Menanti Hujan

Sudah waktunya berangkat, mengalirlah ke lubuk.

Satu saat kau bisa muncul dari langit, menyapaku sebagai orang asing.

 

Tak mengapa.

Kau berputar-putar di sekitarku. Kita menjadi dekat.

 

Tapi kau harus pergi, mengalirlah ke lubuk.

Dengan perjalanan berbeda, kau ‘kan kembali asing, saat lagi-lagi jatuh ke bumi.

 

Tak mengapa.

Kita selalu bisa berkenalan lagi. Tak lama, kita kembali erat.

 

Lagi, giliranmu tiba, mengalirlah ke lubuk.

Kali ini tak kembali.

Angin terlalu jauh membawamu. Di mana tercurah, ‘ku tak tahu.

 

Tak mengapa.

Yang pelupa tak kenal derita rindu.

 

(Bandung, September 2010)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s