tentang belajar berbahasa

Menentukan topik dari paragraf; menentukan makna imbuhan; mengoreksi struktur surat; menyimpulkan tema suatu puisi dalam pilihan ganda, itulah antara lain aktivitas yang berulang dilakukan dalam pengajaran Bahasa Indonesia di bangku sekolah formal. Sarat teori, aturan baku dan kaidah-kaidah yang harus dihapal terkait berbahasa yang baik dan benar serta penggunaan EYD.

Akan tetapi, kaidah-kaidah tadi seolah hanya berlaku di ruang kelas dan ujian. Dalam berkomunikasi sehari-hari bahasa slank-lah yang sering digunakan. Coba lihat surat-surat resmi yang dikeluarkan instansi pemerintahan, perusahaan, bahkan kadang institusi sekolah itu sendiri, sangat banyak yang harus dikoreksi karena kesalahan tata bahasa dan logikanya. Belum lagi salah kaprah dalam penggunaan kata dan istilah karena tidak banyak orang yang merasa penting membuka kamus bahasa ibunya sendiri. Di sini mulai nampak ketidakrelevanan antara materi atau metode pengajaran bahasa indonesia (mungkin juga gabungan keduanya) di sekolah dengan kondisi dan kebutuhan komunikasi di masyarakat.

Semangat menulis, dan mempublikasikan pemikiran secara tulisan masih sangat rendah. Bahkan kegemaran membaca pun masih sangat rendah. Apalagi apresiasi terhadap karya sastra, yang terkadang dipandang menjadi kebutuhan tersier, sementara saat ini masyarakat Indonesia masih banyak bergulat dengan urusan perut dan bertahan hidup di tengah berbagai himpitan kesulitan.

Kemampuan bahasa yang kurang akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, kemampuan bersosialisasi, termasuk menangani potensi konflik sejak awal. Namun sayangnya, pembelajaran bahasa yang serius seringkali diabaikan karena menggunakan bahasa ibu seolah menjadi keterampilan dasar yang alami dan karenanya proses belajar hanyalah aspek formalitas. Di samping itu, sebagaimana telah disinggung sedikit di atas, pembelajaran bahasa seringkali hanya bertumpu pada pengajaran struktur dan aturan-aturan berbahasa yang baku, bukan berorientasi kecakapan komunikasi verbal (yang mencakup empat aspek: berbicara, menyimak, membaca, dan menulis) maupun penggunaan bahasa sebagai ketinggian produk peradaban dalam mengolah makna dan simbol dalam mengungkapkan buah pikiran, perasaan, maupun imajinasi.

Tak heran bila pelajaran bahasa menjadi membosankan bagi kebanyakan peserta didik. Bagaimana tidak? Proses pembelajaran bahasa yang semestinya disajikan secara dinamis, menarik, dan menyenangkan serta aplikatif disulap menjadi pelajaran hapalan mengenai tata bahasa, kaidah-kaidah baku yang seolah mati, dan membosankan. Karya sastra yang indah dan sarat makna tidak lagi hadir dalam kesempatan untuk diresapi dan dihayati secara mendalam untuk membangun kepekaan dan kejelian dalam memandang diri, dunia, dan kehidupan. Jadilah ia sekedar susunan kata yang tak lagi mampu menyampaikan moral dan pesan kehidupan yang terkandung di dalamnya. Bahkan mempelajari bahasa asing, yang seharusnya menjadi kesempatan yang menantang dan menarik, bahkan dapat menjadi sarana dalam membentuk kesadaran akan eksistensi entitas yang berbeda, hanya hadir untuk menambah beban belajar. Hal itu tercermin dalam proses belajar yang terdiri atas menghapal kosa kata asing, berlatih melafalkan alfabet dengan cara yang aneh, dan struktur bahasa yang berbeda tanpa jelas manfaat dan filosofinya.

Kondisi di atas mungkin saja tidak dialami oleh segelintir siswa beruntung yang mendapatkan guru yang progresif dan memiliki pemikiran yang ideal mengenai pengajaran bahasa dan mampu mengimplementasikannya. Sayangnya, memang hanya ada segelintir “lucky pupils”. Sementara itu, jika kita membicarakan sistem pengajaran, tentu tidak cukup bila hanya merujuk sebagian kecil populasi saja, sebagaimana kita tidak dapat mengklaim keberhasilan pengajaran sains dengan indikasi bertambahnya medali yang didulang pada kesempatan olimpiade internasional…(masih belum selesai)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s