9/11/01, 10 tahun kemudian

Peristiwa 9/11 yang terjadi sepuluh tahun lalu telah menimbulkan dampak sosial yang sangat besar secara global. Bukan hanya bagi nyaris tiga ribu korban langsung yang tewas kala itu. Namun yang lebih besar adalah dampak ikutan yang lahir dari kebijakan-kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat setelahnya.

Joseph E. Stiglitz menulis bahwa ongkos yang dibayar berdasarkan respons George W. Bush pasca 9/11 telah merusak reputasi prinsip-prinsip dasar negara Amerika, merusak ekonominya, dan memperlemah keamanannya. Penyerangan terhadap Afghanistan yang diduga bertalian erat dengan alQaeda saat itu dan dilanjutkan dengan Iraq setidaknya menghabiskan dana kurang lebih US$ 3-5 triliun ketika dihitung pada tahun 2008, dan semuanya dibiayai oleh utang. Tak heran bila banyak pihak menganalisis bahwa perekonomian Amerika Serikat saat ini merupakan buah dari petualangannya tersebut.

Dampak lain yang tidak kalah besar adalah terkait perang opini yang digencarkan setelah peristiwa tersebut. Stigma teroris yang melekat terutama pada muslim yang dianggap radikal menjadi jamak dalam benak banyak orang. Meski kenyataannya War on Terror yang digadang-gadang Amerika Serikat lebih tepat jika disebut War of Terror setelah menelan korban paling tidak 137 ribu rakyat sipil yang tewas dalam kekerasan di Afganistan dan Irak; ditambah 1,8 juta pengungsi di Iraq dan 1,7 juta rakyat yang tercabut dari tempat tinggalnya.

Namun yang terjadi setelah itu kurang lebih mendekati yang diinginkan sang adidaya. Peristiwa 9/11 secara tunggal tidak bisa membangun opini global terkait stigmatisasi negatif pada Islam. Di satu sisi, banyak pihak yang justru merasa penasaran dan kemudian mempelajari islam pasca serangan tersebut. Akan tetapi, melalui propaganda berbagai media, Islam kemudian secara massif dicitrakan sebagai kekuatan radikal. Jihad otomatis identik dengan kekerasan tak manusiawi. Hal ini menimbulkan desakan untuk menghapuskan materi jihad dari kurikulum pesantren, setidaknya mereduksi makna jihad sekedar pada istilah kebahasaannya saja: bersungguh-sungguh; atau jihad melawan hawa nafsu. Syariat islam dengan segera menjadi gambaran yang buruk mengenai suatu sistem hukum yang sarat kekerasan, mengekang perempuan dan tidak manusiawi.

Di Amerika Serikat sendiri, propaganda mendiskreditkan Islam dari tujuh lembaga penyandang dana selama sepuluh tahun terakhir ini setidaknya menghabiskan biaya lebih dari US$ 40 juta . Dalam sebuah laporan yang dilansir oleh Center of American Progress, Agustus 2011, terdaftar tujuh lembaga yang menyalurkan dana terbesar pada sejumlah “ahli” yang melakukan studi dan menyebarkan informasi-informasi yang salah terkait Islam. Diantaranya: Donor Capital Fund, Richard Mellon Scaife Foundation, Lynde and harry Baradley Foundation, Newton and Rochelle Becker Foundation and Newton and Rochelle Becker Charitable Trust, Russel Berrie Foundation, Anchorage Charitable Fund and William Rosewald Family Fund, serta Fairbrook Foundation.

Dana-dana tersebut dialirkan pada sejumlah think tank yang bekerja dan berkeliling untuk memberi testimoni termasuk di hadapan badan legislatif terkait ancaman syariat islam. Jaringan kecil ini mencakup Frank Gaffney (Center for Security Policy), David Yerushalmi (Society of Americans for National Existence), Daniel Pipes (Middle East Forum), Robert Spencer (Jihad Watch and Stop Islamization of America), dan Steven Emerson (Investigative Project on Terrorism). Sejauh ini pekerjaan mereka telah memicu debat nasional hingga global terkait muslim dan syariat islam. Secara signifikan, hal ini mempengaruhi opini yang beredar. Dalam polling yang dilakukan pada September 2010, Washington Post-ABC News menunjukkan bahwa 49% warga Amerika menyatakan ketidaksukaan terhadap Islam, meningkat dari angka 39% berdasarkan polling serupa yang dilakukan pada Oktober 2002. Selain itu, terkait aksi terorisme yang dilakukan oleh Anders Breivik yang menewaskan hampir 90 orang di Norwegia disinyalir banyak terinspirasi oleh propaganda yang diserukan oleh para thinktank tersebut. Breivik setidaknya mengutip pernyataan Robert Spencer dan blognya Jihad Watch sebanyak 162 kali di dalam manifestonya.

Gambaran Barat terhadap islam secara spesifik sebetulnya telah cukup banyak diulas oleh sejumlah penulis ternama misalnya Edward W. Said dalam bukunya Covering Islam. “Mengatakan bahwa muslim dan orang-orang Arab sesungguhnya telah dibicarakan dan dipahami, baik sebagai pemasok minyak atau sebagai teroris yang potensial adalah sesuatu yang sedikit berlebih-lebihan. Sangat sedikit tentang detail, substansialitas, dan kehidupan Arab-Muslim yang memasuki kesadaran, bahkan orang-orang yang profesinya melaporkan dunia Islam. Sebaliknya yang ada adalah karikatur kasar dan esensial mengenai dunia Islam yang dihadirkan sedemikian rupa, antara lain untuk menjadikan diri rentan terhadap agresi militer.” Hal yang masih relevan dengan kondisi sekarang, meski ditulis dalam kurun waktu tahun 70-an.

Karena propaganda besar-besaran terkait disinformasi dan misinterpretasi Islam-lah maka sense Islamofobia masih sangat kuat di kalangan masyarakat Barat. Padahal sebetulnya komunitas yang menyebarkannya tidak banyak. Tahun lalu seorang pemimpin gereja kecil di Amerika, Terry Jones mendeklarasikan hari internasional pembakaran al-Quran untuk memperingati 9/11 dan menghadang apa yang disebutnya “evil of Islam”. Di beberapa negara Eropa, sentimen ini disebarkan oleh sejumlah anggota parlemen hingga melahirkan larangan penggunaan niqab, misalnya. Untuk hal ini, dapat kita tunjuk Geert Wilders dari Belanda sebagai salah satu contohnya.

Faktanya, dalam sebuah riset yang dilakukan oleh iERA, menunjukkan bahwa 80% masyarakat Inggris mengaku hanya tahu sangat sedikit tentang Islam, dan 93%nya hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang al-Quran kalaupun tidak tahu sama sekali. Dari hal ini dapat kita simpulkan bahwa sentimen islamofobia yang menyebar di kalangan masyarakat Eropa dan Amerika kebanyakan bukan lahir dari pemahaman yang benar terhadap Islam. Bahkan hanya sedikit yang pernah berinteraksi langsung dengan pemikiran-pemikiran Islam. Namun propaganda yang dilakukan oleh jaringan kecil yang kuat dengan dana besar itulah yang membuat isu ini berhembus kuat. Bahkan sejumlah kalangan menyatakan diri tidak merasa perlu mencari pengetahuan tambahan tentang Islam di luar yang mereka ketahui sejauh ini.

Di sisi lain, animo di tengah-tengah umat Islam terkait syariat Islam justru semakin membaik. Dalam aksi besar-besaran di sejumlah negara Arab belakangan ini, Syariah dan Khilafah kerapkali diserukan sebagai alternatif pengganti rezim yang mereka gugat. Bahkan untuk menyambut kedatangan Erdogan di Mesir beberapa hari lalu, sejumlah peserta aksi menyerukan Mesir dan Turki untuk membentuk khilafah. Dalam sebuah survey yang dilakukan tahun 2008, ditemukan bahwa masyarakat Indonesia yang menyetujui implementasi Syariah menyentuh angka ~80%.

Hanya saja, sebagaimana laporan George Friedman dari STRATFOR, dalam rangkaian Arab-springs sejak awal tahun ini, sebenarnya tak ada satupun rezim Arab yang sukses ditumbangkan. Sejumlah individual seperti Ben Ali dan Husni Mubarak memang berhasil diturunkan akan tetapi sistem pemerintahan yang mereka tinggalkan masih bertahan. Dengan kata lain, gerakan umat Islam untuk mengubah kekuatan pemerintahan tirani yang selama ini berkuasa di kawasan Arab dengan pemerintahan Islam dalam naungan khilafah belum cukup kuat. Bahkan keinginan Barat untuk mengubah negara-negara tersebut menjadi berhaluan semokratis liberal pun masih diragukan. Kemungkinan besar hanya akan berganti dengan rezim tirani berikutnya.

Kesadaran dan pemikiran untuk membangun sistem Islam sebagai pengganti rezim yang runtuh belum menjadi opini umum yang tersebar pada mayoritas rakyat. Akan tetapi masih berkutat di seputar kalangan terbatas. Meski ungkapan-ungkapan kembali kepada islam telah diserukan, gambaran yang jelas mengenai sistem pemerintahan islam sebagai alternatif belum benar-benar tergambar sehingga belum teraktualisasikan dalam gelombang gerakan yang lebih massif untuk menuntaskan revolusi.

Akan halnya di Indonesia, respon positif terhadap Syariat Islam, barulah mencakup pemahaman Islam yang dangkal saja. Syariat Islam yang populer di tengah masyarakat Indonesia barulah sebatas ekonomi Syariah. Itupun baru dipangkas lagi pada sektor finansial dan perbankan syariah yang masih perlu ditinjau lagi kesesuaiannya dengan prinsip syariah. Meski telah ada sejumlah daerah yang menerapkan perda syariah, pelaksanaannya sebatas formalitas dan tidak menyentuh inti persoalan. Akibatnya secuil hukum syariah yang diberlakukan malah menjadi kambing hitam atas kegagalan pemerintah daerah menekan angka kriminalitas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lain sebagainya.

Tafsiran Islam di kalangan masyarakat muslim telah dipangkas sekedar pada wilayah ibadah, akhlaq, dan kini perkara finansial semata. Akannya halnya Islam sebagai sistem kehidupan yang utuh dan menyeluruh belum mendapatkan tempat. Pemahaman yang seperti ini menyebabkan islam digunakan sebagai solusi tambal sulam atas permasalahan yang kadung timbul akibat penerapan sistem nonislami. Ketika aturan yang diambil dari “syariat islam” dipandang “gagal” menyelesaikan masalah, hal itu dinisbahkan pada kegegelan atau ketidakrelevanan islam sebagai tata aturan yang diterapkan di masa kini. Hal ini misalnya terjadi di wilayah provinsi Aceh.

Apalagi syariat Islam terkait jihad, semakin buruk saja kesannya di mata kaum muslim kebanyakan. Terutama karena isu terorisme yang dipelihara di negeri ini. Deradikalisasi yang dilakukan di berbagai lini semakin menjauhkan umat dari pemahaman Islam yang sesungguhnya dan menumbuhkan kecurigaan di antara sesama muslim.

Singkat kata, baik untuk masyarakat nonmuslim maupun muslim, pendakwahan Islam secara massif untuk memberikan pemahaman yang benar dan utuh tentang Islam masih merupakan hal urgen dilakukan saat ini. Dengan mengcounter sentimen Islamofobia yang menguasai masyarakat Barat pada umumnya dan memperdalam pemahaman Islam di kalangan muslim, barulah Islam akan dipahami seutuhnya sebagai agama dan sistem yang penuh rahmat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s