Generasi di Ambang Pintu

Belum lagi masanya tiba,

masih berdiri di sini, menunggu.

 

Lihat! Itu generasi tua tergagap-gagap, sembunyikan borok.

Sedikit saja, cuma segelintir, yang tentram batinnya.

Hati miris melihat anak-anak muda terlahir cacat: sumbing nuraninya, lumpuh benaknya, buntung kejujurannya.

Sementara jiwa kita pun belum tentu selamat.

Kita, remaja tanggung, kadung lahir di kalatidha, hendak ambil alih dunia sekejap lagi

 

Berdiri di sini, di ambang pintu.

Menanti suara peluit, bersiap untuk aba-aba,

hingga…

“priiit…”, berlari, tempati setiap pos.

 

Dengan ilmu tergopoh-gopoh, pengetahuan setengah matang, kreativitas aktivis kampus yang terbiasa makan larangan.

Sejarah tinggal inspirasi, yang kita hadapi makin bikin pucat pasi.

Kali ini tak ada contekan atau solusi tahun kemarin.

 

Yang bisa dipegang tinggal kitab suci dan nurani,

itu pun bila belum tercemar nanah dan tinja peradaban ini.

Yang baik itu, yang Tuhan mau, yang manusia perlu.

 

Dalam gamang kita menerka, hendak apa kita di sana.

Peluh bercucuran makin deras,

dan inilah kita, dengan ijazah tergenggam, di ambang pintu, menanti giliran.

 

 

(Sunken Court, Juli 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s