Merenungkan Sekolah

Pendidikan kadung dianggap identik dengan sekolah. Semacam proses sertifikasi dalam kegiatan belajar. Sampai tiba waktu memasuki dunia kerja, kumpulan ijazahlah yang menentukan ‘harga’ seseorang. Melihat fakta demikian, tak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa sekolah ibarat pabrik yang memproduksi robot-robot. Seorang lulusan sekolah kini tak ubahnya produk keluaran pabrik yang telah melewati sejumlah proses, dari pengolahan sampai quality control hingga dinyatakan siap pakai.

Ketika mendaftar, siswa seperti bahan mentah yang siap diolah. Kemudian dibekali banyak informasi tanpa proses berpikir yang memadai sehingga yang mereka pelajari tidak nampak hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Sekolah seolah tidak lagi menjadi bagian dari proses pendidikan untuk membentuk manusia utuh, yang mumpuni menghadapi tantangan masa depan. Peserta didik hanya merasakan beban tugas yang besar serta tuntutan untuk mendapatkan nilai yang baik dalam ujian. Rasa senang dalam proses belajar pun berkurang.

Membentuk manusia utuh bukanlah sekedar menginstal berbagai keterampilan praktis atau pengetahuan yang bisa membuatnya memperolah penghasilan sendiri. Lebih dari itu ia harus dibekali kemampuan berpikir kritis, sehingga mampu untuk menelusuri kebenaran dengan nalarnya sendiri, bukan sekedar mengutip guru atau menyalin buku. Ia pun harus dituntun dalam membentuk kepribadiannya, selain bagaimana berpikir, juga bagaimana ia bersikap, hingga bisa konsisten pada sumber nilai yang dipegangnya dalam hidup. Juga dilatih menghadapi pilihan-pilihan hingga belajar memutuskan dan bertanggungjawab.

Proses yang dijalani pun sebaiknya tidak seragam, harus mempertimbangkan kondisi unik setiap individu. Manusia, sekalipun sama-sama memiliki akal, kemampuan jasmani, serta sejumlah insting, namun komposisinya berbeda-beda. Ada yang pandai bernyanyi, namun tidak menunjukkan prestasi yang baik dalam atletik, ada yang pandai matematika namun gagap ketika berbicara, ada juga yang tidak bisa menggambar namun mudah sekali berteman. Terkait hal ini, ada yang menarik dari film The Blind Side (2009) , yaitu bagaimana orang-orang di sekeliling Michael Oher—seorang anak afro-american yang dianggap bodoh—berupaya untuk mengoptimalkan potensi besar yang dimilikinya dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Ketika hasil tes tulis Michael sangat buruk, gurunya mencoba mengevaluasi Michael secara verbal, melalui proses dialogis, dan nyatanya perkembangannya signifikan. Big Mike tidak bodoh, namun sistem evaluasi sekolah yang biasa tidak mampu mengukur kemampuannya dengan akurat.

Permasalahan ini bukanlah hal baru. Sudah banyak kisah tokoh dunia yang karya-karyanya sangat mengagumkan namun pernah memiliki sejarah kelam di sekolah. Akan tetapi, bukti-bukti empiris itu belum cukup untuk menginspirasi sistem pendidikan kita untuk menyudahi kebiasaan buruk merobotkan peserta didik. Untuk mengatasi kelemahan sistem pendidikan ini, sejumlah orangtua memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anaknya; beberapa institusi pendidikan yang progresif membuat sistem baru untuk mengoptimalkan perkembangan potensi anak didik yang lebih beragam, bukan hanya aspek kognitifnya. Ada yang memberi lebih banyak kebebasan berkreasi; mendekatkan proses pendidikan dengan alam; pendekatan religius; ada juga yang menggunakan teori multiple intelligence ala Howard Gardner. Hanya saja, ketika upaya menyelamatkan generasi ini hanya dilakukan sejumlah sukarelawan atau segelintir institusi pendidikan yang peduli, bagaimana nasib jutaan anak-anak lain yang belum terakses?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s