Lentera Jiwa

lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
‘sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku di samudra hidupku

kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku

kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

Dalam sepekan ini setidaknya ada beberapa orang yang kujumpai sedang merasa gundah karena merasa belum menemukan passionnya dalam hidup. Hidup dijalani namun belum bisa dinikmati sepenuhnya. Seolah masih berada dalam pencarian panjang tentang sesuatu yang menjadi visi dalam hidup. Berkiprah sebagai apa dan bagaimana yang mengakomodasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki diri serta merasa nyaman dan menikmati setiap tahapannya. Apa itu kondisi yang membuat seseorang merasa bahagia di bumi?

Isu ini sudah sejak lama menjadi bahan yang kubincangkan berkali-kali, dengan banyak orang. Terutama sejak aku cukup serius menggeluti dunia pendidikan dan menemukan kenyataan bahwa banyak orang ”tersesat”. Kesasar karena menghabiskan waktu dalam hidupnya untuk mengerjakan hal yang ”bukan lentera jiwanya” kalau pinjam bahasanya Nugie dalam lirik lagu di atas. Yah, salah satu kasus populernya adalah salah pilih jurusan. Banyak yang berkuliah di suatu jurusan dengan informasi minim sehingga cukup kaget ketika berhadapan dengan dunia bidangnya yang sesungguhnya.

Alasannya macam-macam. Ada yang terpaksa karena mengikuti kehendak orangtua. Ada juga yang sekedar terbawa arus tren, atau ikut teman-teman, bahkan sekedar iseng. Beberapa di antaranya terus mengikuti arus dan menjalani apa yang kadung dipilihnya menjadi karirnya. Sekalipun tidak benar-benar merasa tenang dan lapang, tapi dijalaninya juga. Sementara itu, yang lainnya bergulung dengan kegundahan. Pertanyaan yang bertubi-tubi menusuk benaknya ”Apa yang saya inginkan dalam hidup?”. Apa yang ingin saya lakukan? Apa yang perlu saya kejar?

Dalam konteks ini, aku memisahkan ranah pencarian tujuan hidup yang mendasar, yang terkait dengan tujuan penciptaan. Anggaplah orang-orang yang kubahas ini mereka yang sudah menemukan konsep hidup yang dikaitkan dengan aspek religius. Mereka tahu posisi sebagai hamba Tuhan dan hidup bukan melulu mengejar materi. Akan tetapi mereka masih bingung terkait peran spesifik yang bisa dijalankan untuk membangun dan mengembangkan peradaban. Kalau disederhanakan, ”baiknya saya berprofesi sebagai apa?”

Gejala Sistem Pendidikan yang Kurang Memanusiakan

Ini sebetulnya adalah hasil yang kita tuai dari sistem pendidikan yang kurang manusiawi. Sedari awal kita telah dibiasakan untuk melahap ilmu sebagai modal ujian dan naik pada level-level kehidupan selanjutnya. Begitu saja. Sekolah-lulus-bekerja. Prestasi diukur dari parameter-parameter yang cenderung bertumpu pada materi atau kalaupun immaterial, sekedar kebanggaan alias prestise. Sehingga waktu kita habis untuk menaklukkan ujian, untuk berkompetisi, lupa bahwa pendidikan mestinya menambah nilai kemanusiaan pada setiap individunya.

Banyak siswa yang sekolah tinggi, juara pada berbagai perlombaan, namun tidak mandiri dalam hidupnya. Terbiasa dilayani. Cerdas berargumen, namun tidak peka pada permasalahan orang-orang di sekelilingnya. Menguasai penyelesaian soal-soal rumit, namun tidak mengerti berperilaku santun dan beretika. Ah, bahkan dalam konteks kemampuan berpikir pun, terkadang banyak yang sekedar meng-copy apa yang sudah pernah diberi. Tidak banyak yang benar-benar kritis dalam keilmuannya. Kemudian, masalah yang lebih spesifik lagi terkait tujuan penulisan artikel ini, banyak yang tidak tahu untuk apa ia belajar, untuk apa ilmunya itu.

Selain itu, paradigma yang populer adalah pendidikan itu untuk mendapat pekerjaan layak dan mendapat uang banyak. Maka jelas, bidikan bidang-bidang keilmuan yang diminati adalah yang menjanjikan karir yang baik dan biasanya menghasilkan profesional bergaji besar. Jurusan-jurusan teknik atau kedokteran biasanya menjadi raja. Passing grade dalam seleksi mahasiswa barunya berada pada peringkat tertinggi. Mitos insinyur pasti sukses dan dokter selalu kaya sudah melekat kuat di benak banyak orang. Tak heran bila kemudian banyak anak (atau orangtuanya) yang membidik jurusan-jurusan tersebut.

Karena ini adalah iklim kompetisi, dan kapasitas terbatas, otomatis terdapat seleksi. Hanya yang terbaiklah yang kemudian mendapatkan kursi dan berhak mengenyam pendidikan tinggi pada bidang sesuai harapan mereka (sekalipun belum tentu sesuai dengan apa yang sungguh-sungguh diinginkan sesuai dengan potensi dan bakatnya). Akhirnya, yang terbaiklah yang lolos. Yang memiliki nilai-nilai tertinggi saja yang mendapat kesempatan mempelajari bidang-bidang studi favorit. Bagaimana dengan yang lain? Mereka yang tersisih, mau tak mau memilih bidang lain: keguruan, sastra, dll. Memang tidak semuanya demikian, ada juga yang sejak awal mengenali bakat dan minatnya kemudian melabuhkan pilihannya pada bidang-bidang tersebut. Tapi sekali lagi kukatakan, itu hanya sedikit.

Jadi banyak hal sebetulnya yang menyebabkan para siswa terhanyut dalam rutinitas sekolah yang melelahkan tanpa benar-benar punya waktu merenungkan apa yang dia lakukan. Untuk apa dia menuntut ilmu. Ilmu apa yang sebenarnya ingin dia geluti benar-benar. Hendak jadi apa dia kelak. Permasalahan besarnya kurangkum sebagai berikut:

  1. persoalan mendasar  terkait paradigma pendidikan yang telah melenceng jauh. Dari tujuannya meningkatkan kualitas kemanusiaan menuju kesempurnaannya, sekedar menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan manusia demi penghidupan yang baik.
  2. penyamarataan potensi manusia, sehingga tidak ada lagi unsur keunikan dalam proses belajar setiap individu.
  3. ketiadaan pengaitan proses pendidikan dengan aspek strategis pemetaan sumber daya manusia terkait pembangunan dan pengembangan peradaban.

Melencengnya Paradigma Pendidikan

Paradigma pendidikan yang telah melenceng, jelas telah menghapuskan nilai mulia pendidikan itu sendiri. Entah berapa orang sudah berkata, sekolah kini tak ubahnya bagai pabrik yang memproduksi robot. Anak-anak masuk sekolah dengan seleksi seolah penyeleksian bahan baku (bahkan kini, masuk SD pun ada seleksinya, bayangkan trauma yang dihadapi seorang anak berusia enam atau tujuh tahun jika ia dinyatakan ”kurang kompeten” untuk menjadi siswa suatu SD). Setelah lolos, mereka diproses. Para siswa dianggap sebagai cangkir besar kosong yang siap diisi dengan ilmu macam-macam. Seperti robot yang dirakit kemudian diinstalkan padanya berbagai keterampilan untuk memudahkan pekerjaan manusia kelak. Setelah masa pendidikan usai, mereka diuji, yang lolos akan siap dilempar ke pasar tenaga kerja sebagaimana produk pabrikan yang dilempar ke pasar setelah lolos uji kontrol kualitas.

Jika kita membincangkan tentang kualitas kemanusiaan tentunya akan sangat abstrak. Banyak parameter yang mesti disepakati. Namun dalam kesempatan ini aku hanya akan mengambil sebuah simpul besarnya saja. Kualitas kemanusiaan yang dimaksud adalah yang terkait dengan kebutuhannya untuk menjalankan tugasnya di bumi. Tugas apa? Hal ini tentu terkait dengan tujuan penciptaannya. Dalam sudut pandang Islam, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhannya serta untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dimensi kehidupan manusia adalah pengabdian. Mengabdi pada Tuhan. Sementara bentuk pengabdiannya sangat beragam. Bukan sekedar dalam praktik-praktik peribadatan formal. Namun juga terkait seluruh interaksi dalam kehidupannya. Bagaimana ia menghidupi diri dan keluarganya, bagaimana ia membangun masyarakatnya, bagaimana ia mengelola alamnya. Ia adalah hamba sekaligus juga pemimpin.

Untuk bisa melakukan seluruh tugas kemanusiaannya itu, manusia membutuhkan persiapan. Manusia harus diberi ilmu, agar mengarahkan dirinya secara optimal untuk menjalankan tugas berat tadi. Pendidikanlah yang menjawab tantangan itu. Jadi pendidikan bukan semata-mata investasi atas penyiapan kemampuan manusia untuk memenuhi hal-hal yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidupnya saja. Itu hanya sebagian kecilnya saja.

Penyamarataan Potensi Manusia

Yang kedua, terkait optimalisasi potensi. Ada dua konteks potensi yang akan dibahas dengan singkat pada bagian ini. Yaitu, potensi kehidupan manusia serta potensi kecerdasan. Sebagaimana makhluk hidup umumnya, manusia memiliki kebutuhan fisik yang melekat pada dirinya. Untuk tumbuh dan berkembang, manusia perlu makan, minum, juga istirahat. Ia pun perlu melakukan sejumlah aktivitas dalam rangka menjaga kesehatan serta kebugarannya. Di samping itu manusia pun memiliki kecenderungan-kecenderungan naluriah. Wajar saja bila ada orang ingin kaya, punya rumah mewah, ingin berkuasa, populer, dicintai keluarga, semua itu termasuk modalitas kehidupan.

Setiap aktivitas yang dilakukan manusia pada dasarnya merupakan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan kecenderungan naluri ini. Meski demikian kita melihat adanya perbedaan dalam upaya tiap orang dalam memenuhinya. Ada yang makan dari hasil pangan yang ditanamnya sendiri, atau berjual beli dengan orang lain, serta ada juga yang mencuri. Perbedaan perilaku ini lahir dari perbedaan sikap yang dihasilkan dari proses berpikirnya. Berbeda dengan hewan yang tak bisa menalar, manusia punya banyak sekali pilihan untuk memenuhi setiap kecenderungannya, baik yang bersifat fisik maupun naluriah. Dari mana manusia bisa memilih satu sikap dan meninggalkan yang lainnya? Sistem nilai yang membuatnya seperti itu. Sistem nilai yang dienkulturasi padanya oleh generasi sebelumnya. Membuatnya memiliki standar-standar yang digunakan untuk mempertimbangkan banyak hal.

Sementara untuk potensi kecerdasan, aku tertarik untuk menggunakan konsep multiple intellegences yang dikonsepkan Gardner. Kecerdasan manusia itu tidak tunggal. Sepanjang hidup, kita menemukan orang-orang hebat dengan kecerdasan beragam. Jika diminta menilai mana yang lebih pandai antara Soekarno atau Rudi Hartono,; J.R. Tolkien atau Mahatma Gandhi; Mozart atau Michaelangelo; Jodie Foster atau Benazir Bhutto, tentu kita kesulitan. Orang-orang yang disebutkan tadi memiliki kualitas spesifik dalam bidangnya masing-masing. Akan tetapi, sistem pendidikan di sekolah saat ini tidak mengapresiasi hal itu. Hanya ada deskripsi sempit bagi siswa cerdas, katakanlah memiliki nilai bagus dalam matematika atau pandai fisika. Oleh karena itulah, banyak sekali potensi sisa yang terabai. Bisa dibilang banyak juga kuncup bungan yang layu sebelum berkembang. Belum lagi kalau bicara tentang metode evaluasinya yang tidak merangsang siswa berpikir, terlalu simplistik dan tidak memberikan gambaran benar-benar terkait kemampuan siswa.

Ketiadaan Pemetaan Strategis Terkait SDM

Subjek isu ini jelas bukan individual. Sebuah bangsa besar dengan visi yang jelas sudah memiliki arah yang jelas dalam pembangunannya, dalam cita-cita menyejahterakan rakyat, dan menentukan posisinya di antara bangsa-bangsa lain. Untuk gambaran yang sederhana, bangsa ini memiliki pandangan jauh ke depan terkait bagaimana ia akan “menjadi”. Terdapat data yang valid terkait seluruh sumber daya yang dimiliki untuk menggapai visinya tersebut. Namun karena tulisan ini, berfokus pada aspek strategis pendidikan, maka yang ditinjau sekedar sumber daya manusia, bukan yang lainnya.

Bangsa tersebut mampu memetakan kebutuhan tenaga profesional di setiap bidang yang dibutuhkannya. Akses terhadap pendidikan dasar dibuka seluas-luasnya. Fasilitas pendidikan maupun penelitian dipenuhi maksimal. Informasi tersebar luas di setiap ilayah terkait peluang karir terkait berbagai bidang dalam upaya pemenuhan kebutuhan bangsa (tentu juga masyarakatnya). Setiap profesional dihargai dari jasanya dalam mengisi pos pembangunan peradaban, bukan rupiah yang dihasilkannya. Untuk profesi-profesi strategis dan membutuhkan tenaga yang cukup banyak, dibuka kesempatan yang lebih lebar dengan kapasitas yang diperbanyak, kemudahan akses, dan sosialisasi yang membangkitkan motivasi para pelajar untuk memperdalam bidang yang bersangkutan. Para lulusannya pun tidak sulit dikaryakan begitu menyelesaikan pendidikan karena sesuai dengan kebutuhan strategis negara.

Masih jauh menuju ke sana? Benar karena yang dibutuhkan adalah tatanan baru. Tatanan baru yang berbeda dari dasarnya. Namun dalam apresiasi individual, bisalah sedikit demi sedikit kita coba menilai aspek strategis sumber daya diri kita sendiri. Apa yang bisa kita sumbangkan dari potensi kita secara strategis bagi masyarakat sekitar kita saat ini. Apa yang mereka butuhkan saat ini?

Penutup

Melihat kompleksnya permasalahan, untuk menyelesaikannya tentu perlu penanganan sistemik. Target bukan satu dua orang, tapi sejumlah generasi yang kadung bingung dan tersesat. Akan tetapi, sebagai inspirasi bagi individu yang masih saja berpikir dan mencari jawaban, aku ingin berbagi beberapa hal. Cobalah breakdown beberapa hal terkait kendala-kendala di atas.  Beberapa pertanyaan berikut ini kiranya akan cukup membantu sebagai pemandu untuk menemukan jawabannya:

  1. Sudahkah kau tentukan tujuanmu dalam hidup? Kepada apa, siapa, atau untuk apa kau mengabdikan hidup, beserta alasannya.
  2. Temukan arahan umum yang dapat membantumu menjalankan tugas pengabdian tersebut.
  3. Seberapa jauh kau mengenal dirimu? Bukan sekedar data bio yang petugas kecamatanpun mengetahuinya dari data kependudukan. Namun apa saja potensimu, yang masih terkubur, belum teraktualisasikan, atau justru sudah dikembangkan.
  4. Ingat-ingat lagi hal apa saja yang membuatmu merasa kau mampu melakukannya. Hal-hal yang dapat juga dikatakan sebagai prestasimu. Kau bisa juga mencari pendapat orang lain terkait hal ini.
  5. Lantas apa yang membuatmu nyaman saat menghabiskan waktu? Pekerjaan apa yang sangat kau menikmati hingga dapat melenakanmu; membuatmu lupa dari rasa lelah, kecuali memang telah tiba saatnya istirahat?
  6. Lihat sekelilingmu, sosok apa yang dibutuhkan orang-orang di sekelilingmu? Untuk meningkatkan kualitas hidup mereka? Jangan berpikir sempit sekedar perkara pengembangan keekonomian dan tetek bengeknya saja. Lebih jauh lagi lihat, peran apa yang kira-kira dibutuhkan dan sesuai dengan kapasitasmu.
  7. Jumpai orang-orang yang kamu cintai. Yang keridhoan mereka adalah semangat dan motivasi terbesarmu. Minta pendapat mereka terkait harapannya padamu. Kau memang tidak akan hidup untuk orang lain. Tapi siapa tahu keinginan mereka adalah inspirasi.
  8. Bergaul lebih luas, lihat berbagai kemungkinan dan peluang untuk mengembangkan diri.
  9. Berkreasilah, dengan seluruh informasi yang telah dikumpulkan tadi, pikirkan dengan tenang, rileks, dan mendalam, terkait apa yang ingin, perlu, dan akan kau lakukan. Sembari selalu meminta petunjuk dari Nya. hanya Ia yang Mahatahu.
  10. Saat ini kau ada di mana? Sudahkah berada pada jalur yang tepat? Jika kau merasa salah jalur, pikirkan dalam-dalam. Perlukah berbalik arah, atau mencoba berkompromi? Jika perlu, ambil keberanian, tetapkan kau siap atas segala resikonya. Jika kau sudah merasa ada pada jalur yang tepat, tengok lagi komitmenmu. Buat lebih spesifik target-tergetmu. Konsisten dan tetaplah minta petunjuk serta pertolongan-Nya. Juga dukungan dari mereka yang mencintaimu.

Ini semua hanya satu bagian dalam hidup yang masih saja dalam rangka memilih. Dengan kehendak yang kau miliki, kebebasan untuk mengambil jalan apapun terbuka. Bersama itu turut pula konsekuensinya.

Semoga Sukses.

Aku lihat semua orang pergi memburu bayang-bayang
Aku lihat diriku terkurung di batas waktu
Dan kulihat di wajah dunia
Sukmaku dalam gelisah
Kukatakan pada diri
Ini kan kuhadapi
Ku akan terus berlari
Kuikuti matahari
Angan dan harapanku luas membentang tinggi
Ku akan terus berlari
Dari hari ke hari

Advertisements

One thought on “Lentera Jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s