Stasiun

Suara peluit terdengar. Pengumuman dari peron menyambut para penumpang yang baru tiba. Segera terdengar derap langkah para penumpang yang bergegas turun. Aku meraih tasku, lalu memanggulnya, berjalan, dan turun dari gerbong. Beberapa menit kemudian kereta kembali melaju ke arah stasiun berikutnya.

Kutengok kanan dan kiri. Nampak kesibukan yang biasa, dalam aktivitas-aktivitas yang biasa. Di mana-mana  terlihat wajah-wajah biasa. Beberapa orang menunggu kereta dengan duduk di emperan stasiun.  Perkenalan pun dimulai. Berawal dari bertanya hendak ke mana dan kereta tiba pukul berapa. Lantas berlanjut dengan membincangkan kereta yang telat tibanya, keluarga yang hendak dikunjungi dan lain sebagainya.

Seketika dari sebelah utara terdengar suara lengkingan manusia. Seorang pemuda dengan rambut dicat warna pirang adalah sumbernya. Belakangan diketahui ia seorang tuna wicara. Pakaiannya lusuh, seperti yang biasa kulihat pada kebanyakan orang yang biasa menghabiskan hidupnya di jalanan. Ternyata ia diisengi oleh kawannya, seorang pemulung di stasiun. Ia marah, lantas mereka berkejar-kejaran. Yang dikejar berkelit sambil tertawa-tawa. Si tuna wicara semakin gemas dan mengejar lebih kencang sambil mengeluarkan suara melengking-lengking. Sebagian orang yang menyaksikan kejadian itu ikut menertawai kelucuan yang tak kumengerti, lainnya acuh tak acuh.  Yang dikejar tertangkap juga, dipukulnya ia dengan penuh kegemasan. Si pemulung masih tertawa-tawa. Kemudian mereka kelelahan dan duduk bersama menikmati minuman dalam gelas kemasan. Keriangan bersama sahabat ternyata tidak meminta uang dan baju bagus sebagai syarat.

Ada kereta baru tiba. Beberapa orang bangkit berdiri dan bersiap naik. Sejumlah orang turun. Beberapa pedagan asongan turut bersama mereka. Ada pemudi yang melambaikan tangan pada kawannya yang sudah menunggu cukup lama. Banyak juga wajah-wajah sibuk yang menyiratkan kekuatan untuk menaklukan hari demi bertahan setidaknya hingga esok. Terselip juga sedikit siswa yang nampaknya baru pulang sekolah. Wajah mereka disaputi semburat lelah dan kejenuhan. Diantaranya ,aku bersyukur masih bisa melihat paras-paras mungil yang menyembul dari gendongan ibu mereka. Kemurnian auranya tak pernah gagal untuk menerbitkan senyum. Sudah tiba sejumlah rombongan baru, batinku.

Seorang ibu yang sedari tadi duduk di sampingku bangkit berdiri. “Saya duluan”, ujarnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya dan berkomentar dalam hati, aku ditinggalkan. Kebersamaan itu ada pangkalnya, maka kita pasti akan bertemu ujungnya. Kereta itupun berangkatlah.

Masih ada beberapa kereta lagi yang tiba dalam puluhan menit berikutnya. Kotak-kotak teknologi yang menghantarkan manusia dalam ruang. Kulihat juga wajah-wajah mereka terbingkai kotak jendela yang berjejer sepanjang gerbong. Apakah benar semua orang itu benar-benar ingin pergi? Sungguhkah mereka semua itu menginginkan perjalanan?

“Saya terpaksa meninggalkan anak di rumah, tapi saya harus bekerja.”

“Saya baru pulang seminggu sekali, yah mau bagaimana lagi lowongannya cuma ada di luar kota.”

Ada juga beberapa bule (ya, memang tidak semuanya berambut pirang, tapi kita sebut sajalah mereka itu “bule”) berkeliaran dengan backpack-nya. Bagi mereka, pengalaman berdesakan dalam kereta ekonomi mungkin merupakan pengalaman ‘eksotis’. Sangat menarik dan menakjubkan, sementara bagi para pribumi di sekelilingnya, kondisi ini dikutuk setiap saat.

“Gila, panas banget!”

“Eh, jangan dorong-dorong dong, Mas. Saya bawa anak ini.”

“Dasar bos sinting, padahal dia udah enak ga mesti panas-panasan desak-desakan kayak kita gini, mobil ber-AC, hidup nyaman, tetep aja di kantor marah-marah teruuusss. Tenaga kita diperas, gaji naik, mimpi!”

Orang-orang terus berdatangan dan pergi, para pedagang asongan naik turun gerbong, kembali lagi ke stasiun awal dan terus menjajakan dagangannya. Para karyawan PT. KAI pun mondar mandir menawarkan makanan dan minuman di dalam kereta untuk menutupi pendapatan perusahaan karena tarif transportasi yang dipaksa murah tanpa anggaran memadai untuk biaya operasi. Orang-orang lebih sering mengingat kereta yang terlambat datang, gerbong yang kotor, kecelakaan karena kelalaian masinis ketimbang para penjaga pintu palang yang berjaga di pos-posnya, penjaga tiket yang melawan kebosanan, petugas kebersihan yang menyapu di gerbong-gerbong. Orang-orang lebih mudah mengumpat dan semakin jarang berterima kasih.

Di stasiun kita turun, di stasiun juga kita naik kereta berikutnya. Stasiun seolah jeda. Jeda membuka ruang perenungan.

(Stasiun Jatinegara, Oktober 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s