Hal yang sedikit melegakan

Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran, andaikata ‘Aisyah r.a. dikaruniai sejumlah putera, apakah ia masih bisa meriwayatkan ribuan hadits dan menjadi guru bagi para shahabat dan shahabiyah?

Bila nafiisah r.a., salah satu guru imam Syafi’i itu tidak didampingi fulanah yang tidak menikah itu, yang sepenuh perhatian melayaninya, masihkah ada keluangan untuknya mendalami ilmu agama dan menjadi guru banyak orang yang berbondong-bondong menjumpainya?

Ini bukan serangkaian argumen untuk menguatkan opini menghindari nikah. Aku hanya berpikir bahwa peran manusia secara partikular mungkin sangat khas dan siapa yang tahu bahwa Allah menetapkan perannya untuk sesuatu yang tidak sama dengan orng-orang pada umumnya? Tentu tidak mengesampingkan keputusannya dalam memilih peran tersebut.

Pada usia ini, ketika banyak di antara kawan sebaya menimang putera atau puteri mereka, aku masih belum memungkinkan menjadi seorang ibu. Bukan semata-mata karena belum menemukan alasan kuat untuk menikah, tapi pada faktanya tidak ada kesempatan lain yang memungkinkan demikian. Tidak ada kesempatan menemukan anak, dititipi bayi, walau sudah titip pesan kesana kemari, hingga ketika akan serius mencari ternyata tidak dapat izin orangtua. Bahkan, andaikata aku telah menikah pun belum tentu sudah dikaruniai anak, apa jaminanya orang yang menikah langsung punya anak? Intinya, pada saat ini aku bukan seorang ibu. Allah belum mengamanahkan seorang anak untuk dididik dalam tanganku.

Kemudian aku mendengar dan menyaksikan banyak pengalaman, suka duka mereka mengasuh dan mendidik. Kegembiraan saat putera-puterinya mempelajari hal-hal baru; tergelak karena kelucuan mereka; kekhawatiran saat buah hatinya jatuh sakit; kebingungan menghadapi sejumlah hal tak terduga; lebih dari itu, luapan perasaan ajaib yang muncul: menjadi IBU! Pendidik dan pengasuh pertama serta utama anak-anak yang menakjubkan itu. Di sisi lain tak lepas juga beberapa hal yang cukup berat mengiringi, sejumlah “pengorbanan” yang turut serta: kelelahan, kurang tidur, dampak psikologis, penundaan keinginan-keinginan lain dalam rangka aktualisasi diri maupun pengabdian pada masyarakat. Hal-hal yang menjadi harga yang layak dalam pengalaman berharga yang luar biasa ini. Aku kagum pada mereka yang begitu tabah dan bersemangat menjalani peran, termasuk yang mungkin mengaku terlambat menyiapkan dirinya. Tapi mereka belajar terus untuk memberi yang terbaik bagi putera-puterinya sesuai idealisme masing-masing dengan ketulusan yang nyata.

Semua hal itu menjadi bahan pemikiran mendalam dalam diri yang dalam beberapa tahun belakangan ini memendam keinginan mendalam terutama secara emosional untuk menjadi ibu. Selain menyiapkan diri secara keilmuan, bahkan diam-diam aku sudah mengumpulkan sejumlah perlengkapan bayi yang kubeli sendiri maupun angsuran dari beberapa keponakan, haha. Tetapi, mungkin saja, tidak dulu mengalami langsung berbagai momen berharga dalam tantangan mengasuh dan mendidik anak itu—yang sesekali menjadi kerinduan yang terasa menyakitkan—adalah sesuatu yang mesti kupandang sebagai suatu kesempatan.

Belakangan aku menyadari banyak sekali hal-hal yang leluasa kulakukan sebagai seorang yang belum berputera. Aku bisa membaca, belajar, menulis, belasan jam sehari tanpa jeda mengganti popok atau menidurkan bayi. Semua yang kulakukan saat ini dengan bebasnya mungkin akan berubah sekali aku berputera. Padahal selama ini meski sesekali tak tidur waktu yang ada serasa masih tak cukup saja. Meski hanya menebak-nebak, mungkin karena banyak peran lain yang mesti kujalani inilah maka hingga sekarang aku “dibebaskan“ dari tanggung jawab demikian. Ya, tentu bukan terjadi demikian saja, ada kontribusi keputusanku juga di situ. Aku harus dapat memanfaatkan kesempatan ini dan berlomba dalam kebaikan dengan rekan-rekanku yang telah memiliki sejumlah amanah berbeda. Semoga Allah merahmati kami semua yang berupaya beramal sungguh-sungguh, memerjuangkan keikhlasan demi meraih ridho-Nya.

Jadi teringat juga pada Ibnu Taymiyah yang tidak menikah sepanjang hidupnya karena ingin membaktikan hidupnya untuk ilmu dan umat, dan beliau benar-benar melakukannya. Jasa-jasanya sangat besar dirasakan. Aku merasa tertantang namun sedikit pesimis, sanggupkah aku melakukan hal yang sama? Menghasilkan kontribusi yang luar biasa sebagai kompensasi keputusanku? Jujur aku masih tidak tahu. Tapi aku telah sampai pada suatu keputusan untuk fokus pada apa-apa yang sudah kutargetkan untuk dilakukan, sesuai dengan kapasitasku yang dalam ukuranku harus dioptimalkan sebagai bentuk syukur pada Allah. Aku tidak akan membuang waktu dalam kesedihan ilusional atas ketakhadiran putera yang selalu dirindukan selama ini. Siang ini aku menangis terakhir kalinya kala membereskan sejumlah perlengkapan bayi yang akan kuberikan pada yang lebih dapat memanfaatkannya. Besok aku akan melakukannya Insya Allah, dan setelah itu kuharap aku dapat lebih tenang dan berbesar hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s