Suara Gitanjali


Dalam kerinduan pada entah, sembari menatap  hampa yang memekat, rasanya seperti mendapatkan lagu yang tepat dengan suasana hati, kala bersitatapku dengan sejumlah bait dalam Gitanjali. Ya, Gitanjali karya Rabindranath Tagore, yang berbunyi:

 

Hanya cinta yang sedang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya. Karena itulah mengapa begitu terlambat  dan mengapa aku dipersalahkan.

Mereka datang bersama hukum-hukum dan undang-undangan untuk mengikatku erat-erat, tetapi aku selalu menghindar. Karena hanya cinta yang sedang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya.

Orang banyak menyalahkan aku dan menyebutku tak peduli, dan aku tak ragu mereka benar dalam hal itu.

Hari perayaan telah usai dan kerja yang menyibukkan telah berakhir. Mereka yang menyebutku gagal telah kembali pulang dalam kemarahan. Tapi hanya cinta yang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya.*

 

Aduh, diriku menanti cinta pula. Semangat dalam hidup  yang membuat arti tiap kali membuka mata. Jatuh cinta setiap pagi sejak kuserahkan diri di tangannya. Kerja dan hidup macam apa yang bisa menjelmakan makna sedemikian penuh. Ini soal menjadi apa, bukan bersama siapa. Dunia apa yang bisa kuterjemahkan sebagai rumah cintaku. Dari sekian banyak penarik hati, tangan manakah yang paling tepat kuraih dan kuserahkan diriku. Kutetapi sulit mudahnya. Kuhadapi badai damainya. Yang menjadi alasan khusus aku dan segala dalam aku diwujudkan Yang Kuasa. Di mana relungku di jagat ini.

 

Aku diburu waktu. Napasku tersengal berbalapan derasnya aliran butiran pasir. Namun pada mata mereka, aku hanya termangu bodoh karena terus menunggu, sementara mereka pontang-panting berlari pagi petang. Tiada yang mendengar, dalam diriku ombak berderu, berpacu seru. Dalam menunggu tiada damai. Dalam menunggu risau menggaduh, gundah meriuh. Menghentak-hentak jiwa. Menendang-nendang kuat seolah hendak lompat dari tubuh yang terpaku, termangu.

 

Aku harus mulai melayarkan kapalku. Saat-saat yang membosankan berlalu di pantai-aduh diriku!

Musim semi setelah selesai memekarkan bunga-bunga ia pergi. Dan kini dengan sambil membawa bunga-bunga layu dan pudar aku menunggu dan termangu.

Ombak-ombak menjadi gaduh, dan di pantai yang berpohon-pohon rindang, daun-daun kuning menggelepar dan gugur ke atas bumi.

Kekosongan apa yang kini kau pandang! Tidakkah engkau rasakan getaran yang sedang melintas udara bersama nada-nada lagu nun jauh di sana mengalun dari pantai yang lain?**

 

* kidung ke-17

**kidung ke-21

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s