Balada di Tepian

Seorang anak susuri tepian sungai, jauh ia tapaki.
Ia menyukai sungai, tapi berbasah-basahan bukan inginnya.
Cintanya untuk lautan, ia merindu samudera.
Dalam hatinya yakinlah ia, sungai ini ‘kan bermuara di segara impiannya.

Kawan yang semula bersama, tak selalu betah,
tak lama berdampingan di jalan itu.
Ada yang tak sabar tiba, lalu terjun berenang ikuti arus,
lainnya tergoda layangan putus dan mengejarnya, ada pula yang kembali, bermain dengan hewan peliharaannya lebih disukai.

Ia berjalan sendiri kini, terbitlah bosan dan percikan air makin banyak membasahi bajunya, ia tak begitu suka. Airnya keruh, bajunya tak hanya basah, juga sedikit kotor.

Lelahnya hentikan langkah, ia duduk, di bawah rindang pohon tepian sungai.
Ia mulai bercakap, pada sungai bisu, “Aku ingin pergi, aku ingin melihat laut tapi denganmu itu menjengkelkan. Tidakkah kau bisa tetap jernih, dan berarus lebih kencang, hingga kulayarkan perahuku. Kau terlalu banyak mengikis tanah. Lihat, airmu jadi keruh, kotor. Kaupun makin dangkal. Sungguhkah di ujung sana kita akan tiba pada laut?”. Tak ada yang menjawabnya. Ia harus meneguhkan keyakinannya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s