Self-talk

Saat masih kuliah di Bandung, seorang ibu tetangga kost pernah berkata, “Neng, kalau ibu perhatikan, anak-anak mahasiswa itu sering ngomong sendiri kalau lagi jalan. Kadang sambil senyum-senyum juga.” Aku hanya menanggapi dengan tersenyum saja saat itu. Sejujurnya, aku termasuk dari kalangan yang dibicarakan ibu tersebut. Entah sebetulnya ia hendak “menyinggungku” jua atau bagaimana, tak tahu.

Sejak saat itu aku jadi lebih sering memperhatikan mereka yang lalu lalang di jalanan atau di kampus. Ternyata benar, lumayan banyak. Kalau hendak ujian lebih banyak lagi, mungkin bagian dari usaha menjaga materi yang sudah dipelajari di benak. Ya, perkara itu, kalau materi hapalan sih lumayan, tapi kalau konsep atau hitungan, repot juga.

Aku sendiri, kenapa sering berbicara sendiri? Meski nampaknya tidak begitu normal (komunikasi ‘kan dilakukan dengan sesama, minimal dengan orang kedua, begitu mungkin yang disebut “normal”), jujur hal itu dibutuhkan. Bukan sekedar menyenangkan. Pernah tidak mengalami peristiwa ketika kita memberi nasihat pada orang ternyata saat kita berhadapan langsung dengan masalah serupa, tiba-tiba otak kita macet dan tak tahu harus berbuat apa? Itulah saat otak kita tak mampu berpikir jernih, padahal kita bukan tak tahu solusinya apa. Dalam kasus lain, mungkin solusi yang pernah kita beri pada orang  lain baru teori dangkal, baru sesuatu yang lahir spontan hasil bekerjanya nalar awam. Semua itu (menurut pengalamanku) relatif terhindarkan jika kita memperbanyak refleksi ke dalam diri. Salah satunya, ya dengan berbicara pada diri sendiri.

Saat berbicara pada diri sendiri, kita relatif lebih jujur, dan sadar-tak-sadar kadang mengungkap banyak pikiran mendalam atau perasaan yang sulit terungkap pada orang lain. Nampaknya memang aneh, iya sih, cukup aneh. Nalar kita menyatakan bahwa bertukar pikiran hanya mungkin dilakukan dengan pihak kedua, dan akan sangat bermanfaat bila yang bersangkutan memiliki persepsi berbeda, minimal perspektif berbeda. Dengan demikian, dialog tersebut akan memperkaya pandangan kita. Bahkan memperlebar  sudut pandang kita.

Betul, tapi kita perlu mempersilakan diri kita mengeluarkan hal-hal yang terpendam. Dialog dengan diri akan semakin mempertajam pemikiran yang kita sintesis. Kita bisa menjadi kritik pertama atas ide-ide kita sendiri.

Dalam pembahasan psikologi, perkara self-talk ini terbagi ke dalam dua jenis: positif (PST) dan negatif (NST). Kebiasaan berbicara pada diri sendiri yang sifatnya positif membangun kepercayaan diri dan memberi kekuatan untuk melalui sejumlah hal-hal yang nampak sulit. Sementara yang negatif, tentu sebaliknya. Ia memberi dampak negatif yang menurunkan kepercayaan diri dan melemahkan motivasi.

Oh ya, berbicara pada diri sendiri ini tak selalu seperti bergumam-gumam saat hendak melakukan sesuatu, saat berjalan, dan lain-lain. Juga terjadi saat kita melamun, menulis catatan pribadi, atau memang sengaja melakukan semacam role play dengan memainkan dua peran yang berdialog bersahut-sahutan, berpura-pura menghadirkan sosok lain, atau apapun.

Jadi, berbicara pada diri sendiri memang perlu, dalam bentuk tertentu (positif) dan saat yang tepat (di tengah kehadiran orang lain nampaknya lebih baik tidak dilisankan). Tapi kalau sudah jadi kebiasaan sulit juga, jadinya, ya memang butuh strategi agar tidak dianggap aneh orang-orang. Mungkin perlu beberapa penyamar, misalkan menggunakan headset. Karena sepertinya di tengah-tengah masyarakat kita, menyanyi-nyanyi sendiri di jalanan masih dipandang lebih normal ketimbang  berpikir dengan suara keras (thinking loud) di jalanan.

😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s