kontemplasi gerakan mahasiswa

Gerakan mahasiswa belakangan ini tidak lagi memancarkan harapan perubahan bagi masyarakat. Mahasiswa seringkali muncul hanya sebagai sekelompok anak muda yang memiliki semangat besar tanpa visi yang jelas. Turun ke jalan dengan tuntutan yang kadang tak dipahami maksudnya. Beberapa kejadian anarkis makin membuat masyarakat kecewa dan curiga bahwa sebenarnya mereka tidak bergerak sendiri. Pada level tertentu, bahkan masyarakat merasa terancam keamanannya.

Lucunya, pergeseran image seperti itu muncul karena justru muncul karena tingkah laku mahasiswa sendiri yang beberapa kali kelewat batas dan tidak memperhatikan lagi norma-norma intelektualitas yang sepatutnya mereka junjung. Sebagai contoh adalah kasus mahasiswa yang merusak beberapa fasilitas di gedung rektorat kala mereka menuntut dibangunnya laboratorium di fakultas mereka. Sungguh tindakan yang absurd dan irasional. Bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan fasilitas baru dengan menghancurkan fasilitas yang sudah ada? Bukankah justru akan menambah beban pihak kampus? Apa bedanya dengan anak kecil yang mengamuk dan membanting piring saat tak dibelikan mainan oleh orangtuanya?

Sejumlah mahasiswa lain tak dapat memberi alasan yang jelas di balik sikap mereka kala mengkritik kebijakan. Sepintas, jadinya tak mengherankan bagi kita saat ini mengapa terjadi fenomena ‘melemahnya’ kekuatan mahasiswa di tengah-tengah masyarakat. Ini merupakan tantangan besar yang layak mendapatkan perhatian yang proporsional.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, perubahan senantiasa datang dari tangan-tangan muda. Namun tidak sembarang usia muda. Muda di sini memiliki asosiasi progresif, nonkonvensional,dinamis, cerdas,penuh inisiatif, dan berani berinovasi. Sayang sekali, semangat muda ini kini mengalami pendangkalan. Mengapa ‘kaum tua’ pada akhirnya cenderung meremehkan juniornya? Karena yang tampak adalah ”emosi di muka, pikiran kritis belakangan”. Maju dulu, turun dulu, kobarkan semangat dulu, baru pikirkan content. Aksi dulu, orasi dulu, press release dulu, baru kajian mendalam. Hal-hal seperti ini yang akhirnya nampak sebagai kekurangmatangan dan kurang seriusnya mahasiswa dalam memikirkan masalah rakyat.

Sesuatu yang kuingat, dulu ketika kelas satu SMP, aku cukup heran melihat aksi-aksi mahasiswa yang begitu emosional di jalanan menyerukan reformasi. Satu atau dua tahun lalu ketika kutemukan buku harianku waktu itu, tercatat pertanyaanku, lantas setelah ini apa? Tak pernah kudengar di berita-berita yang kuikuti, solusi gamblang pascareformasi yang mereka tawarkan, sekalipun aku cukup tersentuh dengan kegigihan kakak-kakak itu dan berdoa semoga yang mereka lakukan tidak sia-sia, mengingat pengorbanannya yang begitu besar. Namun, belakangan nampaklah ekor reformasi negara ini. Perubahan yang digembor-gemborkan kala itu ternyata hanya mengubah tema mimpi buruk. Sebagian aktivis masa itu—tanpa mengurangi rasa hormat pada yang masih memegang teguh idealismenya—bahkan kini menjadi bagian dari elit yang dulu mereka caci maki, dan giliran mereka yang kini dicaci maki mahasiswa generasi ini.

Mungkin bukan keinginan mereka untuk memiliki idealitas yang kurang bergigi, juga bukan keinginannya ketika proposal solusi yang disusun kurang sempurna, begitu pula kala pandangan politiknya masih kurang jeli. Pemuda-pemuda zaman ini pada umumnya adalah mereka yang hidup dalam dunia instan, kehilangan kesempatan mencerap makna, kesulitan menemukan jatidiri di tengah budaya pop, hanya punya wak tu terbatas untuk berkontemplasi menyelami kehidupan, juga menghadapi langkanya teladan, di tengah semrawut dan ketidak-jelasan ideology bangsanya. Tak heran, terbentuk dalam situasi demikian, lahirlah mayoritas pemuda yang masih kurang dewasa pada usianya, padahal tanggung jawab sudah tercangklong di bahu-bahu mereka,menambah beban tas sekolah yang masih mereka sandang.

Walau demikian, selalu ada segelintir jiwa muda yang masih memiliki pijakan ideologis yang kuat untuk menjadi lokomotif perubahan. Mereka inilah yang seharusnya maju dan menjadi inisiator dalam penyehatan gerakan dewasa ini, bukan semata demi memperbaiki gerakan tadi beserta citranya, namun demi tujuan progresif dalam mewujudkan peradaban yang lebih baik di bumi manusia.

Advertisements

5 thoughts on “kontemplasi gerakan mahasiswa

  1. u know?

    lelah rasanya melihat pemuda skeptis, pragmatis…
    tapi lebih lelah lagi melihat pemuda kritis-pragmatis…
    yg mendahulukan otot daripada otak
    atau bahkan mendewakan otak di atas segalanya…

    pusing!

  2. i think your write is ‘missing’ that something important.

    kondisi pemuda saat ini bagi saya adalah efek dari sebuah ‘grand design’ pembodohan ala kapitalisme….i think we can’t blame the all thing to ‘pemuda’, they (include my self) are also the victim.

    I think we must encourage them (include my self), that they have a potential to become an agent of change….encourage to think critically, what the capitalism bring to us, and how to make this world better with islamic system.

  3. ‘membela diri mode on’ ^^

    memang gak menyalahkan para pemudanya juga (including me, saya juga merasa masih muda,he3)
    mulai paragraf kedua terakhir ditunjukkan kondisi mengapa muncul gerakan mahasiswa yang seperti itu pada akhirnya, tapi analisis memang belum sampai ke penyebab, mungkin dibahas di tulisan lain, kalo memaksa nulis secara komprehensif terus jadinya kepanjangan, orang-orang bacanya juga kadang malas. jadi dipecah-pecah, kontemplasi/renungan berikutnya disambung…
    yo, thanks

  4. susah memang nyari pemuda or mahsiswa kaya yg paragraf terakhir…aksi anarkis mahasiswa itu membuktikan kedangkalan intelek mrk…cuma modal semangat doank…teriak-teriak yg terdengar hanya kritik minus solusi..
    perihal mahasiswa yang merusak beberapa fasilitas di gedung rektorat kala mereka menuntut dibangunnya laboratorium di fakultas mereka..menurur sy mahasiswa ky gitu harus pake popok lagi dweh..gk jauh beda tuh ky kelakuan “orok”..
    karena gk punya visi yg gk clear..jadi dweh pragmatis..sedikit2 maen tubruk aja n mikirnya malah belakangan, idealisme yg sharusnya gk bisa dibeli bahkan dgn nyawa sekalipun eh…malah dijual murah…wajar sih coz ada faktor externalx : pembodohan terorganisir dr ide2 sekulerism..politik yg steril spiritualisme justru tdk akan pernah mengantarkan pd solusi problemtk bg masyarakat seluruhny,yg ada hanya solusi problemtka bg kantong mrk (para kapitals)..itu semuanya udah “by design”..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s