Menulis Untuk Khalayak

Salah satu tulisan yang kubuat dalam perkuliahan Jurnalisme Sains dan Teknologi (2007 atau 2008)

Pendahuluan: Kita dan Budaya Pena
Masyarakat Indonesia tidak tumbuh sebagai masyarakat yang dekat dengan budaya pena. Menulis—kecuali menulis faktur, nota, dll—bahkan hingga saat ini masih menjadi sesuatu yang tidak akrab digeluti dalam keseharian. Mengarang menjadi pelajaran yang membosankan. Menulis buku harian nampak cengeng dan membuang-buang waktu. Pekerjaan sebagai seorang penulis dianggap tidak prospektif dan ’kering’. Dalam kaitannya dengan perubahan sosial, menulis sering dianggap sebagai aksi yang ’tidak riil’. Teoritis. Semua paradigma itu terbentuk secara kultural. Kita, sebagai masyarakat Indonesia memang bukan tipe masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap tulisan. Kita terbentuk menjadi masyarakat lisan, yang mengandalkan penyebaran informasi dari mulut-ke mulut.

Walaupun demikian, pada beberapa tahun belakangan ini bermunculan buku-buku baru yang semakin meningkat jumlahnya dari berbagai genre. Maraknya penerbitan buku-buku baru pun masih perlu penelusuran tentang isi dan kualitasnya. Tapi dari segi kuantitas, terlihat peningkatan apresiasi masyarakat terhadap ’tulisan’. Seiring perkembangan teknologi informasi, di dunia maya pun telah berkembang apa yang dinamakan citizen journalism, yaitu peran serta masyarakat luas dalam jurnalisme, terkait penyebaran berita, diskusi, dan sebagainya. Semakin banyak orang berkomunikasi lewat e-mail, chatroom, mailing list, atau blog, sehingga jutaan informasi berseliweran di internet dan dapat diakses setiap saat. Kebanyakan dari jenis informasi itu tentunya berbentuk tulisan. Namun begitu, ternyata tak sedikit orang yang mengaku masih memiliki kesulitan dalam menulis, terutama bila untuk dikirim ke media massa. Di dalam tulisan yang disarikan dari materi-materi kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi ini akan diulas beberapa hal mengenai tulis-menulis, terutama untuk dikirim ke media massa.

3M: Mari Mulai Menulis

Menulis, merupakan proses kreatif menuangkan isi benak/pemikiran ke dalam tulisan. Bisa berupa pemikiran sendiri, pemikiran orang lain, tinjauan terhadap pemikiran seseorang, pengamatan, atau suatu peristiwa. Setiap proses tentu membutuhkan input. Begitu pula dengan proses kreatif yang satu ini. Kita membutuhkan bahan-bahan yang cukup untuk diolah menjadi sebuah tulisan yang baik dan bermutu. Dalam hal ini yang kita butuhkan adalah fakta yang menginspirasi benak kita untuk memulai sebuah pemikiran yang akan dituangkan dalam tulisan. Tentu tidak hanya itu, fakta yang kita indera berupa peristiwa atau permasalahan di tengah-tengah merupakan pemantik yang akan menyalakan api kreativitas kepenulisan kita. Kita butuh bahan bakar yang cukup banyak agar pantikan api tadi tidak padam begitu saja, namun mengobarkan kreativitas yang cukup untuk menghasilkan sebuah tulisan bermutu.

Bahan bakar yang dimaksud adalah bank informasi awal yang tersimpan rapi dalam benak kita. Yaitu pengetahuan yang sumbernya bisa dari mana saja. Buku-buku, artikel, catatan-catatan, hasil diskusi, penelitian, dan lain-lain. Artinya kita harus membaca. Membaca buku-buku yang memberi nilai, pengetahuan dan memecahkan kebekuan intelektual dalam diri kita. Mengutip perkataan Franz Kafka, seorang pengarang Yahudi kelahiran Praha yang menulis dalam Bahasa Jerman, bahwa buku harus menjadi kapak yang memecahkan lautan beku dalam diri kita. Demikianlah, salah satu input penting untuk proses menulis adalah membaca. Bagi saya pribadi, prinsip saya sebelum menulis adalah membaca sebanyak-banyaknya tentang topik yang akan dibahas sebelum menulis. Baca sebanyak-banyaknya sampai “muak”, sampai luber, jangan dlu mencoba merancang akan menulis begini atau begitu karena akan membatasi bahan bacaan kita.

Selain membaca buku atau produk tulisan lainnya kita pun harus mampu membaca peristiwa, menangkap makna, dan haus informasi. Semua modal tadi akan menjadi bekal awal kita sebelum menulis. Jadi, untuk mulai menulis kita memerlukan informasi awal yang memadai untuk tulisan kita serta kepekaan terhadap fakta dan peristiwa, sehingga kita bisa mengolahnya dalam benak dan menuangkannya dalam tulisan.

Motivasi Menulis

“Sometimes I feel the need, as sharp as thirst in summer, to know and to describe (Collete)

Bagaimana orang-orang besar mampu menulis karya-karya yang luar biasa? Banyak yang memulai dari kesenangan, penghargaan materi, keperluan propaganda, atau ‘sekedar‘ idealisme ingin bermanfaat bagi masyarakat luas untuk berbagi pengetahuan. Para ilmuwan dalam masa kejayaan Islam (kekhalifahan bani Abbasiyah) berlomba-lomba menulis buku yang tebal dan berjilid-jilid, padahal waktu itu belum ditemukan teknologi percetakan. Semuanya termotivasi oleh ajaran Islam yang menjanjikan pahala tak putus bagi setiap orang yang ilmunya bermanfaat bagi orang lain walaupun ia sudah meninggal dunia, selain itu khalifah/pemimpin negara pada saat itu memberikan penghargaan yang luar biasa kepada setiap ilmuwan/penulis. Yaitu dengan memberikan imbalan emas seberat buku yang mereka hasilkan. Luar biasa. Untuk kondisi saat ini sangat sulit mengharapkan hal yang demikian. Untuk bidang pencetakan buku, perpustakaan, dan kegiatan penulisan/penerjemahan yang juga terkait dengan dunia pendidikan, tak ada insentif memadai dari pemerintah, apalagi imbalan yang begitu menggiurkan untuk para penulis sebagaimana gambaran sebelumnya.

Maka itu, sebelum kita dapat merasakan kondisi ideal seperti itu, kitalah yang harus membangun idealisme mengenai aktivitas menulis ini. Setidaknya ada beberapa alasan untuk membuat kita mulai dan tetap menulis.
Diantaranya:

a. Menulis itu penting.
Tulisan adalah hal yang berkaitan erat dengan kualitas peradaban setiap bangsa. Kategorisasi perkembangan prasejarah-sejarah ditandai tonggak penemuan tulisan. Peradaban-peradaban besar di dunia meninggalkan warisan mereka dalam ribuan buku-buku para pemikir, di samping peninggalan arsitektur dan lain-lain. Dalam hal inilah—meminjam istilah Anton Kurnia—pustaka menjadi pusaka. Maka menghasilkan tulisan berarti berkontribusi pada pengembangan peradaban dan perjalanan sejarah. Kita bermanfaat bagi manusia. Padahal dikatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Kita pun bisa mencontoh para ilmuwan di kekhalifahan Abbasiyah tadi yang memahami dan meyakini besarnya pahala dari tersebar-luasnya ilmu yang bermanfaat.

b. Sebagai ekspresi, aktualisasi dan eksistensi diri, wahana berbagi.

Dengan menulis, kita meluapkan isi benak kita, perasaan serta mengekspresikan berbagai sikap kita terhadap sesuatu. Jika kita menulis untuk media massa, kita pun memantapkan eksistensi kita di tengah-tengah masyarakat. Kita pun berbagi pemikiran, perasaan, dan menyebarkan pandangan tertentu di tengah-tengah masyarakat yang selanjutnya mungkin mengundang respon atau polemik. Bisa saja menjadi ”kapak” baru yang akan memecahkan kebekuan pemikiran khalayak atau sejumlah orang saja.

c. Mencari penghasilan

Walaupun di Indonesia ini masih sangat sulit untuk menjadikan menulis sebagai profesi, namun dengan dimuatnya beberapa tulisan kita di media massa, akan menambah penghasilan kita.

”Saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam” (J.K Rowling)

Motivasi yang kuat penting untuk memulai suatu pekerjaan. Terutama pekerjaan yang dianggap berat. Menulis pun begitu, perlu motivasi kuat yang cukup untuk memulainya. Namun motivasi saja tentu tidak cukup, seringkali kita merasa bosan dengan pekerjaan kita. Bila kita menulis, dan merasa kualitas tulisan kita ’begitu-begitu saja’ rasanya kita ingin menyerah. Kemampuan menulis adalah keterampilan. Setiap orang akan makin terampil jika ia sering berlatih. Maka kita harus membiasakan diri untuk terus berlatih, terus menulis hingga menghasilkan karya yang berkualitas baik. Untuk menyelesaikan ’Madame Bovary’, Flaubert menghabiskan waktu lima tahun. Dapat dibayangkan, bagaimana ia bisa bertahan selama lima tahun untuk menyelesaikan karyanya? Karena ia menjadikan menulis sebagai kebiasaan. Jim Ryun mengatakan ”Motivation is what get you started. Habit is what keep you going”.

Menulis untuk Media Massa

Kita sudah membahas tentang memulai menulis, dan rasanya sudah memiliki motivasi yang cukup untuk melakukannya. Masalah berikutnya adalah: bagaimana jika kita akan mengirim suatu tulisan kepada media massa, sehingga tulisan kita dapat dikonsumsi masyarakat yang lebih luas, dan memberikan manfaat yang lebih besar? Beberapa hal penting yang perlu disampaikan berkaitan dengan penulisan artikel di media massa akan dirangkum dalam poin-poin berikut:

1. Mencari dan Memilih Ide
Tulisan yang dikirim kepada media massa adalah tulisan yang menarik bagi redaktur media yang bersangkutan, dan terutama bagi masyarakat luas konsumen media tersebut. Maka kita perlu membuat suatu tulisan yang aktual. Ia harus mampu menggandeng opini-opini atau fakta yang berkembang pada saat itu. Kita tuangkan pokok masalah yang kita pilih ke dalam poin-poin pemikiran yang sederhana. Hal ini penting karena kita akan membuat sebuah tulisan yang populer, yang dikonsumsi oleh masyarakat dalam berbagai lapisan. Kita pun harus dapat memastikan manfaat praktis ide dalam tulisan tersebut bagi masyarakat dan mengemasnya dengan menarik. Untuk itu kita harus melatih kepekaan dalam menaksir peristiwa. Sebagai alat bantu, misalnya kita bisa menggunakan catatan hari-hari bersejarah, kita tandai momen-momen pentingnya. Atau menulis suatu ide yang memiliki siklus trend. Yaitu peristiwa-peristiwa yang seringkali berulang atau terjadwal, misalnya masa penerimaan mahasiswa baru, ujian nasional, pemilu, dan lain-lain. Tema lain yang juga tak pernah habis dibahas adalah bulan Ramadlan. Perlu diingat, sangat mungkin terdapat banyak orang yang membuat tulisan dengan tema yang sama seperti yang kita pilih. Maka tulisan kita harus memiliki keunikan Bahkan terkadang ide-ide yang nampak remeh, sudut pandang yang sederhana, dan renik, bisa jadi unik dan sangat menarik.

2. Membuat judul

Judul merupakan nama bagi sebuah karangan. Idealnya ia harus dapat mencerminkan isi karangan secara padat makna dan singkat. Definisi singkat di sini, kira-kira kurang dari tujuh kata. Sementara padat makna maksudnya harus dapat membimbing pembaca untuk menebak tentang apa tulisan tersebut berbicara. Juga harus menarik, karena yang ditangkap mata pembaca pertama kali adalah judul. Kebanyakan pembaca akan melewatkan artikel yang judulnya biasa-biasa saja, tidak unik atau tidak memiliki hal baru. Bentuk judul bisa berupa pertanyaan, pernyataan, provokatif, atau kalimat yang menimbulkan rasa penasaran. Biasanya judul lebih baik dibuat selesai menulis karena khawatir membatasi kreativitas, tapi ada juga penulis yang menulis judul di awal justru untuk membuat kerangka agar tulisannya “tidak kemana-mana”.

3. Awal tulisan

Alinea pertama sangat menentukan apakah pembaca akan melanjutkan atau menghentikan bacaannya. Alinea pertama sebaiknya singkat dan padat dengan kalimat yang pendek-pendek sebanyak 4-5 kalimat. Bisa juga mengutip ungkapan tokoh terkenal, atau dimulai dengan ilustrasi, deskripsi, peristiwa. Yang penting harus dapat menimbulkan rasa penasaran sehingga pembaca tak akan beranjak dari tulisan kita. Untuk melatih hal ini dianjurkan untuk banyak membaca tulisan yang inspiratif

4. Peletakkan tubuh karangan

Tubuh karangan/alur sebuah artikel biasanya dimulai dari deskripsi, dilanjutkan dengan analisis dan ditutup dengan opini penulis. Perlu diperhatikan bahwa menulis artikel di media massa bukan sekedar menuliskan opini belaka, namun harus didukung data dan fakta yang valid. Sehingga dalam proses penulisan memang dibutuhkan riset dan pengkajian bahan yang serius. Dengan begitu tulisan yang kita hasilkan benar-benar berbobot. Tidak ’asbun’ atau asal bunyi. Data dan analisis harus dapat dipertanggungjawabkan, namun demikian patut pula diperhatikan dalam penulisannya, jangan sampai tulisan kita menjadi lebih mirip karangan ilmiah ketimbang artikel populer. Diusahakan semuanya berbentuk narasi, dengan meminimalkan penggunaan gambar dan tabel.

5. Akhir Tulisan

Selesai menulis, kita harus memberi penutup yang cantik. Anggaplah penutup tulisan kita sebagai jeda bagi pembaca untuk menanti tulisan kita selanjutnya. Sebisanya kita memancing pembaca untuk membaca literatur yang berhubungan dengan tulisan kita, atau membuat jejak/kesan tertentu yang akan membuat orang lain menunggu-nunggu tulisan kita berikutnya. Bisa juga memancing pembaca untuk berdiskusi dengan mengontak kita ataupun melalui tulisan tanggapan.

Advertisements

4 thoughts on “Menulis Untuk Khalayak

  1. Terima kasih untuk summary-nya. Kebetulan semester ini saya mau ambil mata kuliah ini. Lumayan untuk mengetahui silabus singkat mata kuliah ini. Outputnya bisa membuat tulisan yang lebih handal dan siapa tahu bisa menjadi writerpreneur

  2. salam kenal juga. panggil aja saya galuh, perminyakan 2008.

    Kebetulan saya mulai menyukai dunia menulis sejak tahun 2009. Masih newbie. Cita citanya sih mau sampingan menjadi pengamat energi di media kelak. Semoga bisa tercapai. Amiiin

  3. amin… oh, aktif kajian energi dong? dulu aku sempet mengkaji energi lumayan intens pas ngambil kuliah RIM sama mas Arse tahun 2006, kamu ambil juga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s