Tantangan Menjadi Pembaca Media (Bagian 1)

Kebebasan berwacana dan maraknya jurnalisme warga (citizen journalism) memang menimbulkan banyak efek pada struktur pengetahuan masyarakat. Arus informasi yang lalu lalang seringkali menimbulkan kebingungan bahkan keraguan dalam membaca realitas. Perbedaan sumber berita menghasilkan perbedaan kisah yang tajam. Laporan  yang satu bersebrangan dengan kesaksian yang lain. Pertanyaanpun muncul: “ Apa yang sebenarnya terjadi?”

Media massa  mainstream sekalipun tidak terbebas dari “dosa” pembiasan berita. Misalkan sejumlah laporan yang dilabeli investigatif. Entah itu menguak sindikat penjual minuman dengan pewarna tekstil, bakso daging tikus, atau tahu berformalin. Anehnya, selalu mengambil kesaksian dari narasumber yang wajahnya digelapkan dengan suara disamarkan. Efeknya sekedar menimbulkan fobia di tengah masyarakat yang masih cenderung melakukan generalisasi. Belum lagi ditambah berita tentang dugaan aksi-aksi teror  yang sering mengarah pada pewacanaan dan stigmatisasi tertentu. Pemberitaan konflik horizontal pun seringkali hanya memuat cerita satu pihak. Menggiring kesimpulan pemirsa/pembaca terkait mana yang benar atau salah. Seolah-olah atau mungkin sudah terjadi trial on media. Sekali lagi kita bertanya,”Apa yang sesungguhnya terjadi?”.

Menyadari hal itu, membaca media, baik cetak maupun elektronik, lantas menerimanya mentah-mentah merupakan tindakan ceroboh. Apalagi jika langsung ditimpali dengan respon emosional. Sungguh naïf jika kita masih memandang media sebagai pewarta innocent tanpa ada tendensi apapun dalam pemberitaannya. Tulisan ini tidak mengajak siapapun untuk seketika menjadi media unbeliever. Bukan semata-mata menyebar keraguan terhadap informasi yang berseliweran setiap hari dari berbagai corong. Akan tetapi, mengingatkan kembali, bahwa konsumen berita adalah pihak yang aktif; memiliki pilihan dan kemampuan untuk memilih dan menyeleksi serta meminta klarifikasi atas berita-berita yang ada.

Apakah Pers Tidak Memihak?

Pers yang netral merupakan pandangan umum yang beredar dan juga menjadi idealisme jurnalistik. Pemberitaan harus menjauhi bias, tidak berat sebelah,  dan lain-lain yang kemudian dibakukan dalam kode etik.

Pandangan-pandangan demikian lahir dari paradigma positivistik. Ia memandang relasi serta interaksi yang terjadi di tengah masyarakat  sebagai hal natural. Penyampaian berita oleh wartawan merupakan pelaporan yang dapat dilakukan secara empiris, objektif.

Perlu diketahui bahwa media tidak lahir dari ruang vakum. Media eksis di tengah lapangan kenyataan yang tak terlepas dari konflik, berbagai pandangan, maupun kepentingan. Bahkan Althusser menyatakan bahwa media dalam hubungannya dengan kekuasaan memiliki posisi strategis terutama karena anggapan akan kemampuannya sebagai sarana legitimasi. Sementara bagi Gramsci, media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi. Ia dapat menjadi alat untuk membangun dominasi atas kultur dan ideologi pihak-pihak yang berkuasa (hal ini dapat saja mencakup pemerintahan, pemilik modal, atau pemilik kepentingan lain yang dominan). Ia juga dapat menjadi alat perjuangan bagi pihak lain yang tidak memiliki representasi dominan. Singkatnya, media tidaklah netral



Advertisements

One thought on “Tantangan Menjadi Pembaca Media (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s