Kapan?

Pertanyaan menjemukan yang seringkali diajukan orang mengenai tahapan kehidupan seseorang. Pertanyaan ini sangat populer dan seringkali berujung pada basa-basi, bukan sungguh hendak dikejar jawabannya. Tapi, meski dinyatakan sungguh-sungguh sekalipun, pertanyaan ini banyak kelamahannya. Mari kita bahas.

Dari deretan kata tanya yang kita kenal, kapan dan di mana adalah pertanyaan tentang dimensi fisis; meminta keterangan waktu dan tempat. Ketika waktu dan tempat suatu peristiwa telah dinyatakan, berarti dibutuhkan banyak asumsi yang melatarbelakanginya. Yakni pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, dan siapa mesti telah dilewati.  Ketika empat pertanyaan itu tidak lagi diajukan, berarti telah ada asumsi bahwa keempatnya diketahui. Kapan dan di mana sesungguhnya hanya pertanyaan pelengkap yang memastikan terlaksananya suatu peristiwa dalam alam pengalaman kita, tapi tidak menjadikan peristiwa itu ada, tidak menjelaskan alasan, serta proses tata laksananya, maupun keterlibatan individu di dalamnya.

Inilah yang disayangkan. Padahal pertanyaan-pertanyaan tadi merupakan pertanyaan penting atas sebuah peristiwa yang akan dilangsungkan. Tidak masalah kalau peristiwanya terkait sesuatu yang jamak dipahami bersama sebagai sebuah kesepakatan atau peristiwa bersama yang sudah tidak ada perbedaan lagi terkait motivasi maupun metode pelaksanaannya. Misalkan menanyakan jadwal ujian tertentu.

Kenyataannya, pertanyaan “kapan?” ini justru rasanya lebih sering diajukan pada peristiwa seputar keputusan dan urusan pribadi yang selayaknya memiliki landasan motivasi dan proses yang berlainan dari orang perorang. Kapan lulus? Kapan nikah? Kapan kerja? Kapan punya anak?

Inilah hasil dari kebiasaan berpikir generalisasi pada banyak orang. Dalam benaknya, setiap orang akan menapaki jenjang pengalaman yang sama, proses kehidupan yang tidak jauh berbeda. Hanya tinggal masalah waktu, begitulah kira-kira. Jadi kehidupan seolah berupa sebuah daftar yang tinggal di-check list satu persatu setiap milestone-nya.

Jika kita mendalami kehidupan manusia yang sangat unik, sesungguhnya hal itu tak dapat dibenarkan. Bahkan untuk orang-orang dengan landasan pemikiran yang sama. Bagaimanapun kecenderungan dan potensi yang dimiliki manusia begitu beragam. Kita tak dapat memukul rata begitu saja. Ada proses tertentu yang dilalui individu saat menelusuri sesuatu “apa” dalam hidupnya.

Ketika kita bertanya “kapan?”, bisa jadi yang bersangkutan sesungguhnya masih bergelut dengan pertanyaan  “mengapa?” dan “mengapa tidak?”. Ia masih menyusun motivasi dan membutuhkan argument-argumen kuat untuk memantapkan langkahnya. Bertanya “kapan?” pada orang yang sedang berada pada fase ini hanya akan menambah kegusarannya.

Sementara itu, setelah seseorang merumuskan sejumlah alasan sekaligus tujuan untuk mencapai sesuatu atau untuk mengalami peristiwa tertentu, ia memikirkan metode dan caranya. Bagaimana saya akan mendapatkan sesuatu itu? Jalan apa yang akan saya tempuh? Kira-kira begitulah pertanyaan yang ada dalam pikirannya. Pada fase ini, bisa jadi parameter waktu bisa mulai terlibat ketika perbedaan skala waktu memberi sejumlah implikasi berlainan pada metode atau cara, tapi tetap bukan menjadi pertanyaan utama.

Terakhir, pada peristiwa yang melibatkan orang lain, seperti pernikahan, variabel “siapa” juga menjadi pertimbangan. Beberapa kali kudengar jawaban pertanyaan atas “kapan?” yang dimaksudkan pada pernikahan mengindikasikan permasalahan utama yang sedang dihadapi ybs adalah justru “dengan siapa” (kita asumsikan saja, jawaban-jawaban untuk mengapa dan bagaimana telah berhasil ia rumuskan, kalaupun tidak, sayangnya berarti ia bukan orang yang terlalu peduli pada kehidupannya sendiri hingga pertanyaan-pertanyaan penting macam begitu dilewatkan begitu saja). Untuk kasus khusus ini, sebetulnya bisa diturunkan melalui motivasi dan metode yang ia telah tentukan sebelumnya, hingga didapatkan kriteria yang memadai. Berbekal kriteria itulah kemudian ia bisa mulai berjaga-jaga, bila suatu saat menjumpai seseorang yang tepat, atau bahkan berinisiatif proaktif mencarinya. Bukan hanya pernikahan, dalam kehidupan akademis, proses ini berlaku juga, misalnya ketika hendak menentukan supervisor skripsi, tesis, dan lain-lain. Penentuan orang yang tepat baiknya dikaitkan dengan motivasi dan pekerjaan yang kita tentukan untuk kita lakukan.

Kapan lulus?

Pada umumnya (mungkin juga tidak begitu umum di Indonesia, karena jumlah yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dengan yang tidak masih jauh lebih sedikit),  setelah menjalani kuliah beberapa lama, seorang mahasiswa akan berhadapan dengan pertanyaan ini. Orang-orang menaruh harapan bahwa ia akan lulus dengan nilai-nilai baik tentunya, diwisuda, kemudian mendapat pekerjaan yang baik, dan seterusnya. Akan tetapi setiap mahasiswa yang memiliki masalah tersendiri biasanya enggan ditanya “kapan lulus?” atau yang lebih mula “kapan sidang?” karena masih ada hal lain dalam pikirannya. Selain keengganan dicampuri pula urusannya yang belum tentu si penanya betul-betul tertarik  dan berkepentingan terhadap jawaban atas pertanyaan tersebut.

Pada zaman ini, ketika pendidikan tidak lagi menaruh perhatian pada minat dan potensi individual anak, banyak yang menjadi kecele dan salah jalan, hingga pada suatu titik ia sadar telah salah jurusan. Memang ada yang tetap memaksakan diri menyelesaikan apa yang kadung dimulai, dan tak jarang mereka berhasil menyelesaikannya dengan gilang gemilang pula. Tapi bagi yang masih tenggelam dalam kemelut, ketahuilah saat ini benar-benar berat memutuskan  untuk lanjut atau tidak. Ia mencari tahu, “Mengapa saya tetap harus berada di sini dan menyelesaikan semuanya?” Pertanyaan “kapan” yang diajukan pada seseorang dalam keadaan seperti ini menunjukkan egoisme dan ketidakpekaan pada yang bersangkutan. Tapi apakah kita mesti bertanya, “Apakah kamu mau lulus atau tidak sebenarnya? Mengapa?” Ya, bila perlu, atau sebetulnya tidak juga, bergantung pada seberapa erat hubungan kita dengan ybs dan seberapa jauh kepedulian kita padanya. Kalau kita tak benar-benar berkepentingan, apa perlunya tahu urusan orang, doakan sajalah dari jauh, semoga kebaikan diberikan padanya.

Kerja di mana?

Setelah lulus bukan berarti bebaslah kita dari rongrongan pertanyaan-pertanyaan dimensional fisis itu. Setelah mendapat ijazah atau sertifikat keahlian, penasaranlah orang, di mana kita berkiprah mengunakan ilmu kita? Jujur saja, bila benar demikian, hal tersebut masih jauh lebih baik. Tapi, kebanyakan sebetulnya hanya peduli, di mana kita mencari penghasilan, yang secara eksplisit akan digunakannya untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan “berapa (gajinya)?”, yang berikutnya secara otomatis akan menjadi penentu klasifikasi kelas kita dalam strata sosial.

Pada faktanya, bekerja dan “tidak bekerja” pun adalah suatu pilihan yang unik bagi setiap orang. Ya, di dalam Islam, bekerja dalam pemaknaan mencari penghidupan adalah kewajiban bagi setiap lelaki baligh, tapi tidak bagi perempuan, statusnya mubah saja. Bagi yang wajib bekerja pun, maknanya tidak sesempit diupah orang untuk pekerjaan tertentu, berangkat ke kantor, dst. Yang diharapkan adalan tetap bekerja bukan semata pekerjaan tetap.

Demikianlah, penghargaan orang pada pekerjaanpun lebih bertumpu pada status pekerjaannya. Bukan karya, kegigihan, maupun pengorbanan yang ditunjukkannya. Tidak peduli berapa jam sehari yang dihabiskan untuk tenggelam dalam pekerjaan, yang diperhatikan adalah berapa penghasilannya, dan duduk di meja mana. Orang-orang semacam ini akan memincingkan mata pada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dari…misalnya, di dalam rumah, kecuali jika sudah terbukti beromzet besar.

Kapan menikah?

Inilah rongrongan lainnya yang seringkali diajukan pada mereka yang diketahui masih sendirian saja. Tanapa merasa perlu alasan di balik kesendirian itu, semua orang berpikir menikah hanya perkara waktu, tanpa merasa perlu mencari keterangan mengenai hal-hal penting yang melatarbelakanginya dan menggerakkan orang untuk melakukannya. Yang menyedihkan, perbincangan ini kemudian biasanya berlanjut pada candaan yang sifatnya sangat pribadi dan tidak layak dibincangkan di ruang publik.

Demikianlah beberapa ketidaknyamanan yang biasanya akan dihadapi seseorang pada fase usia “dewasa muda”. Rasanya hampir semua dari kita  mengalami hal demikian. Hal-hal yang menimbulkan keengganan hadir pada acara-acara keluarga atau reuni dengan kawan lama, karena biasanya memang akan bertabur basa-basi seputar hal itu. Mungkin ada juga yang tidak terlalu ambil pusing dan justru menganggap pertanyaan-pertanyaan tadi sebagai bentuk perhatian yang perlu dihargai. Asal tahu saja, mengkritik bukan berarti minus penghargaan. Justru merupakan bentuk penghargaan yang lebih memiliki intensi membangun.

Meski menulis seperti ini, kuakui pernah juga mengedepankan pertanyaan-pertanyaan dimensional fisis itu begitu saja. Ada yang memang berbasa-basi dengan teman lama, ada juga yang memang berdasarkan kepedulian, dan dimaksudkan untuk membuka percakapan. Tapi ketika kurenungkan lagi, ya ternyata itu tidak begitu benar juga. Mungkin sebaiknya kita menahan diri dari rasa ingin tahu berlebihan terhadap kehidupan orang lain jika kita sendiri merasa terganggu diperlakukan demikian. Kecuali pada sejumlah orang yang cukup punya hubungan dekat dengan kita dan memang perlu mengetahui keadaannya, tentu hendaknya bertanya pula dengan cara dan  pada kesempatan yang tepat.

Advertisements

3 thoughts on “Kapan?

  1. Duh,,jadi merasa berdosa sering menanyakan hal2 seperti itu pada orang lain..Di sisi lain saya juga merasa lega menyadari bahwa pertanyaan2 semacam itu yang diajukan kepada diri saya seharusnya tidak usah terlalu diambil hati…

    Mumtaz..b^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s