To Kill a Mockingbird

Aku jelas akan memasukkan To Kill a Mockingbird ke dalam deretan novel favoritku. Ditulis dengan sangat apik dan konsisten oleh penulisnya, pada mulanya tidak terlalu menggoda untuk dibaca. Jujur, perlu sedikit untuk memaksakan diri membacanya di bagian-bagian awal. Sedikit bertele-tele, namun sejak memasuki bagian tengah dan akhirnya, baru terasa semua detail di bagian awal itu dibutuhkan. Entahlah, apa karena faktor terjemahan, atau memang gaya Harper Lee dalam novel pertamanya ini memang demikian. Rasanya seperti mendaki bukit yang cukup melelahkan di awalnya, kau ingin berbalik saja dan pulang, namun merasa tanggung sembari berharap perjalanan ini akan menyenangkan. Harapanmu tak sia-sia, menjelang puncak kau mulai bisa melihat keindahan pemandangannya, lantas ketika tiba di puncak kau begitu terkesan sehingga kelelahan itu tak begitu terasa, begitu waktunya menuruni bukit kau menjalaninya begitu enteng. Hal yang agak mirip kurasakan saat membaca Les Miserables, namun tentu saja novel Hugo yang satu itu lebih melelahkan awalnya serta lebih indah. Saat menemukan titik keindahannya, kau terperangkap untuk terus membaca hingga selesai, tak peduli meskipun ada beratus-ratus halaman lagi yang masih harus dijejak.

Kita kembali lagi pada Harper Lee. Mengenai konsistensi yang sempat kusinggung, hal itu menyifati gaya Lee yang menggunakan sudut pandang Scout, seorang anak perempuan berusia delapan tahun sebagai tokoh utama dan narator dalam cerita ini. Dari sisi logika, sudut pandang, semuanya masuk akal dan konsisten untuk usia delapan tahun, meski yang disorot adalah realitas sosial di Maycomb County, Alabama. Tipikal permasalahan orang dewasa semacam rasisme, perkosaan, penegakkan keadilan, dan isu seputar sampah masyarakat yang dikemas menarik.

Racialism Injustice

Latar belakang isu rasial dan interaksi antarwarga di Maycomb County begitu terasa dalam novel ini dengan karakter tokoh-tokohnya yang begitu kuat. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1960, Lee menuliskannya dengan setting Alabama menggunakan latar belakang masa kecilnya sekitar tahun 1936 ketika ia masih berusia 10 tahun. Tak heran bila isu yang berkembang pada masa itu di Alabama, terutama kasus Scottsboro sangat kental mewarnai situasi novel ini.Kasus yang sangat populer terkait rasialisme, dan menjadi catatan kelam dalam sejarah hukum Amerika. Bahkan kisah pengadilan Tom Robinson dalam kisah ini, mirip dengan kasus Haywood Patterson, salah satu dari Scottsboro Boys.

Bagi sebagian orang, novel ini merupakan ungkapan kegelisahan atas ketidakadilan berdasarkan warna kulit yang masih saja mendera Amerika pada abad ke-20. Uniknya penggunaan sudut pandang seorang gadis cilik alih-alih aktivis kemanusiaan, pejuang HAM, atau mahasiswa misalnya memberikan nilai lebih dan menjadi kekuatan penyampaian pesan dalam cerita. Anak kecil menjadi simbol kemurnian nurani yang mudah terusik melihat ketidakadilan bila dibandingkan dengan orang dewasa dengan pemikiran tertentu dan haluan politiknya. Cerdasnya Lee, ia pun mampu menakar penceritaan sehingga masuk akal dalam level nalar tokoh utamanya sekalipun masalahnya begitu kompleks.

Secara umum, novel peraih Pulitzer ini berpesan tentang memahami kondisi orang lain dan cara hidup yang berbeda, bagaimana menghadapi perbedaan, prasangka pada orang berbeda ras yang prinsip yang tak sama. Bahwa untuk bisa hidup bersama dalam kedamaian kita perlu empati, menerapkan prinsip kesetaraan dan keadilan untuk semua di hadapan hukum. Aku tidak bilang menyepakati semua prinsip yang disampaikan dalam novel ini, ada beberapa yang perlu diievaluasi dan dikoreksi berdasarkan standar pribadiku. Namun yang penting adalah sangat menyenangkan untuk mendengarkan orang lain berbicara, menyampaikan versinya, mengutarakan prinsipnya, sehingga kita bisa memahami kondisinya sebelum menyatakan persetujuan atau penolakan kita.

Kisahnya dimulai dengan uraian Scout mengenai latar belakang keluarganya, kemudian berlanjut saat ia menghabiskan musim panas menjelang tahun pertamanya pergi ke sekolah. Berbagai kejadian ia alami bersama kakaknya Jem dan Dill, kawan yang menghabiskan musim panasnya di Maycomb County. Rasa penasaran khas anak-anak terhadap kondisi tetangganya yang tertutup, hingga keputusan ayahnya untuk menjadi pembela seorang terdakwa berkulit hitam mewarnai kehidupan mereka saat itu. Scout kecil terseret dalam masalah, bermula dari sebutan pencinta nigger yang diolok-olokkan oleh banyak orang hingga ancaman yang membahayakan jiwanya juga kakaknya dari seseorang yang menyimpan dendam pada Atticus, sang ayah.

Atticus Sebagai Ayah dan Pengacara
Yang menarik lagi, khususnya bagiku, ada beberapa prinsip parenting yang kutemukan di sini. Terutama pada sosok Atticus Finch seorang pengacara sekaligus seorang ayah bagi Jem dan Scout. Bagaimana ia menegakkan prinsip hidup secara tegas pada anak-anaknya. Salah satu kutipan favoritku di bagian akhir saat ia mengatakan pada Sherrif:

…jika mereka tak mempercayaiku, mereka takkan mempercayai siapapun. Jem dan Scout tahu apa yang terjadi. Jika mereka mendengarku di kota menyampaikan kejadian yang berbeda, Heck, aku takkan memiliki mereka lagi.Aku tak bisa hidup dengan satu cara di kota dan cara lain di rumah.

Poin ini menekankan pentingnya membangun kredibilitas dengan menanamkan kejujuran dan keterbukaan terhadap anak-anak. Menghindarkan sikap-sikap munafik dan culas bahkan untuk menyelamatkan diri sendiri. Prinsip hidup dan hukum diprioritaskan selain demi ketertiban juga agar tidak menanggung beban mental pada seorang individu karena lari dari tanggung jawabnya. Atticus bahkan bersikeras untuk menyelenggarakan proses peradilan sesuai hukum formal yang berlaku untuk mempidanakan Jem yang ia duga telah membunuh untuk membela dirinya, hingga ia diyakinkan oleh sheriff bahwa yang terjadi murni kecelakaan. Dalam bagian lain adalah keberhasilan penanaman karakter obyektivitas dan empati pada anaknya. Hal ini nampak ketika Scout mengkritisi pamannya yang memarahi dia tanpa bertanya alasan perilakunya.

Paman tak adil. Paman tak adil

Yah, pertama-tama, Paman tak pernah meluangkan waktumu sejenak saja untuk memberiku kesempatan bercerita dari sisiku—Paman langsung saja menyerangku. Kalau aku dan Jem bertengkar, Atticus tak pernah hanya mendengar cerita Jem, dia mendengar ceritaku juga…

Sebagai pengacara, Lee pun menggambarkan Atticus sebagai seseorang yang memiliki kredibilitas tinggi dan kecintaan pada profesinya. Sebagai pengacara ia masih memegang idealism untuk menegakkan keadilan bagi setiap orang tanpa memandang latar belakangnya walaupun mengundang cemoohan bahkan ancaman terhadap keluarganya.

tetapi, ada satu hal di negara ini yang menunjukkan bahwa semua manusia diciptakan sederajat—ada satu lembaga kemanusiaan yang membuat seorang pengemis sederajat dengan seorang Rockefeller, seorang bebal sederajat dengan seorang Einstein, dan seorang tak berpendidikan setara dengan rector universitas mana pun. Lembaga itu, Tuan-tuan adalah pengadilan… Pengadilan kita memiliki kecacatan sebagaimana lembaga manusia manapun, tetapi di negara ini, pengadilan kita merupakan penyetara besar, dan dalam pengadilan kita, semua manusia diciptakan sederajat.

Terlepas dari realitas yang tak selalu menjamin demikian. Meskipun pada akhirnya upaya Atticus gagal, ia tidak tergilas pramatisme dengan melakukan manipulasi hukum dan setengah-setengah dalam menegakkan keadilan. Hal ini menunjukkan masih selalu ada orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi pada idealismenya sekalipun lingkungan tidak memberinya kesempatan untuk melakukan perbaikan. Ya, sebagaimana yang ia ucapkan sendiri lembaga manusia manapun pastinya memiliki kecacatan. Dalam kasus pengadilan yang menggunakan sistem juri seperti di Amerika, hal ini tentu semakin bermasalah karena hukum seringkali berada di tangan orang-orang yang belum tentu mengerti hukum, sehingga keadilan pun bagaikan perjudian.


Hampir Terlupa: Mitos Mockingbird

Satu-satunya novel Lee yang diterbitkan ini mulanya diberi judul Atticus, namun kemudian berganti menjadi To Kill a Mockingbird, lebih menarik, namun sepintas tidak memiliki hubungan dengan inti cerita. Menurut mitos, ada larangan untuk membunuh Mockingbird, karena ia hanya jenis burung yang suka bernyanyi dan tidak pernah mengganggu manusia. Jika iseng-iseng membunuh Mockingbird maka akan ada kesialan yang menimpa. Lee mencoba untuk menggunakan mockingbird ini sebagai metafor dari orang-orang berkulit hitam. Mengusik kehidupan orang lain yang tidak memiliki kesalahan apapun sekedar karena arogansi ras dan asumsi-asumsi buruk, apalagi sampai mencelakakannya akan berakibat buruk. Setiap orang akan mendapatkan hukuman dari perbuatan salahnya, cepat ataupun lambat.

Advertisements

4 thoughts on “To Kill a Mockingbird

  1. gak tahu juga tapi setahuku penjualan seri anne the green gable lebih besar, belum lagi harry potter, entah yg mana yg valid

  2. Salam kenal teh.. 🙂
    Awalnya tau buku ini karena sering bgd d sebut2 d buku lain saat tokoh ny dpt tugas baca d sekolahnya. Pas baca emank mnarik ya ternyataa.. Hehehe..

  3. salam kenal juga… iya menariknya pake banget, hehe. apalagi setelah tau latar belakang penulisnya, karya pertama udah dapet pulitzer. keren! 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s