Comblang

Semalam, tengah malam. Biip. SMS masuk. Ah, dari kawan lama, biar kumengantuk, tetap kubuka karena  sudah lama ia tak memberi kabar. Mungkin ada yang penting.

 “Ada ikhwan, 2x tahun, mapan, S1, lokasi luar jawa. Insya Alloh bobot, bibit, bebet OK. Cari akhwat siap nikah dalam waktu dekat dengan kriteria: usia <2x tahun, siap dibawa ke mana saja, keluarga akhwat setuju walimah syar’i, ngaji.  Jika ada, hubungi saya.”

???

Awalnya hendak kubalas SMS itu (teks di atas sedikit disamarkan, tidak persis dengan yang asli diterima), dengan teks: “kupikir ada yang penting, sudah lama kunanti kabarmu, ternyata hanya begitu saja; kalau akhwat yang dicari kenapa aku yang dihubungi?”

Akhirnya tak kubalas. Kuabaikan saja, bisa jadi ybs akan salah paham dan kalau tersinggung bisa berabe jadinya. Tapi sukseslah ia membuatku memikirkan hal ini, meski tidak membuatku terjaga semalaman. Aku tetap tidur dan baru memikirkannya keesokan harinya.

Ini bukan persoalan baru yang mengganggu pemikiranku. Sudah sejak lama sebetulnya. Para aktivis muslim yang menyadari bahwa hubungan yang sah antara laki-laki dan perempuan asing hanyalah melalui pernikahan, dan seluruh hubungan intens di luar nikah tidak diperbolehkan akan memandang bahwa pacaran itu haram. Memang demikian adanya. Untuk pernikahan, banyak yang kemudian mengandalkan perjodohan (padahal sebetulnya, tanpa pacaran, bukan berarti satu-satunya jalan yang tersisa adalah perjodohan).

Lantas, apakah perjodohan itu buruk? Saat ini memang dicitrakan demikian. ” Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya”, begitu katanya, bahkan kata mereka yang kurasa belum pernah membaca roman itu sekalipun (jadi tak paham betul bagaimana duduk perkaranya, kasus Siti Nurbaya itu). Sebetulnya tidak begitu buruk juga. Perjodohan yang tepat[i] bukan hanya menjaga kehormatan kedua belah pihak dengan menghindarkannya dari “penjajakan” via pacaran, tapi juga bisa dibilang cukup efektif. Masalahnya, perjodohan yang seperti apa?

Orang-orang yang kontraperjodohan biasanya akan menolak karena menyerupakannya dengan membeli kucing dalam karung. Sementara yang pro membela diri dengan analogi membeli buku yang masih disegel. Perdebatan yang klise. Aku tak hendak mendramatisasi perdebatan ini. Tapi dari sudut pandang tertentu kedua pendapat itu ada benarnya juga.

Pertama, terkait membeli kucing dalam karung. Perjodohan acapkali dianggap remeh karena dianggap terlalu menyederhanakan penyatuan kedua pribadi yang kompleks, yang perlu penyesuaian diri agar cocok satu sama lain. Hal ini bisa benar, bisa juga salah.

Bisa benar jika sang comblang yang memperkenalkan atau berupaya menyatukan mereka tidak memikirkan mendalam terkait peluang kesesuaian kedua insan tersebut sebagai pasangan hidup.  Dalam kasus-kasus materialistik hal ini sering terjadi. Misalkan perjodohan untuk mendapatkan harta, atau kekuasaan. Jenis ini banyak kita temui dalam melodrama (bagi yang sering menonton melodrama tentu saja, kalau tidak, ya tidak sering ketemu juga). Eh, tapi jangan salah, dalam kehidupan sehari-hari pun ada. Bahkan untuk kepentingan politik yang lebih strategis hal ini sering terjadi, misalnya pernikahan Raja Ferdinand dari Aragorn dengan Ratu Isabel dari Castilla untuk menyatukan Spanyol yang saat itu terpecah dalam empat kerajaan kecil. Kepentingan pribadi seperti pernikahan biasanya dianggap hanya soal kecil dari urusan besar kenegaraan, dan pernikahan macam itu dianggap pengorbanan. Hal-hal yang akan dipandang picik oleh aliran pengagung cinta, nampaknya. Tapi sebetulnya, jika dalam perjalanan pernikahan mereka menemukan kecocokan dan ketentraman satu sama lain, beruntunglah. Dalam kasus lain yang nonmaterialistik, biasanya dipicu oleh kepercayaan yang berlebih. Biasanya terjadi di kalangan aktivis. Semata-mata sama-sama mengaji, dianggap tak ada masalah lagi, random saja dipasangkan dengan kriteria minimum seperti pada kasus SMS di atas[ii].

Padahal pernikahan tidak juga semudah itu (tidak juga hendak kukatakan sulitnya minta ampun hingga yang harmonis itu sangat langka). Tapi bayangkanlah, dua orang yang memiliki kehidupan masing-masing hampir separuh hidup mereka, bertemu di saat dewasa kemudian berkomitmen hidup bersama. Mesti berbagi dalam banyak hal, termasuk dalam hal privat, menghadapi berbagai hal juga bersama- sama meski bukan berarti privasi hilang 100%. Itu baru persoalan yang dihadapi berdua, belum lagi keluarga besar: mertua dan ipar-ipar. Perlu komitmen yang luar biasa besar untuk bisa menghadapi itu semua. Bagaimana itu semua bisa dihadapi dengan baik dan benar bila sedari awal potensinya pun tidak cocok? Apa yang akan teraktualisasi?

Yang kedua, perjodohan dengan dipandu comblang yang paham benar tujuan pernikahan dan mengenal pribadi masing-masing pihak yang akan dijodohkan sehingga dapat memberi keterangan tepat pada orang yang tepat, barulah yang demikian layak dianalogikan membeli buku tersegel yang sudah dikenal isinya dan sesuai dengan yang diinginkan. Bahkan bisa juga tanpa melalui perjodohan di awal seperti yang sempat kusinggung. Entah ada potensi tertentu yang nampak dan sesuai dengan kriteria, ditambah keterangan yang didapat dari kawan, saudara yang terpercaya, kemudian bergerak mengajukan pinangan langsung tanpa perantara. Bial tidak dilanjutkan dengan pacaran, tapi sesuai proses khitbah yang disyariatkan dengan pendampingan, mungkin masih tepat juga analoginya.

Apa yang sebenarnya ingin kusampaikan sebetulnya tak terlampau rumit. Bagi yang ingin menikah melalui proses perjodohan, atau pasangan yang ingin berkesempatan menjodohkan di antara mereka yang sendirian sebaiknya tidak melakukannya dengan serampangan dan random. Memang hal ini tidak terkait hukum halal-haram. Namun hanya mempertimbangkan kepatutan dalam lingkup yang dimubahkan. Mungkin memang yang bersangkutan tidak keberatan “diobral” seperti itu, sebagaimana yang juga dilakukan oleh orang-orang yang mengusahakan menemukan jodohnya lewat biro jodoh. Namun, untuk kalangan aktivis yang seharusnya punya pemahaman lebih dalam terkait hal ini, aku berekspektasi lebih juga.

Bagi mereka yang memahami bahwa pernikahan adalah mitsaqan ghalizha sebaiknya mempertimbangkan kematangan orang yang akan dijodohkan dan kecocokan mereka meski baru dari hal-hal yang nampak (karakter yang menonjol, misalnya), belum lagi ditambah latar belakang keluarga serta rencana hidup masing-masing. Sekedar pernah mendapat materi kajian yang sama saja tidak menjamin memiliki kerangka berpikir yang sama, standar keridhaan yang sama, dll. Sementara banyak sekali peluang yang dapat membangkitkan ketakharmonisan dalam rumah tangga.

Jadi tidak sembarang melempar calon, tapi memikirkan dulu, si A sebaiknya cocok dijodohkan dengan siapa, dan barulah menghubungi keduanya untuk membincangkan kemungkinan-kemungkinan. Jadi bukan menyebar CV yang entah akan sampai ke tangan siapa saja, apalagi kalau di dalamnya tertera sejumlah keterangan yang cukup privat[iii]. Lebih baik malah tidak menggunakan media tertulis untuk menghindarkan jatuhnya keterangan pada pihak-pihak tak berkepentingan. Selain itu, bila dipikirkan benar-benar oleh orang-orang yang mengenal dekat keduanya hingga bisa memprediksi keserasiannya (maka biasanya yang menjadi comblang adalah pasangan suami istri. Bila di luar famili, sang istri mengenal pihak perempuannya dengan baik, ementara sang lelaki kenalan suaminya yang juga cukup dekat ), semakin kecil kemungkinan “gagalnya” perjodohan yang tidak berlanjut pada pernikahan. Ya, proses khitbah tidak menjamin sampainya kedua calon pasangan pada pelaminan. Bisa saja terhenti di tengah jalan karena berbagai halangan. Hal ini dapat dihindari bila sejak awal, berbagai parameter dipertimbangkan pencomblang, termasuk aspek keluarga besar masing-masing. Bukan apa-apa, meski baru separuh jalan, dalam masa khitbah pembicaraannya sudah khusus terkait persiapan pernikahan, maka di dalamnya bisa jadi terdapat aspek-aspek pembicaraan yang sifatnya khusus dan tidak boleh diketahui orang asing. Meski bila gagal, keduanya saling menghormati dan menjaga hal-hal khusus sebagai rahasia masing-masing, tetap saja memungkinkan timbulnya perasaan tidak enak, terutama di pihak perempuan. Seolah-olah sudah punya “mantan” meski tidak pacaran. Bagi pihak lelaki hal ini mungkin tidak jadi masalah, ah entahlah, hanya perkiraanku saja.

Begitulah, kuharap ke depannya aku tak lagi mendapatkan SMS “iseng” seperti ini lagi, entah berapa kali yang sudah nyasar seperti ini. Sembarang saja menjodohkan orang seolah menawarkan barang. Tak ada penelaahan kepribadian masing-masing, pandangan atas kehidupan dan lain-lainnya. Bagaimanapun  pernikahan bukan semata-mata sarana penyaluran naluri seksual secara halal, bagi sebagian orang, maknanya jauh lebih dalam dari hal itu.


[i]  Tepat di sini maksudnya benar-benar sesuai kaidah Syara’. Dijodohkan tidak otomatis bermakna tidak pacaran. Bukankah banyak juga pasangan pacaran yang dijodohkan/dikenalkan oleh pihak lain? Yang dimaksud adalah perjodohan yang setiap pertemuannya menghindari khalwat (berdua-duaan), didampingi mahram atau orang terpercaya yang memediasi dan memamndu proses persiapan menuju pernikahan. Juga menjaga diri dari hal-hal yang tidak dihalalkan di antara pasangan yang belum menikah sekalipun dalam bentuk komunikasi verbal (misalkan kata-kata mesra, dll). Hanya terfokus pada hal-hal yang penting dan perlu dibicarakan terkait rencana pernikahan dan kehidupan pernikahan setelahnya.

[ii]  Kalau kuberi catatan khusus atas SMS semacam itu (tanpa mengabaikan itu bukan satu-satunya informasi yang akan diberikan menjelang pernikahan, karena pada masa pinangan diperbolehkan untuk saling mengenal lebih dalam), ybs termasuk sangat percaya diri pada kualitas “akhwat mengaji” seperti yang dimintanya. Dengan demikian, kriteria lain yang dimintanya hanya urusan remeh temeh, misalkan usia yang lebih muda (mengapa, agar relatif lebih mudah diatur dan tidak berkecenderungan mengatur? Bukankah kalau memang dipercayai memiliki pemahaman yang tepat, tak peduli usia suami, penghormatan akan menjadi hal yang ia junjung kelak? Ah, mungkin ada permintaan khusus dari keluarganya, ya anggap saja begitu). Kedua “mau dibawa ke mana saja”, ini memang terkait dimensi fisis, domisili. Artinya sang istri diharapkan apat mengiringi langkah suami dan mendukungnya di manapun. Namun demikian, meski tidak eksplisit, ini mengisyaratkan harapan akan istri yang lebih pasif dalam penentuan keputusan hidup bersama nantinya. Apakah statement-ku terdengar bernada feministis? Tak heran bila ada yang menganggap demikian. Tapi sekali lagi, bila memang begitu percaya diri dengan kualitas “akhwat yang mengaji” mengapa kriteria ini pula yang dahulu diungkapkan (apalagi bila urutan pengungkapan menunjukkan hirarki, ternyata “mengaji” hanyalah kriteria yang dipikirkan terakhir, yang pertama adalah “lebih muda” dan “penurut”). Bukankah bila ia paham sesuai yang didapatkannya ketika “mengaji” bahwa ketaatan pada suami adalah hal utama, termasuk menaatinya saat diminta mendampingi kepergiannya, kepindahannya. Kenapa hal ini pula yang dinyatakan eksplisit? Kenapa bukan hal-hal yang seperti “memahami pendidikan anak secara islami”; “memiliki ilmu yang memadai dalam hal-hal pengaturan rumah tangga, kesehatan, dll”; atau “dapat mendampingi suami (nantinya) untuk memperdalam ilmu keislaman dan berdakwah”; atau “memiliki karakter lembut dan sabar hingga dapat menenangkan saya yang cenderung pemarah”. Oh, mungkin semua itu dianggap sudah terangkum dalam hasil “mengaji”, sementara kalau “mau dibawa-bawa” tidak tercakup.  Sudahlah, hanya penalaran singkat dan sekilas.

[iii] Aku pernah menemukan selembar CV yang disiapkan untuk perjodohan pada sebuah komputer umum. Ya, mungkin hal ini hanya kelalaian, bukan berarti yang dijodohkan via CV akan mengalami kejadian  sesembrono ini.

Advertisements

2 thoughts on “Comblang

  1. baru baca tulisan teteh yang ini…
    :>

    cocokk banget yaa..hehe. begitulah teh, terlalu banyak pihak yang berpikir hitam-putih tentang masalah ini.

    jauh dari indo..sejenak bikin saya sedikit bernapas lega dari himpitan beban yang saya rasakan. termasuk masalah comblang ini :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s