Aku Bayangkan Indonesia Jadi Adidaya

Tentu pemimpinnya punya wibawa
Rakyatnya mandiri dan berharga diri
Negaranya disegani dan dihormati
Tak ada yang bingung bedakan Indonesia dengan Bali

Peradabannya tinggi dan terdepan
Riset-riset fundamental berkembang dan memimpin
Jadi tren, bukan korban mode
Sumber daya dimakan rakyat bersama buat kemajuan
Bukan dijarah asing, dan kita kebagian ampasnya
Masih mending bukan cuma ceritanya

Cukong-cukong serakah tak lagi dapat tempat karena kekayaan di tangan yang tepat
Anak-anak tak lagi ingat mereka pernah busung lapar
Tak lagi teriak-teriak “kapal minta uang”
Tak harus bersaing dengan cacing-cacing di perut mereka
Bayi-bayi kita jadi lebih pintar dengan gizi terbaik
Makan ikan laut dan minum susu
Bukan hanya air tajin

Anak-anak riang pergi ke sekolah
Karena mereka bukan hendak dipasung
Mereka pergi temui guru yang dihormati setulus hati
Bukan ditakuti karena bengisnya
Mendidik dengan dedikasi, bukan ngajar aja daripada nganggur
Maka mereka belajar untuk jadi manusia
Bukan produk robotik yang kelak bakal diekspor atau dipakai sendiri

Perguruan tinggi memberi ilmu buat berdikari
Bukan jadi buruh asing
Tak perlu ingkari idealisme demi hibah dan grant
Tak ada alasan otonomi, karena negara tahu tanggung jawab dan nilai strategis

Petani semuanya tersenyum lebar, panen melimpah, lingkungan terjaga
Karena para sarjana turun ke sawah, kembangkan teknologi
Harga pun bukan permainan pasar
Makanan berbasis produksi lokal
Tak perlu impor bahan baku dari luar
Makan yang ada, olah yang tersedia
Nutrisi, harga, dan teknologi semua di tangan kita

Mau makan ikan pun gampang
Nelayan melaut dan membawa pulang ikan yang banyak
Tak perlu bersaing dengan pencuri yang menjarah isi laut
Belum sempat masuk mereka sudah berhadapan patroli laut yang gagah berani
Bahkan mungkin mereka tak berani berpikir untuk mencuri ikan kita lagi

Barang tambang kita digali untuk kita
Karena tak ada namanya transfer teknologi, yang ada barter harta dan limbah
Mereka dapat hartanya, limbahnya berlimpah di kita
Anak-anak diajari akuntansi bukan untuk menghitung harta mereka
Tapi mengkalkulasi kekayaan sendiri

Kesenian tumbuh dalam peradaban tinggi
Tanpa pornografi dan merendahkan diri
Karya-karya mengalir jadi warisan besar
Bukan tumpukan imitasi

Tak ada juga konflik lingkungan dan ekonomi
Karena para pembesar tahu benar apa arti keberlanjutan
Bukan seperti propaganda yang beredar sekarang
Tapi sebagai amanah dari Tuhan

Militer pun tak perlu gigit jari, karena pesawat dan senjata mereka kalah canggih dengan film-film
Bukan jumlah terbatas yang untuk membela diri pun tak cukup
Lantas terbuai dengan kesaktian bambu runcing

Tak lagi tunduk pada hukum internasional yang menipu
Maupun lintah darat global
Penghisap darah paling dihormati para pembesar dungu
Tak ada lagi konfrontasi dengan tetangga, karena mereka saudara
Bahkan mungkin mereka lenyap seperti aku, yang ada kami bersama

Masih banyak yang belum dibayangkan
Tapi marilah mulai bekerja, sajak biar membuka, sisanya bagian kita
Perancang peradaban, arsitek adidaya
Biar tak cuma jadi jargon, catatan si pengkhayal, dituding romantisme belaka, hahaha

Advertisements

4 thoughts on “Aku Bayangkan Indonesia Jadi Adidaya

  1. suka-suka…
    emang kenapa? belakangan romantis itu dicitrakan nyaris seperti najis

    oya, romantis ama romantisme beda sangat

  2. baru baca..
    haha.. kamana wae atuh urang teh.. :p

    like this lah teh!! 😀

    emang bedanya romantis ama romantisme apaan?? :-/

  3. Maafkan opini dissenting saya, tetapi saya skeptical Indonesia akan jadi adi daya. Ada banyak alasan kenapa susah bagi Endonesa untuk jadi adi daya.

    Untuk sebuah negara agar menjadi adi daya, dibutuhkan homogenitas. Artinya, negara itu harus punya ras yang sama, bahasa yang sama. Baru dia bisa jadi adi daya.

    Kenapa begitu? Karena dengan kesamaan itu, maka lebih mudah untuk menyatukan visi. Lebih mudah untuk bekerja sama. Orang akan memiliki perasaan bangga terhadap negerinya dan bangsanya dan memandang rendah negeri dan bangsa lain. Itu bahan bakar untuk melaju.

    Anda lihat, semua proyek heterogen itu jatuh hancur berkeping-keping. Yugoslavia. Uni Sovyet. Indonesia adalah exception.

    Amerika dan Australia yg mengaku melting pot, itu barusan aja jadi melting pot. Sebelumnya mereka homogen sekali. Motor kemajuan adalah ras kulit putih.

    Korea demikian pula. Homogen sekali, makanya cepat maju. Demikian pula Jepang. Dan semua negara-negara Eropa. Kebanyakan negara di Eropa kecil-kecil, karena mereka paham konsep ini. Kemajuan lebih mudah dicapai bila komposisinya homogen. Itu sebabnya mereka semua kecil-kecil negerinya.

    Indonesia ini terlalu majemuk. Terlalu heterogen. Susah menyatukan visi membangun negeri. Adanya berantem mulu. Anda lihat, Anda baca sejarah, sejak jaman mulai merdeka sampai sekarang, isinya di parlemen tu ribuuuut mulu. Ya kan? Jangankan mau mulai mikir membangun, mereka mah mikirnya gimana menjatuhkan lawan politiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s