Dan Kita Masih Saja Belum Merdeka

Walau bendera dikibar-kibarkan lagi dan merah putih ada di mana-mana
Masih saja bule-bule seperti tuan kita
Masih saja yang dari Barat itu baik buat kita
Masih saja tak percaya kalau kita bisa mandiri
Tanpa bantuan, tanpa ahli-ahli yang gajinya berlipat karena mereka diimpor

Segala-gala diimpor
Terigu buat mie, ahli-ahli peneliti
Komponen elektronika, kedelai buat tempe kita
Bahkan beras dan gula, yang petaninya masih berlimpah
Air minum juga, diimpor supaya lebih gaya
Biar harganya tak masuk akal
Tapi wajar kan, dari mata air pegunungan di Swiss lho…

Supaya dianggap ramah, tetap saja mau merunduk-runduk, bersujud-sujud
Katanya sih menghormati tamu
Tapi mungkin yang datang adalah majikan besar
Dan namanya abdi, hamba, pribumi, ya di bawah tempatnya
Inferioritas semakin akut

Pembajakan intelektual dianggap kerjasama ilmiah
Entah mengerjakan apa, yang penting penelitian di luar negeri
Program sandwich, hotdog, apalah namanya
Paten-paten mereka menyerang kekayaan kita
Jangan-jangan mau buat jamu pun kelak harus izin ke jepang

Agenda politik luar negeri pun tak bisa lepas sendiri
Karena negara berkembang tak ada urusan dengan luar negeri kecuali minta bantuan dan perlindungan
Dibilang ada anaknya jadi teroris, dibunuh sendiri tak kenal ampun
Sembari malu-malu minta maaf tak berhasil jaga anak sendiri
Walah, negara yang tak punya harga diri masih menganggap diri negara besar
Beri bantuan pada adidaya katanya, padahal posisinya tak lebih dari babu
Ah, babu saja masih terhormat, budak barangkali

Sekolah-sekolah dibikin berlabel internasional
Lebih hebat karena berbahasa Inggris katanya
Sekalipun sekadar hello, good morning sudah dianggap kemajuan
Yang jelas maju tentu bayarannya
Sekarang ada LCD, perangkat komputer, multimedia canggih, kelas pun diberi teralis, supaya aman
Eh, semakin kentara saja sekolah bagai penjara

Film nasional bangkit katanya, tapi masih saja resepnya Hollywood
Sementara sinetron ala Bollywood
Bahkan sinetron reliji cuma bertahan di bungkus
Gagal menggali makna

Menjadi diri sendiri semakin dangkal dimaknai
Menang lomba bakiak atau berkostum nasional jadi penanda cinta bangsa
Juga hadiah yang bergelantungan di ujung batang pinang, tak banyak yang made in Indonesia
Badan masih berlurik-kebaya ini, biar kepala ber-liberte
Padahal idenya belum tentu sehat, filsafat asing diambil saja

Menjadi merdeka bukan berarti isolasi
Menutup diri bukan mandiri
Tapi bersosialisasi juga bukan rendah diri
Interaksi bukan menggadai harga diri
Andai masih dimiliki

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s