Sang ayah, putranya, dan keledai tua mereka

Selama bertahun-tahun Majalah Bobo menjadi sumber inspirasiku. Berbagai pengetahuan dan nilai-nilai kupetik darinya. Beberapa di antaranya masih kupegang hingga kini. Salah satu yang masih kuingat adalah sebuah cerpen mengenai seorang petani dan putranya dengan seekor keledai. Aku lupa siapa penulisnya dan kisah tepatnya, jadi akan kuceritakan ulang berdasar kesan yang masih melekat di benakku saja. Begini  kisahnya:

Alkisah, di sebuah desa terdapat seorang petani dan putranya. Mereka hendak pergi ke kota yang lumayan jauh jaraknya untuk membeli sesuatu. Sang Ayah tak memiliki kendaraan, hanya ada keledai tua miliknya. Ia berpikir, jika mereka berdua menunggangi keledainya hingga ke kota, tentu keledainya akan kepayahan. Sementara jika mereka berdua berjalan kaki ke kota maka ia dan putranyalah yang akan kelelahan.

Akhirnya ia menemukan sebuah ide. Ia membagi perjalanan menjadi tiga bagian. Sepertiga jarak pertama, direncanakannya bahwa ia dan putranya akan bersama-sama menunggangi keledai. Memasuki bagian kedua, ia akan turun. Kemudian pada sepertiga bagian perjalanan terakhir, putranya pun akan ia minta turun dan mereka berdua menuntun keledai hingga tiba di kota.

Mereka pun berangkat sesuai rencana. Ketika menunggangi keledai berdua, mereka berpapasan dengan beberapa orang. Ada yang berkomentar,” Hai, lihat dua orang itu, mereka mengendarai keledai yang sudah tua seperti itu, tega sekali ya?”.  Sang anak menjadi ragu dan bertanaya pada ayahnya apakah sebaiknya mereka berjalan kaki saja. Ayahnya menggelengkan kepala dan berkata, ” tidak, kita jalan terus Nak, aku sudah memperhitungkan hal ini.”

Mereka pun tiba pada sepertiga jarak menuju kota. Setelah beristirahat, dilanjutkanlah perjalanan. Sesuai rencana, sang ayah berjalan disamping keledai yang ditunggangi putranya. Tidak berapa lama, muncul segerombol orang yang terdengar berbisik-bisik,” Lihat, mereka pasti orang dusun. Bodoh sekali ya, ada keledai kok hanya dituntun, kalau ditunggangi bersama, pastinya tidak akan melelahkan.” Sanga ayah terus saja berjalan tanpa mengindahkan pembicaraan mereka.

Perjalanan panjang pun sudah mereka tempuh sebagian besarnya. Kini sang keledai pun sudah nampak lelah. Akhirnya sang anak turun dan berjalan mendampingi ayahnya yang menuntun keledai. Mereka pun kembali bertemu dengan beberapa orang yang menyayangkan sikap sang ayah. ” Kasihan sekali, anaknya kan masih kecil, mengapa dibiarkan kelelahan berjalan padahal ada keledai yang bisa ditunggangi?”.

Nah, sekian saja ceritanya, hanya ringkasan.  Kisah ini bermakna sekali untukku. Pesannya adalah hampir selalu ada suara-suara sumbang yang mengomentari apapun yang kita lakukan. Jika melakukan A, ada yang berkomentar.Tidak melakukannya pun, mungkin ada yang mencela. Namun yang kuambil dari kisah ini adalah, jika kita sudah yakin akan sikap dan langkah kita sejak awal, berjalanlah. Berjalanlah terus hingga tujuan tercapai. Karena kebanyakan orang berkomentar karena mereka sesungguhnya tidak mengetahui.

Bukan berarti kita tertutup atas masukan yang baik dan konstruktif. Namun, untuk komentar-komentar negatif dan nada miring yang tak berdasar, biarkanlah saja. Toh kita tahu kebenarannya seperti apa. Biarkan saja hal itu lewat seperti angin lalu. Jika kita tanggapi, hanya akan membuat kita kehilangan fokus dan memperlambat langkah kita. Kecuali jika gangguannya benar-benar menghambat dan menghadang perjalanan kita. Jika sekedar membuat telinga memerah, tersenyumlah saja. Lama-kelamaan mereka akan bosan juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s