Bapak

Kemarin pagi aku berpapasan dengan seorang penjaja jamu tradisional. Seorang Bapak bersepeda dan menggunakan sejenis topi caping, dengan suara khasnya berseru jamuuu, jamuuu… Tak berapa lama di belokan gang beberapa meter di depannya, keluar seorang bapak dengan pikulan, berseru tahuu…tahuu… Inilah para bapak yang berikhtiar sejak pagi, mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya. Aku tersenyum dan mengucap salam pada mereka. Teringat bapakku sendiri.

Salah satu hal yang sering membuatku trenyuh adalah jika melihat para bapak yang bekerja penuh dedikasi untuk keluarganya. Setiap pagi, ketika aku berjalan kaki ke kampus, biasanya kulihat bapak-bapak tukang gali yang berjajar di pinggir jalan Dago. Menunggu panggilan orang yang membutuhkan jasa mereka. Kadang aku berpapasan dengan tetanggaku, penjual bakso keliling, yang baru belanja dari pasar. Ya, Allah, mudahkanlah rezeki mereka. Penghasilan mereka mungkin tak seberapa besar. Masih jauh untuk meraih kemewahan hidup. Namun demikian, semoga rezekinya berkah dan dinikmati dengan penuh rasa syukur. Waktu-waktu seperti itu, biasanya pikiranku langsung melayang ke rumah. Mungkin Bapak saat itu juga sedang menyiapkan motor untuk berangkat bekerja. Menuju kemana hari ini, Pak? Semoga setiap langkahmu juga diberkahi.

Saat masih tinggal di Jalan Pelesiran dulu ada seorang penjual nasi goreng yang tidak menggunakan angkringan, namun memikul barang-barang dagangannya. Sesekali aku membelinya juga, biasanya kalau pulang malam, sekitar pukul sepuluh atau sebelas malam. Bapak itu sudah cukup tua, kadang tangannya nampak agak gemetar saat meracik nasi goreng. Aku merasakan perasaan campur aduk saat menyaksikan hal itu. Kapankah jualannya akan habis dan ia bisa pulang untuk beristirahat? Tiba-tiba terbersit, apakah Bapak sudah tiba di rumah saat ini?

Suatu hari dari jendela angkot, aku melihat seorang anak duduk di gerobak yang didorong seorang bapak bersisian dengan barang-barang yang digunakan untuk berjualan menuju angkringan tempat bapak itu berjualan makanan. Anak itu nampak bahagia. Ikut bapaknya bekerja, didorong dalam gerobak seperti itu mungkin seperti permainan baginya. Entahlah apakah anak sekecil itu dapat turut merasakan kegetiran hidup yang dirasakan sang bapak untuk mempertahankan keluarganya? Aku jadinya mengenang suatu masa saat kukatakan, ”Bapak, aku mau ikut bapak kerja!” Kemudian aku menyertai bapak bekerja seharian. Berjam-jam dibonceng motor membuat badanku agak pegal. Maklum, yang ditempuh bukan jalanan yang mulus. Jalanan ini berliku dan berbatu, menempuh bukit-bukit. Menjumpai kelompok petani untuk menyampaikan penyuluhan, mengambil bibit di suatu tempat, dan seterusnya. Di sepanjang jalan kadang bapak bercerita tentang beberapa hal, misalnya permasalahan lingkungan hingga isu-isu terkait kawasan Gunung Halimun sebagai taman nasional. Aku lelah, tapi menikmatinya.

Bapak, aku rindu.

(Bandung, 10 Juli 2010)

Advertisements

2 thoughts on “Bapak

  1. Pernah juga kah beli gorengan di depan Gerbang ITB kalau malam? Kalau saya pulang malam dan lelah fisik dan batin, melihatnya berdagang gorengan membuat saya masih merasa beruntung. BTW, wah bisa dong nih jalan-jalan ke TN. Halimun 😀

  2. lumayan sering kang, kalo habis Isya di Salman, mau balik ke kampus biasanya jajan gorengan di situ, makannya sambil duduk-duduk di deket tiang2 baligo itu lho. ngeliatin orang lewat, dan ngagetin mereka sekali2 (gak sengaja :p)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s