya memberikan kecenderungan arah peristiwa yang sifatnya opsional di zaman yang berbeda, terkait situasi dan kondisi ruangwaktunya. Ibnu Khaldun menulis dalam Mukaddimah-nya bahwa sejarah bangsa-bangsa akan memiliki masa puncak sebelum kemudian akan menemui saat-saat antiklimaksnya. Fenomena ini terjadi, namun sebab-sebab maupun pemicunya bersifat khas pada masing-masing peradaban.

Adapun pola-pola yang menjadi alternatif kecenderungan arah peristiwa, kenyataannya sangat berguna dalam memprediksi aksi-aksi politik hingga tindakan kriminal. Banyak aksi kriminal yang digagalkan atau dibongkar karena memiliki modus yang sama dengan kriminalitas yang pernah dilakukan sebelumnya. Dalam kisah fiktif pun digambarkan bahwa detektif Sherlock Holmes seringkali begitu mudah menganalisis suatu kasus dengan penguasaannya terhadap kasus-kasus silam.

Dalam dunia politik, tindakan suatu bangsa dalam hubungannya dengan negara lain dapat dirumuskan dan dipetakan sesuai dengan ideologi yang dianutnya, dan sejarah mengafirmasi hal tersebut. Sebagai contoh, tingkah-tingkah politisi zaman demokrasi ini pun lebih kurang tak jauh berbeda dengan aksi para senator dan politisi pada umumnya dalam pelaksanaan sistem demokrasi di Romawi dulu. Sejumlah uang, ditambah popularitas, dan kampanye yang meyakinkan merupakan syarat mutlak meraih kursi magistratus di berbagai wilayah propinsi Italia pada zaman itu maupun kepala-kepala daerah kita saat ini. Bahkan Molon, guru oratoria Cicero—salah satu negarawan Romawi—berkata,”Penyampaian, penyampaian! Aku tak peduli pada apa yang kau katakan.” Nyatanya, prinsip tersebut masih populer pada zaman ini. Masih banyak masyarakat yang membiarkan dirinya terpikat pada ucapan-ucapan jurkam, yang sebenarnya diulang-ulang pada setiap kampanye oleh nyaris semua partai politik yang berlaga dalam pemilu. Jika masyarakat masih bertindak seperti ini, layakkah berharap akan datangnya perubahan kehidupan yang lebih baik?

Jelaslah bahwa untuk menguasai pola-pola sejarah tadi—yang yang sejak awal abad ke-12 diperkenalkan oleh Ibnu Khaldun dan disebut sebagai filsafat sejarah kini—sangat penting bagi para agent of change. Sejarah telah menyajikan sejumlah kisah revolusi pemikiran yang damai hingga yang berlumur darah. Kasarnya, bisa kita pilih untuk mengulang prosesnya dan disesuaikan dengan sarana yang ada kini. Bagi para aktivis Muslim inilah urgensinya mengkaji sirah Nabi Muhammad dari tinjauan spiritual maupun politis bila ingin membangun kembali peradaban Islam yang agung, bukan sekedar dibaca untuk dikagumi saja.

Beruntunglah kita hidup di zaman ini, ketika sudah sangat banyak manusia di belakang kita yang menunjukkan jalan keberhasilan dan kegagalan. Penghujung tahun ini, ramai-ramainya orang mengenang perjalanan setahun silam, menyusun kaleidoskop dan melakukan kilas balik. Betapa sayang jika kenangan tinggal kenangan, sejarah hanya catatan atau hapalan. Betapa rugi jika kita tidak juga mengambil pelajaran berharga dari proses kehidupan manusia-manusia sebelum kita untuk selalu melakukan perbaikan dalam kehidupan umat manusia, alih-alih menderaskan aliran menuju kehancurannya. Maka seperti Soekarno katakan, Jasmerah! jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tidak hanya itu, ada satu akronim lagi: ‘marah’, maknailah sejarah, he2

Advertisements

4 thoughts on “jasmerah, katanya…

  1. heran, kok gd yang ngomen yah? kupikir bahasannya seru… filsafat sejarah gitu…ckckck…payah kali penulisnya,hehe

  2. emg judulnya sangat tipikal, pembahasannya jg kurang dlm sih, cuma pgn nulis stlh bc imperium. mau bikin resensi serius, tapi gak sempat, jadinya begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s