Surat Buat Ibu

Ibu, bohong besar jika kubilang tak rindu. Tapi tahukah ibu? Curahan kasih sayang Allah melalui dirimu kini kudapatkan langsung dari yang mereka berdiri di sampingku. Mereka dan juga aku sama-sama manusia yang penuh alpa. Kami memang tak sempurna. Tapi kami berusaha saling menyayangi. Menjaga dan membingkai kasih di jalan Ia, yang Mahapenyayang. Kupikir, hanya Ia yang mengerti apa itu cinta. Ah, kami hanya menerka.

 

я вас любил так искренно, так нежнокак дай вам бог любимей быть другим (Александр Сергеевич Пушкин )

 

Tapi, walau aku tak mengerti, kasihmu itu ibu, kau tahu? Tentu takkan tergantikan. Dari yang kurasa, dan entah yang ada dalam hatimu, tentu lebih besar lagi. Aku tahu ibu, aku tahu kau sering menahan diri untuk meluapkan kasihmu itu karena sadar sedang mendidikku. Sementara kasih sayang yang terlalu banyak akan melemahkanku.

 

Karena mengingat itu, ibu, dalam beberapa hal ketika para saudaraku tak seperti biasanya. Ketika suatu saat udara yang kuhirup terasa berbeda, aku hanya menduga. Bisa saja kami sedang saling menjaga. Kau tahu ibu, putramu ini, bukanlah seseorang yang lemah lembut. Perkataanku meluncur begitu saja tanpa tabir. Tak sedikit yang mungkin pernah tersayat hatinya. Ah, ibu, aku masih harus banyak belajar, belajar sabar.

 

Saat melihat perilaku yang membuatku gemas, aku kembali teringat padamu. Berapa kali kau mengurut dada karena ulahku.  Ketika itu kau tak pergi meninggalkanku. Kau berupaya untuk  lebih sabar dan membuatku mengerti secara perlahan. Tak pernah kau lupa bahwa aku masih anak-anak, banyak yang belum kupahami. Kau percaya, suatu saat aku akan tahu juga. Kau bahkan menyusun metode baru yang memudahkanku belajar. Kau tidak mendidikku dengan tradisi. Jika sekarang aku seorang pendidik, mengapa aku tak sesabar engkau, ibu?

 

Saat kulelah namun pekerjaan berdatangan untuk disentuh, aku lagi-lagi mencoba membayangkanmu.  Berapa kali selama bertahun-tahun aku memaksamu untuk bercerita dan bercerita lagi sementara ibu menahan kantuk kelelahan. Kau tetap membaca, hingga kuterlelap.  Demi aku, kau menampakkan bahwa membaca itu selalu menyenangkan. Maka akupun berusaha bergerak hingga batasku, ibu. Demi apa yang kupikir bisa kulakukan untuk umat yang dicintai Rasulullah ini.

 

Ibu,bertahun-tahun aku nyaris tak pernah melihat air matamu. Mungkinkah kau tak pernah menangis? Kau selalu menjadi yang tegar saat aku kembali dalam rapuh. Sepertinya, air matamu itu hanya kau perlihatkan di depan-Nya.  Sekarang lihat aku ibu. Pekerjaanku hanya mengeluh saja. Mukaku memerah menahan buliran air mata saat aku benci. Bagaimana aku bisa sekuat dirimu?

 

Namun aku bukan tak pernah membuatmu meradang. Ah, aku sering dengar ibu marah-marah. Karena kami yang di rumah, atau sesuatu yang kau temui di luar sana. Haha, kadang ibu lucu kalau sedang marah.

 

Ibu, baru kusadar, jarak memberiku kesempatan untuk menghayati kasihmu. Jarak membuatku sadar akan hal-hal yang mulanya tak terlihat.

 

Ibu, ibu mau apa dariku? Sewaktu ibu jawab, hanya ingin melihatku sehat, rasanya ingin kuberikan segalanya saja untuk ibu. Namun lihat ini, amanahmu saja belum usai kutunaikan. Ibu pasti senang kalau aku lulus kan? Baiklah, walau aku sudah tak seperti dulu, mungkin akan kulakukan untukmu saja. Ketika belum sanggup kubahagiakan engkau, biar aku tak mengecewakanmu saja dulu.

 

Salam untukmu ibu, restui aku, dengan itu aku merasa cukup.

Putramu.



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s