Pelajaran dari Sang Nenek Hebat

Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun temurun miskin.

Berbekal sejumlah informasi (atau stigma) tentang orang jepang yang selama ini kudapat, cukup sulit awalnya untuk mempercayai bahwa kata-kata itu benar berasal dari seorang “Jepang”. Teguh hati dan percaya diri memang karakter yang melekat kuat, namun (biasanya) tidak untuk berbangga berada dalam sebuah kemiskinan. Mereka adalah masyarakat pekerja keras yang menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja (terlalu) keras. Senada dengan pemaparan Yosichi Shimada, sang penulis buku “Saga no Gabai Bachan”—sebuah novel sumber kutipan pembuka tulisan ini—dalam kata pengantarnya, saat ini (ketika bukunya ditulis sekitar tahun 2001) orang-orang merasa bahwa kebahagiaan terkait erat dengan kepemilikan uang.

Tak ada uang, maka tak bahagia.
Menurutku, semua orang kini kelewat terikat dengan perasaan seperti itu. Kemudian karena orang dewasa berpikir demikian, maka anak-anak pun tak ayal ikut dibesarkan dalam keadaan ini.
Karena tak diajak ke Disneyland, karena tidak dibelikan baju tren terkini, anak-anak tidak mau menghormati orangtuanya.
Karena nilai rapor buruk, karena tidak berhasil masuk sekolah favorit, hanya masa suram yang terlihat.
Bila hanya anak-anak seperti ini yang kita besarkan, maka setiap hari kian tidak menyenangkan hati, tanpa ada harapan untuk masa depan, dan kenakalan remaja pun semakin meningkat.
Padahal tanpa uang pun, cukup dengan perasaan tenang, kita dapat hidup dengan ceria.

Yosichi kecil mulai hidup bersama neneknya pada tahun 33 era Showa (1958). Ia dititipkan oleh ibunya dengan harapan akan mendapat pendidikan “yang lebih baik” dari yang dapat diterimanya di kota Hiroshima dalam keadaan serba sulit. Di luar dugaan, kehidupan neneknya benar-benar jauh dari apa yang ia gambarkan sebagai “kenyamanan” dalam benak kanak-kanaknya. Gubuk bobrok beratap jerami yang tampak menyedihkan adalah tempat tinggal terakhir yang ingin ia datangi tapi justru di sanalah sang nenek tinggal. Artinya, di sanalah pula ia harus memulai kehidupan baru bersama nenek yang bisa dibilang baru pertama kali dijumpainya, karena ia masih terlampau kecil ketika pertama kali berjumpa dengannya dulu.

Kehidupannya di Saga terbilang sulit. Sang nenek hanyalah seorang petugas kebersihan kantor Universitas Saga dan sejumlah sekolah tingkat dasar hingga menengah yang terafiliasi dengannya. Pekerjaan itu sudah ditekuninya sejak tahun 1942 untuk menghidupi ketujuh anaknya. Tidak ada kebiasaan berbelanja ke pasar apalagi swalayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sang nenek kebanyakan mengandalkan “supermarket pribadi” untuk mendapatkan kayu bakar dan sayuran. Ia memasang suatu galah yang berfungsi sebagai penyaring aliran sungai di dekat rumah sehingga barang-barang yang hanyut dari daerah hulu akan tertahan di sana. Kebanyakan “perolehannya” berupa ranting pohon dan sayuran yang tidak terlalu baik kualitasnya sehingga dibuang pemiliknya atau yang lolos ketika dicuci di sungai.

Lobak yang berujung dua sekalipun, kalau dipotong-potong dan direbus, sama saja dengan yang lain. Timun yang bengkok sekalipun, bila diiris-iris dan diberi garam, tetap saja timun.

Tapi, pernah sekali Akihiro (Nama anak yang digunakan dalam cerita, tapi aku belum sempat mengecek detail, manakah nama asli penulis, Yosichi atau Akihiro. Demi konsistensi, dalam penuturan cerita, aku akan menggunakan nama Akihiro.) menemukan sebelah geta (sandal jepang dari kayu). Ia menyarankan pada neneknya untuk memotong-motong geta tersebut dan menjemurnya untuk dijadikan kayu bakar sebagaimana yang biasa mereka lakukan pada ranting-ranting yang hanyut. Neneknya menggelengkan kepala dan berkata,” Tunggu dua atau tiga hari. Kau akan mendapatkan pasangannya.” Meski heran, Akihiro patuh. Ternyata benar, beberapa hari kemudian, sebelah geta pasangannya tersangkut pada galah. Neneknya menuturkan teorinya,” Jika kehilangan sebelah geta, seseorang pada mulanya akan cenderung mempertahankan sebelahnya lagi, namun setelah dua-tiga hari ia akan kesal dan membuang yang sebelahnya lagi.”

Bukan hanya itu, “kata-kata ajaib” yang terlontar dari mulut si nenek. Sepintas nampak tidak istimewa. Justru sangat sederhana. Justru yang sederhana itulah yang sering dilupakan orang.

Karena kemiskinan, neneknya selalu menolak keinginannya mengikuti latihan-latihan olahraga yang membutuhkan peralatan atau pakaian khusus. Suatu hari nenek menyampaikan bahwa ia punya ide bagus.

Neneknya berkata, “Mulai besok, kau lari saja”
“Apa?”
“Ya. Tidak perlu peralatan dan tempat berlarinya juga gratis. Lari saja.”

Akihiro melakukannya meski hal itu terdengar ganjil. Selain itu,

“Jangan berlari sekuat tenaga,” kata nenek lagi.
“Kenapa aku tidak boleh berlari sekuat tenaga nek?”
” Nanti kau lapar jadinya.”
“Oh…”

Kemudian,

“Sebentar, Akihiro, satu hal lagi. Jangan-jangan kau berlari dengan menggunakan sepatu ya?”
“Heh, tentu saja pakai.”
“Dasar bodoh! Kau harus berlari dengan bertelanjang kaki. Sepatumu nanti rusak!”

Tapi tentu saja Akihiro tidak mematuhi dua nasihat neneknya yang terakhir ini.

Menyimak perbincangan seperti itu sedikit tergambar bagaimana sulitnya kehidupan mereka saat itu. Pada bagian lain Akihiro berujar. Keinginan terhadap barang mewah dapat ditekan, untuk pakaian, bisa saja mendapatkan lungsuran dari sepupu atau tetangga. Tapi, yang paling menyulitkan bagi orang miskin adalah makanan karena kita harus makan setiap hari. Suatu hari, Akihiro pernah merasa lapar. Ia meminta makanan, tapi neneknya (sepertinya tidak memiliki makanan) hanya menjawab, “Ah itu hanya perasaanmu saja. Mainlah!” Akihiro berpikir mungkin neneknya benar. Iapun pergi bermain, hingga hari gelap dan tak lagi memungkinkannya untuk bermain di luar ia pulang dan bingung hendak melakukan apalagi, karena di rumah neneknya jelas tak ada televisi. “Tidur saja,” kata neneknya. Ia pun tertidur, dan ketika malam-malam terbangu, kembali merasa lapar, ia membangunkan neneknya. Neneknya menjawab singkat,” Itu hanya mimpi.” Ia pun tidur lagi hingga beberapa kali terbangun dan sadar bahwa ia benar-benar lapar.

Namanya anak kecil, sesekali ia mengatakan hal-hal semacam andaikan suatu saat mereka kaya. Namun neneknya menghardik dan berkata,” Bicara apa kau? Ada dua jalan menjalani kemiskinan: miskin-muram dan miskin-ceria. Kita ini termasuk miskin-ceria!”

Sikap neneknya yang tegar, tenang, dan tidak memperlihatkan kesusahannya ini membuat Akihiro memiliki perasaan peka dalam kehidupannya namun tetap tenang menghadapinya. Suatu saat ada surat dari ibu untuk neneknya yang tergeletak begitu saja di atas meja, tanpa sengaja, ia membacanya begitu saja dan mengetahui bahwa ibunya sedang kesulitan dan hanya dapat mengirimkan kurang dari separuh uang bulanan yang dikirimkan untuk membiayai dirinya. Ia berpikir, jika sehari-hari ketika ibunya mengirimkan uang penuh hidupnya sudah sesulit itu, bagaimana dengan kali ini? Berbeda dengan biasanya, ia tidak meminta tambahan nasi ketika makan. Neneknya merasa heran, lalu mengetahui kebenarannya dan sedikit berkaca-kaca. Menurut pengakuan Akihiro inilah pertama kalinya ia melihat neneknya hampir menangis.

Dalam keadaan serba sulit yang demikian, orang-orang di sekitar mereka cukup banyak yang peduli yang memberi sejumlah bantuan. Akihiro kecil belajar juga tentang kebaikan, bukan hanya ,menerima dan menghargai para pemberinya. Namun juga memberikannya, meski dalam keadaan serba terbatas.

Cerita ini, berlatar belakang anak kecil di Jepang pada masa yang dekat dengan Perang Dunia ke-2, mengingatkanku pada Totto-chan. Dalam kenyataannya, Tetsuko Kuroyanagi, penulis Totto-chan juga ikut andil mempopulerkan buku ini setelah mengundang penulisnya dalam acara bincang-bincang yang ia pandu, Tetsuko no Heya.

Sepintas, kisah ini memang sepertinya tidak bisa dijadikan contoh untuk kerja keras yang sangat giat untuk memperoleh kesuksesan. Apalagi ada bagian di mana neneknya berkata,” Jangan belajar terlalu rajin! Bisa-bisa nanti jadi kebiasaan.” Akan tetapi hal itu sesungguhnya terkait cara pandang kita terhadap “kesuksesan” atau “kebahagiaan” yang ingin diraih dalam hidup. Di dalam cerita digambarkan bahwa sang nenek pergi sangat dini, sekitar pukul empat pagi untuk bekerja hingga siang, kemudian berjalan pulang dengan menyeret magnet sepanjang jalan untuk mengumpulkan paku atau potongan besi bekas yang dapat dijual. Iapun kemudian “berbelanja” di “supermarket pribadinya”. Saat melakukan itu, usianya sudah berusia 58 tahun. Akihiro pun terbiasa bekerja sampingan, dan kadang jika perlu meninggalkan sekolah untuk mendapatkan tambahan uang.

Yang ingin ditekankan di sini adalah, bahwa kebahagiaan lebih merupakan suatu sikap yang diputuskan seseorang dalam menghadapi kehidupannya, sesulit apapun menurut sudut pandang orang lain. Hidup ini selalu menarik, kata neneknya, sesulit apapun carilah jalannya. Akan tetapi jalan yang dicari untuk bertahan hidup justru jangan sampai menjadi jalan yang menghilangkan sisi menarik dari hidup itu sendiri. Anak kecil yang dibesarkan dalam situasi seperti itu, ternyata bisa tumbuh “bahagia” tanpa merasa “dendam” pada masa lalu, dan mencari kompensasi dengan memanjakan anak, dan sebagainya ketika ia dewasa dan berpenghasilan sendiri.

Hal itu terjadi karena penanaman sikap dan karakter yang kuat. Ada filosofi yang tertanam dalam sejak kecil mengenai kebutuhan, keinginan, dan bagaimana mengatasi keduanya. Selain itu, bagaimana kondisi sulit bukanlah penghambat untuk berbuat kebajikan, karena selalu ada orang yang lebih membutuhkan. Nenek Osano memang bukan tokoh pedagogik yang menelurkan teori pendidikan macam-macam. Ia hanya nenek tua sederhana yang mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang diyakini pada sang cucu yang tinggal dengannya. Pelajarannyapun bisa jadi tidak bisa dianggap sangat banyak, tapi tetap berharga. Terutama karena terkait hal yang cukup mendasar. Bagaimana memandang kaitan antara kemiskinan-kebahagiaan-ketenangan. Bahwa meskipun tidak hidup miskin, kita tetap tidak boleh terikat dengan harta benda yang seolah menjadi penentu kebahagiaan. Tak bisa bersenang-senang tanpa liburan ke tempat eksotis atau jika belum memiliki gadget terbaru.

Bagi sebagian orang, hal ini mungkin bukan hal baru. Akan tetapi pengalaman-pengalaman orisinal yang dibagi penulis dalam buku yang terjemahannya dalam Bahasa Indonesia lebih sedikit dari 245 halaman ini merupakan inspirasi yang menghibur. Sebagaimana buku Totto-chan, aku merekomendasikannya bukan hanya dibaca oleh orang dewasa, namun juga mulai dari anak-anak sekolah dasar yang sudah bisa membaca buku lumayan panjang buatnya. Ada bagusnya memperlancar dan membuat mereka cinta membaca dengan memberikan buku-buku ringan bergizi seperti ini.

Keterangan buku

Judul: Saga no Gabai Bacan (Nenek Hebat dari Saga)

Penulis: Yosichi Shimada

Penerjemah: Indah S. Pratidina

Edisi: II, Mei 2011 (Edisi I dicetak April 2011)

Penerbit: Kansha Books (division of mahda Books)

Advertisements

3 thoughts on “Pelajaran dari Sang Nenek Hebat

  1. FYI, koordinator penerjemahnya ternyata mikihiro moriyama, seorang ahli sastra dari jepang yang mendalami sastra Indonesia dan sunda, wow keren…

  2. aku juga sedang menyelesaikan buku ini. setidaknya ini kali ketiga aku meng’khatam’kannya . meresapi pesan tersirat yang terkandung di dalamnya sungguh luar biasa… dan, setelah ini aku rasa akan menulis review-nya juga..

    aku izin copas tiga paragraf terakhir ya teh, untuk tambahan reviewku… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s