Jangan Salahkan yang Terpilih Jika Anda tak Ikut Memilih

“Kamu nyontreng? Tidak? Ah, lalu sekarang protes ini-itu, siapa yang salah? Gara-gara kamu juga kan yang sekarang itu jadinya terpilih. Coba kamu ikut memilih, walaupun satu suara, itu akan sangat menentukan!” (NN)

Ungkapan lucu yang saya jadikan judul tulisan ini ditemukan dalam salah satu komentar atas note seorang kawan di facebook. Bukan yang pertama kali didengar sebenarnya. Sebelumnya ungkapan tersebut demikian seringnya mampir di telinga, sebagai tanggapan atas sikap untuk tidak menggunakan hak suara dalam sejumlah pemilu sejak pertama saya dapatkan hak tersebut.

Ada yang menarik untuk dikritisi dalam kalimat di atas. Yaitu terkait kesan yang ditimbulkan atas orang-orang yang ‘tidak memilih’ (lebih tepatnya memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya) sementara ia vokal mengkritisi kebijakan pemerintah terpilih (istilah ‘mengkritisi’ lebih tepat daripada menyalahkan, karena aktivitas menyalahkan lebih cenderung cocok digunakan untuk sikap emosional yang berdasar dari sudut pandang ‘saya benar, anda salah’/ apapun yang anda lakukan selalu salah di mata saya). Mereka ini seolah-olah pihak yang tidak bertanggung jawab. Tidak memberi kontribusi (dalam artian memberikan suaranya), namun justru melakukan aksi destruktif (dengan mengkritisi alih-alih mendukung).

Ungkapan di atas hadir akibat pemikiran yang simplistik dan mudah menggeneralisasi masalah. Istilah golongan putih disematkan pada kelompok masyarakat yang cukup massif dengan alasan yang demikian beragam. Termasuk di dalamnya adalah sejumlah orang yang apatis terhadap perubahan, agnostik dalam aspek politik, kebingungan menjatuhkan pilihan, tidak terdaftar dalam DPT, tak sempat pulang kampung, atau sekelompok kecil yang masih yakin ada pilihan lain yang jauh lebih baik dari menggunakan hak suaranya. Kelompok terakhir pun tidak homogen. Pilihan yang jauh lebih baik itu masih cukup beragam.

Saya hanya ingin membahas salah satu saja, yaitu yang saya pegang. Dalam pemahaman saya, memilih pemimpin adalah kewajiban. Akan tetapi, bagaimana bisa kita memberikan amanah kekuasaan pada seseorang yang secara pasti tidak akan memimpin sesuai dengan jalan yang dikehendaki pemilik kedaulatan? Bisa saya katakan secara pasti karena hal itu terlihat jelas dalam visi misi pemerintahannya. Baik secara implisit apalagi eksplisit tak ada satu pun yang secara jelas, terbuka, dan konsisten menyatakan komitmennya untuk menyelenggarakan pemerintahan sesuai dengan pemilik kedaulatan yakni Syari’, hanya Allah dan RasulNya. Dengan kata lain menegakkan syariat islam secara kaffah.

Sampai saat ini saya masih memahami inti permasalahan umat saat ini adalah karena manusia sebagai produk ciptaan Tuhan yang paling sempurna masih saja menolak untuk mengoperasikan dirinya sesuai dengan handbook manual yang dikeluarkan mengiringi penciptaannya. Ketika terjadi malfunction di mana-mana, itu hal yang wajar terjadi menurut saya. Sama halnya ketika saya mengoprek hp saya tanpa menengok lagi perlakuan apa yang paling cocok untuk mengatasi kerusakannya. Tanpa berkonsultasi ke distributor atau pusat service, saya coba memperbaiki sendiri, mencoba mengecek kondisi MMC, saya malah memutus kabel microphonnya, tanpa sengaja. HP yang tadinya hanya kesulitan menampilkan data dalam card eksternal, kemudian tak bisa digunakan menelpon. Belum kapok juga, lalu disolder, dan tamatlah riwayat si clipper, hp saya itu.

Itu hanya sekedar ilustrasi untuk orang-orang yang sok tahu bisa menyelesaikan masalah seperti saya. Jangan tanya niat, tentu niatnya baik. Mana ada kesengajaan untuk merusak hp yang belum sanggup dibeli sendiri? Namun ketidakmampuan adalah hal lain yang harus diakui. Dan hal itu sudah terbukti. Manusia manapun takkan ada yang sanggup untuk mengetahui hal-hal yang terbaik bagi semua orang. Untuk dunianya saat ini dan nanti. Bagaimanapun pengetahuannya akan segala sesuatu sangat terbatas. Untuk hal-hal empiris saja masih banyak yang perlu dibuktikan, apalagi terkait nilai, yang bila ditentukan oleh manusia selalu bersifat nisbi. Sementara Allah telah memberi pedoman dalam kitab suci, telah menunjukkan jalan melalui RasulNya. Ibaratnya, teori sudah jelas, contoh pengerjaan soal pun sudah ada. Ah, jangan-jangan saya pun terjebak simplifikasi di sini? Tidak juga rasanya, pandangan sederhana berbeda dengan sembarang menyederhanakan.

Dengan demikian, tidak berpartisipasi dalam bentuk memberikan hak suara pada pemilu baik legislatif maupun eksekutif pada dasarnya adalah bentuk konsistensi atas sikap dan idealisme yang saya pilih. Saya menolak apapun dan siapapun yang menegakkan kekuasaan tapi mengabaikan kedaulatan Allah dan RasulNya dalam pembuatan dan pelaksanaan hukum. Baik pada proses pemilihannya, maupun pada saat eksekusi kekuasaannya. Terkadang, pada poin ini muncul serangan pada pribadi. Memangnya siapa kamu yang bicara syari’ah begini begitu, padahal ilmu agamamu tak seberapa, ibadahmu sehebat apa, dzikirmu sepanjang apa, sebebas apa kamu dari maksiat,dst. Ya, antara idealisme dan aktualisasi terkadang memang ada gap, namun itu tidak mengecilkan hati saya untuk terus memegang idealisme selama diyakini benar, asalkan upaya terus dilakukan agar diri ini benar-benar mencerminkan segala yang di pikiran, dari perkataan maupun perilaku. Toh, kenyataannya masih banyak juga yang berani lulus walaupun tak menguasai seluruh mata kuliah yang pernah didapat bukan? Ketika proses itu tak berhenti, berada pada jalur yang sama, menapaki eskalasi seiring waktu, tak masalah menurut saya, yang penting konsisten dan senantiasa open mind.

Saya mengajak anda untuk berpikir, jangan tuduh saya memaksakan pendapat kala saya menyodorkan ide dan argumennya dengan harapan anda mengikuti pemikiran saya. Kritisilah, temukan kelemahan argumen saya dan betulkan jika salah. Bagaimanapun saya tak mau tergolong ke dalam kelompok orang pandir yang berkeras diri bertahan dalam kesalahan pada saat kebenarannya sangat terang. Namun, dalam diskusi yang fair, saya pun berharap anda mengikuti pendapat saya jika kita sepakat itulah kebenaran. Howgh.

Advertisements

3 thoughts on “Jangan Salahkan yang Terpilih Jika Anda tak Ikut Memilih

  1. mudah melihat kelemahan tapi action dikit itu yg perlu diperbaiki, action banyak pun harus jelas landasannya, arah, dan tujuannya. bukan sekadar responsif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s