Gelap ‘kan Sirna

Satu masa

Lewat berganti

Diputar detik

Detak ku berhenti

Tiba ‘tuk menyepi

Sendiri kubermimpi

 

Luka hati

Bagai ada duri

Beragam coba

Ingin kututupi

Mataku mengabut

Teteskan kerinduan…

 

Kasih…

bayangan sedih perlahan pupus jua

Badai gelap, kini sinarkan cahaya…

Sayup sepi percikan rasa damai

Pintu hati kini kubuka ‘tuk jelang esok….

 

Pijar api barakan dendamku

Getaran cinta, padamkan kembali

Nama-Mu menyusup

Bisikan lirikku…

menggapai-Mu

 

(Chrisye)

 

Masih dalam rangkaian tulisan curhat berhubung masih ada yang tidak beres dengan otakku belakangan ini. Duhai, sampai kapan? Entah mengapa beberapa waktu ini juga aku sering dipertemukan dengan sejumlah orang yang memiliki masalah pelik. Semuanya bagai tinta dengan berbagai warna yang tercurah ke kepala, bercampur, dan jadilah hitam semuanya. Jika menggunakan analogi benang, mungkin bukan lagi kusut tapi sudah bergumpal menjadi bola benang yang tidak jelas mana pangkal mana ujung.

 

Lagi-lagi, dalam kondisi seperti ini biasanya aku tercenung dengan telepon genggam di tangan. Kepada siapa bisa berbagi? Dengan siapa bisa bertukar beban? Manusia seluruhnya berkutat dengan masalah masing-masing. Pada detik yang sama terbetik kesadaran, aku tak perlu bahu orang lain untuk bersandar. Karena Allah telah menguatkan kita dengan keyakinan selalu ada kesempatan untuk tersungkur, bersujud padaNya, untuk memohon kekuatan. Benar bahwa setiap ujian akan diberikan sesuai dengan kemampuan hambaNya. Tapi bukan berarti setiap ujian itu pula mudah dirasa.

 

Kuingatkan diri, siapakah engkau? Tengok dalam cermin, inikah wajah hamba yang senantiasa berserah diri, atau tidak? Inikah cerminan hamba yang benaknya penuh dengan persoalan umat, atau tidak? Apakah ia yang selalu mengharap pertolongannya dalam shalat dan sabar, atau tidak? Iakah yang tak pernah luput menebar salam dan doa-doa kebaikan bagi saudaranya, atau bukan? Atau mungkin sosok itu yang suci pikirannya dari prasangka-prasangka buruk, atau tidak? Yang lisannya tak pernah terpeleset, atau tidak? Bisa jadi mungkin ia yang tidak pernah melempar pandangannya pada yang diharamkan, atau tidak? Yang tak pernah melalaikan amanahkah?

 

Mengapa kita selalu merasa berat, sulit, dan gundah  pada kesempatan diuji? Sungguh ujian itu niscaya bagi orang-orang yang mengaku beriman.

 

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ٢٩:٢

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? [Al-Ankabut:2]

Advertisements

2 thoughts on “Gelap ‘kan Sirna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s