Memahami Puisi Secara Semiotik

Bagaimana kita memaknai puisi? Dari sudut pandang semiotik sebagaimana yang dirumuskan oleh Riffaterre, hal ini setidaknya dilakukan dalam dua tahapan. Yang pertama adalah pembacaan heuristik dan dilanjutkan dengan pembacaan hermeneutik atau disebut juga retroaktif.

Pembacaan heuristik


Pembacaan heuristik merupakan pembacaan puisi berdasarkan struktur bahasanya, disandarkan pada konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Pada pembacaan ini input pembaca adalah kompetensi linguistik, termasuk asumsi bahasa bersifat referensial, kemampuannya mencermati ketidaksesuaian (incompatibility) antara kata-kata bahwa ada kata atau frasa yang tidak dapat diartikan secara literal sehingga membutuhkan pemahaman secara kiasan, dan bahwa kompetensi linguistik bukan satu-satunya faktor yang terlibat. Pada tahap pembacaan ini mimesis dipahami secara penuh.

Meskipun mirip, pembacaan heuristik pada puisi dan fiksi tidaklah sama. Dari segi struktur, fiksi tidak banyak memiliki penyimpangan dari struktur bahasa yang baku. Maka bisa juga dikatakan bahwa pembacaan heuristik fiksi adalah pembacaan ‘tata bahasa’ ceritanya. Dimulai dari awal hingga akhir ceritanya, apakah alurnya maju atau berupa sorot balik, masih tetap bisa dibaca secara linear (maju). Pembacaan seperti ini akan lebih mudah dengan pembuatan sinopsis hingga bagian-bagian cerita secara berurutan dapat diperlihatkan dengan jelas.

Sementara itu, untuk puisi dengan bahasanya yang seringkali ‘menyimpang’ dari struktur kebahasaan pada umumnya digunakan teknik lain. Dalam menganalisa struktur bahasa puisi, terkadang dibutuhkan penambahan kata atau sinonim yang ditaruh dalam tanda kurung. Demikian juga dengan struktur kalimatnya, dapat kita lengkapi hingga sesuai dengan bentuk bahasa baku (tata kalimat normatif). Terkadang susunannya pun dapat diubah.

Pembacaan retroaktif/hermeneutik


Pembacaan heuristik seperti yang telah disinggung di atas tentu saja belum cukup untuk memberikan makna puisi yang sesungguhnya. Pembacaan seperti itu baru memberikan pemahaman dalam level arti bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama (berdasarkan konvensi bahasanya).
Pembacaan retroaktif (hermeneutik) memungkinkan pembacaan atas kata-kata yang melahirkan dua teks sekaligus dalam sebuah puisi dual signs. Dalam istilah Riffaterre, bentukan ini disebut dengan lexematix interpretant atau didefinisikan sebagai kata ekivokal yang terletak pada titik ketika dua rangkaian asosiasi semantik atau formal berinteraksi. Dengan demikian pembacaan hermeneutik tampak sebagai metode untuk decoding dual signs dengan sejumlah alasan berikut:

  1. tanda itu merujuk ke paradigma, dan sebuah paradigma hanya dapat dikenali setelah tanda itu dikembangkan secara mencukupi dalam ruang sehingga konstan tertentu dapat diamati,
  2. penghalang akan membuat pembaca bergegas kembali ke belakang untuk mencari kunci, bergegas ke belakang adalah satu-satunya tempat kembali,
  3. koreksi yang dilakukan ke belakang melalui homolog yang berdekatan menciptakan jiwa (ghost) atau kesejajaran teks yang di dalamnya tugas (allegiance) semantik yang kedua dari tanda dapat diamati.

Maka, setelah dilakukan pembacaan heuristik, penelaahan kemudian dilanjutkan pada pembacaan retroaktif dengan tafsir hermeneutik sebagai sistem semiotik tingkat kedua (berdasarkan konvensi sastra /puisi). Konvensi sastra yang memberikan makna (significance) itu diantaranya konvensi ketaklangsungan ekspresi puisi. Pada tahap ini kita sebagai pembaca meninjau, merevisi, dan membandingkan ke belakang apa yang baru saja dibaca sebelumnya.
Untuk memahami sebuah kata dalam puisi, kita harus mendapatkan gambaran tentang ciri-ciri dan berbagai macam kemungkinan makna yang dikandungnya. Dengan kata lain, fitur semantiknya perlu dikuasai. Dari berbagai macam kemungkinan makna tersebut kemudian dapat ditarik sebuah proyeksi makna yang dapat diturunkan menjadi hipotesis makna yang dirujuk oleh kata dalam puisi tersebut.

Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah verifikasi hipotesis pemaknaan yang telah didapatkan. Hal ini dilakukan dengan melakukan penelaahan lebih mendalam. Jalan pertama yang ditempuh adalah kategorisasi. Kita melakukan pemilahan pada sejumlah kata yang merupakan ‘lambang’—yaitu kata-kata yang mengandung makna leksikal (denotatif )— dan kata-kata yang termasuk ‘simbol’—yaitu kata-kata yang mengandung makna kiasan (konotatif).

Berikutnya, makna kata-kata yang bersifat simbolik harus dipahami. Apa yang dirujuk oleh kata-kata tersebut? Hal ini dilakukan dengan menelaah setiap kata-kata simbolik bait-per bait, karena biasanya, pemahaman pada bait permulaan akan membantu untuk menemukan pemahaman terhadap kata-kata simbolik yang hadir berikutnya. Setelah makna kata-kata simbolik tadi dipahami, barulah kita mencoba untuk memahami setiap lariknya. Setelah ditemukan gambaran makna yang sinambung dari setiap larik, kita dapat membuat parafrase dari puisi tersebut yang terdiri atas pokok-pokok pikiran yang dikandung puisi tersebut.

Referensi:

  1. slide kuliah-nya icha :p
  2. Riffaterre. Semiotics of Poetry
Advertisements

4 thoughts on “Memahami Puisi Secara Semiotik

  1. tulisannya bermanfaat sekali, kebetulan saya sedang pusing mikirin topik untuk mata kuliah penelitian. hehe artikel anda ini jadi semacam aufklarung buat saya, thanks a lot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s