Si Geulis

Suatu waktu aku pernah “berkicau” di twitter, kurang lebih: “kalau aku bicara tentang “Si Geulis”, bisa jadi ialah kereta, kali lain mungkin gunung. Satu dua kali, yang kumaksud benar-benar ‘makhluk geulis’”. Hari ini, 28 September adalah hari kereta api, yeay! Aku akan menulis tentang si geulis yang pertama.

“Geulis” dalam Basa Sunda artinya cantik. Anak perempuan sering diberi sebutan eulis, dari geulis, sementara anak laki-laki panggilan umumnya acep/asep dari kasep yang artinya–tentu saja–tampan. Nah, meski kupanggil Si Geulis, kereta yang kusebut ‘Si Geulis’ ini bukanlah kereta baru yang baik rupanya, bahkan termasuk kereta tua KRD (Kereta Rel Diesel) eks-Kereta api Prambanan Ekspres buatan tahun 1982. Hanya terpaut empat tahun saja dari tahun kelahiranku. Tapi untuk sebuah kereta api, usia sebegitu sudah termasuk tua. Sebutannya itu diambil dari namanya.

Si Geulis, nama lengkapnya Bumi Geulis melayani rute Bogor-Sukabumi, sepanjang 57 km. Jalurnya melalui Stasiun Bogor-Stasiun BatutulisStasiun CiomasStasiun MasengStasiun CigombongStasiun CicurugStasiun CijambeStasiun Parung KudaStasiun CibadakStasiun Karang TengahStasiun Pondok LeungsirStasiun CisaatStasiun Sukabumi. Pool-nya ada di stasiun Tanah Abang. Jadi, pagi hari setelah beroperasi dan tiba di stasiun Bogor, pulanglah Si Geulis ke sana.

Aku belum pernah sekalipun menuntaskan rute penuh Bogor – Sukabumi maupun sebaliknya. Paling tidak, seminggu sekali hampir selalu aku pergi ke Bogor atau pulang ke Cibadak bersama Si Geulis. Ya, Stasiun Cibadak adalah pangkal atau ujung perjalananku bersama Si Geulis. Tergantung pukul berapa urusanku di Bogor diselenggarakan. Jika pagi, aku berangkat saat fajar bersama Si Geulis,dan pulang dengan bus atau angkutan colt. Jika siang hari acaraku di Bogor, aku pergi dengan angkutan colt dan baru pulang diantar si Geulis  dari stasiun Bogor senja hari. Pasalnya, si geulis hanya beroperasi satu kali PP sehari. Berangkat dari Sukabumi pukul 5 subuh (tiba di Stasiun Cibadak sekitar pukul 5.30), dan kembali dari Bogor pada jam keberangkatan pukul 5 petang. Jadwal pas untuk para pekerja di kawasan Jabotabek yang tinggal di daerah Bogor-Sukabumi. Tak heran, setiap kalinya di dalam kereta senantiasa penuh. Para penumpangnya selalu berebut untuk bisa mendapatkan tempat duduk. Akupun beberapa kali berdiri dalam perjalanan Cibadak-Bogor selama 1,5 jam itu.

Kalau mendapat tempat duduk, apalagi dekat jendela, indah juga pemandangan yang dapat dinikmati. Gunung Gede dan Gunung Salak menjadi latar di kanan-kiri. Aku paling suka menikmatinya pada perjalanan pagi hari, ketika kabut perlahan menipis dan hamparan sawah di kaki gunung muncul, menyegarkan pandangan. Jalur ini  memang dekat dengan kawasan yang menarik untuk jadi tujuan pariwisata. Tak jauh dari Stasiun Cigombong terletak Danau Lido. Ah, aku senang berada di sana. Memang hanya sekali berlibur ke sana; barbeque night di tepi danaunya sangat menyenangkan, udaranya sejuk, dan tempatnya memang indah. Kawasan ini mulai dibuka jadi tempat pariwisata pada tahun 1940.  Ratu Wilhelmina beristirahat di sana pada waktu itu, dan selanjutnya dibuka untuk umum.

Omong-omong soal sejarah, jalur kereta api Bogor-Sukabumi memang termasuk jalur tua; dibangun sejak zaman Belanda sebagai bagian dari infrastruktur yang digunakan mengangkut hasil perkebunan pada masa pelaksanaan Sistem Tanam Paksa. Jalur aslinya terbentang dari Bandung hingga Jakarta. Melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan surat keputusan raja Belanda, pada tahun 1869 dimulailah pembangunan jalur Batavia (Jakarta) – Buitenzorg (Bogor) – Bandung oleh NIS. Pada 31 Januari 1873, jalur kereta api rute BataviaBuitenzorg secara resmi beroperasi. Kesulitan keuangan yang dialami NIS menyebabkan pemerintah Hindia Belanda mendirikan perusahaan kereta api negara yaitu Staats Spoorwegen (SS) pada 6 April 1875 untuk melanjutkan pembangunan jalur tersebut.

Pada 21 Maret 1882 telah terhubung jalur kereta api rute Bogor – Sukabumi dan kemudian pada 16 Juni 1884 jalur kereta api rute Bogor – Sukabumi – Bandung mulai beroperasi secara penuh yang ditandai dengan peresmian Stasiun Bandung. Panjang jalur Jakarta – Bogor adalah 54 km, panjang jalur Bogor – Sukabumi adalah 57 km dan panjang jalur Sukabumi – Bandung adalah 83 km. Jalur ini dianggap kurang memadai hingga dibangunlah juga jalur Bandung-jakarta via Cikampek dan Purwakarta.

Rute Bogor-Sukabumi sempat dihentikan karena dianggap kurang ekonomis pada Maret 2006, dan baru beroperasi lagi pada 2008. Awal tahun 2011 pun sempat terhenti kembali, namun tak begitu lama. Antusiasme masyarakat memang sangat tinggi terhadap kereta api sebagai moda transportasi yang ekonomis dan efisien. Apalagi jalur angkutan darat Bogor-Sukabumi yang sarat dengan simpul-simpul kemacetan, mulai dari Ciawi, Lido, Cicurug, Cibadak, dan Cisaat. Bila menggunakan bus, angkot, atau colt bisa memakan waktu 3-4 jam (dari Cibadak ke Bogor rata-rata ditempuh dalam waktu 2 jam untuk keadaan ramai lancar, namun jika macet, aku pernah terjebak sampai 3,5 jam). Karena itu, meski kecepatannya tidak terlalu tinggi, (di bawah 40 km/jam) waktu tempuh kereta termasuk konsisten dan bisa diprediksi sehingga memudahkan untuk memperhitungkan waktu dan mengatur jadwal. Cibadak- Bogor dan sebaliknya biasanya dicapai selama 1,5 jam. Jadi, kalau pulang pukul 5 petang dari Bogor, aku tiba di Stasiun cibadak  pada pukul 18.30, masih sempat untuk Shalat Magrib di masjid dekat stasiun. Coba bandingkan bila aku menggunakan colt. Pada jam-jam macet karena pulang kerja itu, meski berangkat setelah ashar, sekitar pukul 4 sore, belum tentu pukul 7 sudah tiba di Cibadak.

Ya, begitulah secuil dari persoalan transportasi yang masih karut-marut di negeri ini. Arus transportasi jalan raya yang padat dan tidak memadai masih jadi soal pelik. Transportasi yang sifatnya masal seperti kereta api adalah mode transportasi yang sebetulnya bisa dikembangkan untuk menangani angkutan darat. Namun meski PT KAI terus berbenah, masih banyak kekurangan di sana-sini yang perkaranya kalau diusut lebih banyak perkara kebijakan publiknya ketimbang urusan teknis.

Nah, sementara itu, sampai kita bisa menikmati layanan transportasi darat yang betul-betul nyaman, kita terus bekerja sambil sedikit-sedikit menikmati sedikit sekali yang masih bisa dinikmati: pemandangan indah dari balik kereta tua yang berjalan di atas rel tua (yang katanya tak lama lagi akan diperbarui terkait rencana revitalisasi angkutan logistik Sukabumi – Jakarta. Maklumlah, di Sukabumi terdapat sejumlah industri mikrobiologi maupun air kemasan yang tentu membutuhkan angkutan yang besar dan transportasi lancar untuk mengurangi ongkos produksi), ramainya saudara-saudara segerbong yang bercengkrama terutama pada angkutan sore sepulang kerja (ya, tidak di KRL maupun di KRD, pergi dan pulang hampir tiap hari sama-sama membentuk komunitas tersendiri yang memungkinkan individu-individu merasa familiar, lalu berkenalan dan menjadi akrab, sesuatu yang mungkin takkan ditemukan pada kereta-kereta nyaman di Jepang, Jerman, atau di tempat-tempat lain yang suasana komunalnya semakin renggang).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s