Swasembada

Kemarin malam aku dan temanku berdiskusi tentang soal-soal ekonomi. Sekali lagi ia bilang, ”aku senang harga cabe naik”. Ia berkata demikian karena hal inilah yang akhirnya membuatku terpaksa mempelajari teori-teori ekonomi yang biasanya kuhindari. Sementara aku masih berteriak dalam hati ini sungguh tidak adil.

Pertama kalinya dalam setahun ini, sakit maagku kambuh lagi semalam, aku muntah-muntah dan perutku rasanya penuh dengan gas. Baru kuingat kalau seminggu sejak dari rumah, makanku mulai tidak beres. Aku kembali jarang memakan nasi, kadang tidak sarapan. Entah berapa lama aku tidak memasak. Yang kuhabiskan roti, kreker, kadang mie instan, ditambah minum susu. Kalau ini dibilang aksi protes, tak tahulah aku protes terhadap apa, memprotes siapa. Sementara keadaan bukan sesuatu yang peka merespon.

Beberapa orang mengatakan reaksiku berlebihan. Ya, mungkin memang demikian. Namun kejadian ini membuatku sadar satu hal terkait ketergantunganku yang begitu besar pada komoditas ini. Aku belum merdeka. Aku begitu terganggu dengan kondisi ini. Ketika membelinya enggan karena memperhitungkan pengorbanan yang terlampau besar,—sekedar untuk sesuatu yang, yah katakanlah kenikmatan fana—menanamnya sendiri di rumah mungkin merupakan pilihan bijak. Meski bukan solusi jangka pendek, memproduksi sendiri barang-barang kebutuhan kita adalah jawaban atas lepasnya ketergantungan pada pihak lain. Sekalipun seringnya tak sejalan dengan efisiensi.

Aku jadi teringat sebuah buku yang pernah kubaca di Rumah Belajar Sangkuriang. Satu seri buku itu ada tujuh jilid kalau tidak salah, entah dihibahkan dari siapa. Isinya adalah tentang kerajinan rumah tangga. Bukan sekedar keterampilan menjahit, merajut, atau mengolah perca, namun juga membuat pewarna kain, teknir ubar, kain lilit, menenun, membuat mainan anak, membuat kursi, mentega, keju, ayunan, peralatan outbond, alat musik dan lain sebagainya. Menakjubkan sekali jika menguasai seluruh keterampilan itu. Sesuatu yang membuatku memikirkan kehidupan seperti dalam House in the Prairie.

Indah rasanya membayangkan kehidupan di mana setiap proses pemenuhan kebutuhan begitu dihayati dan memiliki terasa nilai lebih karena dihasilkan oleh tangan sendiri. Mungkin ini kelihatan seperti pemikiran yang naïf dan mundur beberapa abad. Namun kurasa wajar saja bila di zaman yang serba otomatis dan instan—mesti tak sesungguhnya instan juga—manusia merasa jenuh. Dulu para ayah yang membuatkan anaknya mainan. Sekarang, para ayah pulang kerja dan mengangsurkan pada anaknya kotak mainan baru yang dibeli di toko. Menemani bermain saja kadang tidak sempat. Jarang lagi ditemukan keakraban ibu dan putrinya yang mebuat baju bersama, membeli bahan lalu mengukur, membuat pola, memotong kain dan menjahitnya dalam keriangan seperti pernah kusaksikan dalam keluarga Ingals.

Aih, agak melenceng, sebetulnya aku tidak hendak memotret aspek sosial itu. Yang ingin kutekankan adalah aspek kemandiriannya. Tak dapat dipungkiri, manusia memiliki sejumlah kebutuhan mendasar yang menjadi syarat mutlak untuk bertahan hidup. Dalam kehidupan masyarakat permulaan, mereka terbiasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Makan daging dari hewan yang diburu atau diternakkan sendiri, serealia dan sayuran dari kebun sendiri, dan lain-lain. Bahkan membuat pakaian, sepatu sendiri. Membangun rumah pun—tentu saja dengan bantuan kerabat atau tetangga—oleh tangan sendiri.

Namun seiring kompleksitas kehidupan yang bertambah, tugas-tugas kemanusiaan dalam peradaban pun makin beragam. Pekerjaan terdiferensiasi. Orang-orang mulai dilekatkan dengan profesinya. Tukang kayu merasa tak perlu membuat sepatu sendiri jika ia bisa membelinya dari pembuat sepatu. Petani pun merasa lebih praktis bila tinggal membeli pakaian jadi dengan uang hasil penjualan panennya daripada repot-repot memintal benang lalu menenun kain dan menjahitnya sendiri. Dengan sendirinya terbentuk sistem yang komponennya saling ketergantungan. Setiap orang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan berproduksi, kemudian kelebihan produksinya ia jual pada orang lain untuk mendapat keuntungan yang dapat ia gunakan untuk mendapatkan komoditas yang dihasilkan oleh orang lain. Dengan demikian kebutuhan terpenuhi dan tidak semua orang harus mengerjakan semuanya sendiri.

Dengan sistem seperti itu, efisiensi dicapai, namun dampak sosialnya adalah menguatnya ketergantungan. Hal ini sebelumnya tak begitu bermasalah, toh itulah alamiahnya manusia. Mana ada manusia yang sanggup hidup sendirian tanpa bantuan orang lain, kecuali dalam kehidupan macam yang dimiliki Hayy ibn Yaqdzan, atau Robinson Crusoe, mungkin.

Bandung, Januari 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s