Madre dan Filosofi Kopi

Dalam sepekan ini aku membaca dua buah karya Dee. “Madre” dan “Filosofi Kopi”. Aku baru membaca Filosofi Kopi?! Ha! Yah, entahlah sudah lama ada juga sebenarnya, namun kautahu karena sastra kubaca untuk kubaca, seperti harus menunggu sesuatu yang menggerakkanku untuk meraih dan membacanya. Kadang hal itu seperti di luar kontrol (tentu bukan makna yang sebenarnya).

Apa yang terjadi? Kesannya sama. Aku membaca “Madre”, terjun berenang aku ke dalamnya. Seperti birunya permukaan danau yang menyegarkan dan membuatmu tak berpikir panjang untuk segera terjun. Tapi setelah cerita usai, ya sudahlah, kamu merasa cukup puas. Gak nagih. Meski masih ada beberapa cerita dan puisi setelahnya. Begitupun cerpen “Filosofi Kopi” dalam “Filosofi Kopi”. Masih ada beberapa cerita lagi setelahnya, tapi aku merasa kenyang. Enak, tapi sudah cukup, aku tak merasa perlu nambah. Sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaanku pada Dee, baiklah akan kutulis review-singkatku untuk keduanya. Review-review ini memang tidak tajam dan mendalam karena ditulis dalam tempo sesingkat-singkatnya. Akan tapi kesan terdalam yang kutangkap dan berharga buatku semoga tak terlewat. Akhirul kalam, saya tetap suka karya-karya Dee meski tidak semuanya, tapi saya suka gayanya bercerita, yang gamblang, yang luwes, tapi dalam dan menyegarkan. Terima kasih.

Madre

Sejak awal aku menduga cerpen ini akan berkisah tentang seorang ibu. Dari sedikit pelajaran Bahasa Italia yang masih kuingat, madre artinya ibu, bersanding dengan padre yang artinya ayah. Namun seperti dugaan, Dee takkan bisa semudah itu ditebak. Ia menghadirkan kejutan dengan menampilkan sesosok ibu yang lain. Apa itu? Biang roti! Ya, biang roti yang dinamai: Madre.

Tansen, sang tokoh, tiba-tiba diundang ke pemakaman seorang Cina yang tak ia kenal karena yang bersangkutan mewariskan sesuatu padanya. Singkat cerita, warisan tersebut adalah kunci untuk membuka penyimpanan biang roti berusia puluhan tahun yang terus dipelihara, sang Madre, yang dalam cerita dikisahkan diambil dari Bahasa Spanyol (ya, Bahasa Italia dan Spanyol memang bisa dibilang sebelas dua belas, banyak sekali kemiripannya). Tan de Bakker, begitulah nama toko roti tersebut yang setiap rotinya dibuat dengan Madre yang kini diwariskan pada Tansen. Tan si pendiri toko ternyata adalah kakek kandungnya yang selama ini tersembunyi.

Sejak Pak Hadi menceritakan banyak hal-hal aneh baginya, segala sesuatunya tiba-tiba berubah, silsilahnya berubah, hidupnya pun terancam tak sama lagi. Ia menuliskan pengalamannya yang mengherankan dalam blog pribadi, yang menarik Mei untuk mengontaknya. Ternyata ia adalah putri pemilik toko Roti Bogor yang sudah berubah menjadi Fairy Bread. Konon dulu ia dan ayahnya sering mengunjungi Tan de Bakker. Mulanya Mei ingin membeli Madre. Tansen semula tertarik untuk melepasnya dan kembali pada kehidupannya di Bali, tapi ada sesuatu yang menahannya. Meski pegawai terakhir di toko tersebut yang juga menjaga Madre selama ini dengan berat hati menyerahkan segala putusan di tengannya. Madre seolah sebagai pusat. Ibu yang melahirkan kehidupan. Tansen tak bisa begitu saja melepasnya meski ia baru mengetahuinya dan sama sekali asing. Tapi ada tautan  aneh yang tiba-tiba mengikatnya kuat.

Begitulah, cerita berjalan terus hingga kemudian berdua dengan Mei, tidak, tapi bertujuh, dengan mantan karyawan Tan de Bakker yang berkumpul kembali, ia menghidupkan lagi bisnis roti kakeknya.

Aku merasa bersalah menulis ringkasan cerita yang seperti itu, karena sebetulnya sebuah kisah tidak bisa disingkat tanpa menghilangkan keindahannya juga makna-maknanya. Tapi karena ini sebuah review, alur seperti itu saja sudah cukup. Ada sesuatu dalam cerita ini terkait dengan sesuatu yang seperti destined to be. Sulit bagiku mengungkapkannya dengan gamblang. Tapi kadang ada kejutan-kejutan yang membuat kita memilih sejumlah hal yang tidak pernah terpikirkan dalam hidup, sesuatu di luar rencana. Sesuatu yang bukan kaukonsepkan sebagai jalan ideal, kehidupan ideal, namun seketika kau merasa bahwa demikianlah kau harusnya menghabiskan waktumu. Hal itu juga yang diungkap oleh Tansen dalam tulisan blognya di akhir cerita. Dia meninggalkan kehidupan bebasnya yang semula ideal di Bali, lantas terjebak dengan rutinitas kerja di kota yang seharusnya pengap karena sesak dan padat: Jakarta. Tapi ia mengemukakan alasan mengapa ia tak pulang ke tempat yang ia sukai. Karena keluarganya di sana, pada Tan de Bakker, bersama Madre, share holder lainnya yang begitu loyal bertahan sejak muda hingga berusia lanjut, juga peri rotinya. Mereka lebih membutuhkannya dari siapapun juga, sementara baginya rumah adalah tempat di mana ia paling dibutuhkan.

Filosofi Kopi

Padahal judulnya tentang filosofi dan kopi. Tapi, tanpa suatu “panggilan“ itu, tidak juga aku menyentuhnya meski bertahun-tahun. Cerpen ini dibuka dengan ejaan KOPI… k-o-p-i.

Adalah Jody yang bertindak sebagai penutur dan menggambarkan Ben sahabatnya sebagai seorang penggila kopi. Ben sampai berkeliling dunia untuk menelusuri kopi-kopi enak. Bukan hanya untuk menikmati namun juga mengetahui rahasia pembuatannya. Dengan modal pas-pasan, baik dana maupun bahasa, Ia rela menggembel ria demi mendapatkan rahasia kopi di seantero globe. Bahkan kopi tidak lagi menjadi sebuah minuman nikmat baginya. Kopi mengandung filosofi, kopi bahkan filosofi itu sendiri.

Sekembali dari petualangannya, ia mendirikan kafe bersama Jody yang menyumbang modal uang dan pengetahuan keuangan saja. Selebihnya, resep, konsep, diserahkan pada Ben Sang Maestro Kopi. Dalam sekejap kafe mereka terkenal di Jakarta. Jody menggambarkan ketelitian dan kegigihan Ben dalam membangun bisnis mereka. Ia bahkan menguji kompatibilitas setiap furnitur di kafe mereka satu persatu, sambil merasa-rasai nikmatnya kopi di sana. tak kurang dari sekitar lima belas menit perbarang (hitung-hitungan Jody) dia habiskan untuk melakukan hal itu. Jadila kafe mereka sangat unik dengan furnitur yang tak seragam, desain interior yang khas dan tentu saja deretan menu kopi yang kualitasnya tak diragukan lagi karena diracik seorang barista andal.

Ben juga tidak hanya penjual kopi, ia adalah tuan rumah yang baik. Ia mengobrol dengan pelanggan, membincangkan filosofi kopi-kopi yang mereka pesan. Belakangan ia malah mengubah nama kafe menjadi Filosofi Kopi dengan tagline:

Temukan hidup anda di sini.

Hingga suatu hari, ada seorang perlente masuk ke dalam kafe. Ia memberi tantangan untuk menyajikan racikan kopi rasa sukses yang memberi citra rasa kesempurnaan hidup. Mulanya Ben mempersilakan dia untuk memilih dari daftar menu yang ada. Ditolak. “Tak ada!“, sergahnya. Ben pun ditantang untuk menciptakan sebuah kopi dengan filosofi kesempurnaan dengan imbalan 50 juta.

Seketika Ben bekerja keras meracik kopi di malam hari, hingga Jody menggambarkan kafe seolah berubah menjadi lab kimia selama berminggu-minggu. Akhirnya ia menemukan Ben’s Perfecto yang memenuhi tantangan Si Perlente. Ben merasa di atas angin. Ia yang telah berkeliling dunia mencicip kopi di mana-mana kemudian sesumbar inilah kopi terbaik, kopi yang sempurna. Kafe semakin laku dan terkenal.

Pada klimaksnya seorang pelanggan baru datang dan minta disajikan kopi. Ia tak memilih menu, Jody memilihkan Ben’s Perfecto untuknya. Ben yang ingin tahu, menanyakan kesannya. Si bapak tersenyum dan mengatakan kopinya enak meski ada yang sedikit lebih enak. Ben terkesiap dan penasaran…

Cerita selanjutnya adalah pencarian dan keruntuhan arogansi, refleksi masa lalu, serta sebuah kesadaran baru. Ben’s Perfecto yang melalui riset mendalam dan diracik hati-hati ternyata “kalah“ oleh kopi tiwus. Ben terpuruk tentu saja. Ia yang begitu menghormati dan mencintai kopi, sadar bahwa ia telah salah melangkah dan telah terbutakan. Setelah sekian lama akhirnya ia kemudian sanggup berdamai dengan dirinya, dan atas dorongan Jody, sahabatnya, kembali menjalankan bisnis kopi mereka yang begitu dirindukan pelanggannya. Mereka menghadirkan kopi tiwus dalam menu dengan filosofi: meski tiada yang sempurna, hidup tetaplah indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s