Pemimpin dari Kampus, Buah Kaderisasi Kemahasiswaan


Mitos pemuda—seringkali mahasiswa—sebagai agen perubahan nampaknya perlu ditinjau ulang. Dewasa ini, istilah-istilah semacam iron stock, agent of change, seolah menjadi jargon kosong ketika dihadapkan pada mahasiswa yang semakin jauh dari realitas masyarakatnya. Sejak diberlakukan NKK/BKK, kehidupan kampus lebih kental dalam nuansa akademis ketimbang sebagai dapur transformasi masyarakat. Mahasiswa yang masih berusaha aktif dalam kegiatan kemasyarakatan pun seringkali terpecah ke dalam dua kubu: aksi politik praktis atau pengabdian masyarakat, hal itupun semata-mata hanya aktivitas semasa menjadi mahasiswa. Setelah lulus, idealisme tergerus realitas kehidupan. Transformasi yang dilakukanpun akhirnya didominasi oleh transformasi vertikal individu dalam memperoleh posisi dalam strata sosial. Diperlukan sejumlah upaya untuk membekali mahasiswa agar tetap memiliki kepedulian dan idealisme pada perbaikan kondisi masyarakat.

 

 

Jadi mahasiswa! Sebagian besar siswa SMU diliputi euforia begitu mendapatkan kesempatan belajar di perguruan tinggi, apalagi jika termasuk yang bergengsi di negeri ini. Terbayang sudah kehidupan baru tanpa seragam sekolah, mengikuti perkuliahan, berorganisasi, mungkin juga ikut aksi-aksi demonstrasi. Mahasiswa, agen perubahan, keren sekali terdengarnya.

 

Mahasiswa seharusnya memang sudah dewasa dalam menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Akan tetapi, proses pendidikan kita yang secara umum diketahui tidak begitu memandang serius proses pematangan peserta didik. Tidak jarang kita temui manusia-manusia tua yang masih kekanakan. Mahasiswa yang masih belum memiliki sikap kedewasaan. Tak tahu etika berhadapan dengan dosen, kawan sebaya, atau otoritas lain. Memiliki prinsip yang bertentangan dengan perilakunya sehingga masih saja melakukan hal-hal yang dia pandang buruk seperti mencontek, titip absen, melanggar janji, melecehkan teman, kurang peduli, dan sebagainya. Yang seperti ini tentunya bukan cerminan pemimpin di masa depan.

 

Meski kita akui, hal tersebut merupakan dampak sistemik. Tekanan akademis yang ada di kampus sangat besar sehingga bisa jadi hanya mempersempit kehidupan mahasiswa sekedar dalam urusan tugas, praktikum, perkuliahan, kuis, atau ujian. Kegiatan kemahasiswaan yang sedikitpun biasanya masih harus rela tergeser dari agenda bila bentrok dengan kegiatan-kegiatan ini. Maka tidak heran bila dalam banyak institusi, pendidikan telah sukses mengubah homo sapiens menjadi homo roboticus.

 

Proses pendidikan yang diterima di kampus, hanya menyambung proses-proses yang telah dimulai sebelumnya, tidak utuh. Hanya membangun sebagian sisi kemanusiaan, dan yang lainnya terabai. Mata kuliah yang membentuk kepribadian, bertema moralitas dan keagamaan hanya formalitas. Dari ribuan mahasiswa, hanya sedikit yang sadar dan beruntung mencari bagian-bagian yang hilang dari persiapannya menjadi manusia utuh secara otodidak. Sebagian dosen perlu diacungi jempol karena dalam proses pembelajaran yang klasik seperti ini masih dapat memasukkan spirit dan inspirasi tentang kehidupan, tentang sikap, tentang menjadi manusia, bukan sekedar profesional dengan kemampuan keilmuan praktis yang laku ditukar dengan rupiah atau dolar. Tapi, saat ini, sekali lagi, itu hanya didapat oleh mereka yang beruntung.

 

Kaderisasi kemahasiswaan sebetulnya bisa diharapkan untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam pembentukan utuh manusia yang akan berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Tugas ini memang tidak adil, karena tanggung jawab seharusnya paling besar berada di pundak institusi pendidikan itu sendiri. Namun, sembari mempersiapkan perombakan radikal dan besar-besaran terhadap sistem pendidikan yang ada sekarang, saya rasa tetap mendesak untuk juga menggarap dan turut serta dalam proses-proses pendidikan yang berjalan, memberi sedikit kontribusi agar posisinya lebih mendekati proses ideal. Toh, pertumbuhan generasi bukan sesuatu yang bisa di-pause hingga sistem siap dan ideal. Justru menumbuh-kembangkan generasi dalam suasana pemikiran kritis dengan prinsip-prinsip ideal pendidikan yang masih bisa kita rumuskan akan memberi energi tambahan pada gelombang perubahan yang kita harapkan. Bila spirit mengisi ruang kosong dalam pendidikan ini dilakukan oleh agenda-agenda kaderisasi yang formal dan terstruktur, menurut saya hal ini cukup efektif untuk menambah jumlah orang-orang yang beruntung tadi.

 

Akan tetapi, kaderisasi kemahasiswaan kadung ditakuti oleh banyak pihak. Orang-orang curiga begitu mendengar kata OSPEK. Apalagi begitu mendengar berita korban mahasiswa berjatuhan saat mengikuti proses tersebut. Padahal tidak seluruhnya demikian. Masyarakat dan media yang trauma cenderung menggeneralisasi sekalipun pada sejumlah kasus merupakan murni kecelakaan atau kebetulan karena penyakit yang diderita yang bersangkutan.

 

Penggunaan aksi militeristik memang tidak selamanya cocok digunakan dalam kaderisasi kampus, apalagi kekerasan fisik langsung yang berlebihan. Jika tujuan kaderisasi adalah untuk menyiapkan generasi baru yang akan melanjutkan dunia kemahasiswaan dan memahami posisinya sebagai intelektual yang memiliki kekuatan untuk  melakukan transformasi masyarakat (dimulai dari kritik hingga pengembangan kondisi masyarakatnya), maka yang dibutuhkan adalah penumbuhan kesadaran. Bukan penanaman prinsip-prinsip dogmatis melalui jalan teror.

 

Pihak yang dikader secara psikologis akan cenderung lebih mudah menerima “apapun” yang dikatakan atau yang disampaikan oleh mentor, pemateri, pengkader, atau apapunlah itu namanya. Tapi jika kita berharap perubahan yang sungguh-sungguh dan penerimaan yang utuh atas materi dan nilai yang disampaikan, jangan harap hal itu akan berhasil lewat invasi pada benak dan pemaksaan pemikiran. Harus dibangun suasana kondusif untuk berpikir bersama, mengevaluasi ide-ide, dan menimbang kebenaran dari sudut pandang masing-masing. Semua itu hanya bisa dilakukan dalam konteks hubungan intersubjektif. Jadi proporsi kaderisasi dalam suasana santai maupun serius perlu diatur agar setimbang. Perpaduan kegiatan diskusi dalam ruangan, metode seminar, focus group discussion, hingga sejumlah kegiatan lapangan semacam outbond perlu dipadukan dalam kegiatan kaderisasi.

 

Selain itu, untuk menumbuhkan kepekaan pada permasalahan masyarakatnya, mahasiswa perlu didekatkan pada realitas. Begitu banyak dijumpai saat ini mahasiswa yang bahkan tidak mengenal tetangga di sekitar tempat kostnya. Bagaimana bisa ia memahami permasalahan riil yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari padahal ia sejatinya adalah bagian dari komunitas tersebut? Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sejumlah kegiatan kaderisasi telah mengadopsi aktivitas pengabdian masyarakat ke dalam programnya. Kegiatannya beragam, meliputi bakti sosial atau mengajar anak jalanan.

 

Yang terpenting sesungguhnya adalah kontinuitas dan konsistensi dalam menjalankan seluruh program tersebut. Kaderisasi kemahasiswaan seharusnya tidak terbatas pada beberapa hari kegiatan orientasi penerimaan mahasiswa baru. Atau sekian pekan pengkaderan himpunan mahasiswa jurusan tertentu. Selama menjadi mahasiswa, kegiatan tersebut semestinya berlangsung baik dalam suasana formal maupun informal. Hal ini mungkin dilakukan dalam program-program yang digerakkan oleh kemahasiswaan terpusat semacam Kabinet Keluarga Mahasiswa/ Badan Eksekutif Mahasiswa, maupun oleh himpunan-himpunan jurusan. Bisa juga diperkuat oleh lembaga-lembaga kemahasiswaan ekstrakampus.

 

Pembentukan karakter pemimpin dari ranah intelektual tentu bukan proses instan atau karbitan. Tapi merupakan akumulasi pengalaman belajar yang cukup kompleks, hingga akhirnya terbentuk karakter kepemimpinan. Seseorang yang memiliki tujuan jelas, mengetahui metode dan cara mewujudkannya, serta menebar inspirasi dan memandu orang-orang untuk mencapai tujuan bersama tersebut. Maka dari itu, sudah sewajarnyalah jika di kampus-kampus perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki kesadaran akan potensinya untuk melahirkan generasi pemimpin baru bangsa ini, untuk memiliki sebuah cetak biru kaderisasi yang komprehensif.

 

Yang saya sarankan antara lain, proses kaderisasi itu memiliki parameter jelas dalam pembentukan karakter kepemimpinan. Tercermin dalam kepedulian pada masyarakat, kepekaan pada permasalahan komunitas terkecil, lokal, nasional, mungkin hingga isu internasional. Pembentukan kepedulian ini akan membangkitkan keresahan untuk bergerak. Agar tidak semata-mata menjadi generasi penggerutu, mahasiswa pun perlu dibekali modal awal mental solutif. Bagaimana agar otaknya selalu berputar mencari solusi secara fundamental, normatif-strategis, hingga tataran praktis. Hal ini akan lebih mudah bila dikaitkan dengan bidang ilmu yang ia tekuni. Misalkan bagaimana seorang mahasiswa elektro berusaha mendukung program elektrifikasi nasional dengan proyek pembangunan sumber energi alternatif; atau mahasiswa farmasi yang melakukan program pengabdian masyarakat untuk menciptakan budaya sehat di pedesaan, dan lain sebagainya.

 

Sebagaimana yang sempat disebutkan sebelumnya, aksi-aksi kemahasiswaan ini juga jangan sampai terdikotomi antara ranah politik dengan pengabdian masyarakat praktis. Program-program ini harus dipandang sebagai sistem yang terintegrasi. Dimulai dengan kajian-kajian filosofis, dilanjutkan dengan perumusan solusi umum ke khusus, juga disertai proses advokasi melalui diskusi dengan pihak birokrat misalnya. Kemudian diperkuat juga dengan aksi-aksi langsung yang memberdayakan masyarakat. Dengan demikian mahasiswa diharapkan memiliki pengalaman cukup lengkap untuk membangun karakter kepemimpinan dalam dirinya. Dengan semangat melayani rakyat, ia peka mengenali dan memahami masalah, kemudian terlatih untuk memikirkan solusi dan dibiasakan untuk bergerak melakukan langkah praktis solusi tersebut.

 

Sebagai ilustrasi, sistem seperti ini sedang diinisiasi di ITB oleh sejumlah mahasiswa yang memiliki perhatian khusus dalam bidang pendidikan. Mimpi besar untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia dimulai dengan membuat gerakan kecil. Bermula dari kajian-kajian mengenai pendidikan dilanjutkan dengan perumusan masalah pendidikan fundamental maupun kasus-kasus aktual.

 

Yang dilakukan pun diusahakan tidak berhenti pada ranah teoritis saja. Jika memungkinkan setelah dirumuskan sejumlah solusi, baik yang sifatnya fundamental maupun permasalahan cabang, dilakukan pengopinian dan kegiatan advokasi melalui diskusi-diskusi dengan birokrat maupun tokoh masyarakat. Jika perlu aksi turun ke jalan untuk menarik perhatian dan membangun emosi massa terkait isu tertentu bisa saja dilakukan, namun tentunya tetap beretika dan menjauhi kekerasan. Selain itu pengalaman praktis untuk terjun langsung dalam dunia pendidikan pun dilakukan dalam kegiatan berupa pembentukan rumah belajar serta kegiatan bersama dengan relawan-relawan yang bergerak dalam dunia pendidikan swadaya masyarakat.

 

Demikianlah, gerakan mahasiswa yang membentuk karakter kepemimpinan sangat mendesak bagi negara ini yang sedang mengalami krisis. Kita tentu mendambakan hadirnya kembali negarawan masa depan yang juga merupakan pemikir dan perumus solusi bagi masalah bangsanya. Bukan sekedar pemimpin yang mengandalkan citra dan pesona populis semata. Bukan pula pemimpin yang sekedar pernah jadi aktivis semasa mahasiswa namun malah ”meneladani” pemimpin terdahulunya yang pernah ia protes karena ia sendiri tak memiliki konsep untuk transformasi masyarakat ke arah yang lebih baik. Bukan pula tipe pemimpin yang memilih tirani sebagai alat kuasanya karena ia sendiri terbiasa dikader dalam teror dan ancaman untuk mencapai tujuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s