Anak dan Rencana Hidup

Aku bukan hendak membesarkan seorang anak yang super, yang hebat, yang pandai segala-gala. Harapanku adalah ia memiliki kesadaran penuh dalam memaknai posisinya sebagai hamba Allah. Akan halnya berbagai potensinya yang lain, biarlah berkembang seluas-luasnya 🙂

Akan tetapi mengharapkan berbagai hal itu saja bukan hal yang mudah sejak dari pikiran. Bertahun-tahun aku melahap berbagai buku dan juga menerjunkan diri pada komunitas ibu-ibu untuk menyerap ilmu. Sedikit demi sedikit mulai terbayang proses apa yang akan kuberikan, namun jujur saja belum matang kususun. Aku sudah memikirkan hal ni selama empat tahun, namun selalu ada hal baru yang kutemukan dan mengubah persepsiku yang sebelumnya. Sebenarnya aku bukan hendak membuat semacam panduan yang rigid, hanya seperti kerangka yang dalam implementasinya nanti tentu perlu disesuaikan dengan karakteristik anak yang bersangkutan. Namun akan lebih baik jika tercantum dalam sebuah catatan  tentang hal-hal krusial yang perlu dilewati pada setiap tahap hidupnya.

Sampai kini ia belum tiba juga. Orang pikir mungkin aku yang menunda. Sebetulnya tidak, aku tak tahu apakah berharap dapat disamakan dengan menunggu. Aku tetap berjalan saja dalam persiapan yang selalu berkembang. Setahun ke belakang aku sempat sedikit tertekan dan merasa mungkin memang aku tidak ditakdirkan untuk menjalani peran ini (menjadi ibu), sehingga aku tidak terlalu banyak berharap dan berhenti berdoa menemukan bayi di suatu tempat, ups 🙂

Sedari dulu aku tak pernah menunda, hanya berjaga. Seiring waktu persepsiku banyak yang berkembang. Mungkin ini salah satu dari hikmah qadha yang ditetapkan Allah padaku. Aku senantiasa menemukan kekurangan. Oh, aku belum belajar ini dan itu, bagaimana aku akan mendidiknya nanti. Dengan kata lain, aku benar-benar diberi keleluasaan waktu untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya. Meski proses ini memang takkan berakhir, sampai kapanpun aku pasti akan selalu menemukan kekurangan yang perlu diperbaiki, namun tentu akan berbeda, berada di level mana kekurangan itu ketika ia pertama hadir kelak. Bahkan untuk mengembangkan pemikiran bahwa ia tidak serta merta mesti menjadi pusat perhatian dalam hidupku kelak. Aku belajar menata bagaimana agar misiku yang lain, terkait kontribusi intelektualitas tetap dapat kuberikan, di samping menjaga dan menyiapkannya untuk misinya sendiri. Jika ia telah hadir sejak beberapa waktu lalu, aku belum sampai pada konsepsi ini, dan mungkin akan termasuk pada tipe yang meninggalkan berbagai hal hanya untuknya. Namun tentu saja, kelak jika sistem-sistem pendukungnya belum siap, aku juga takkan sampai hati mengabaikannya. Konsep ini bersifat umum, bagaimanapun aku akan butuh bantuan, dalam sosok apa, entahlah itu rahasia Allah.

Sekarang, apapun yang akan terjadi ya Tuhan. Aku siap. Aku tak membuat rencana hidupku terlalu lama, hanya empat puluh tahun saja, itupun jika sampai. Jika ada lebihnya nanti, biarlah kurencanakan nanti saja. Aku hanya mengambil apa yang ada di hadapan saat ini. Dengan langkahku yang kecil-kecil aku hanya bisa berharap, pada setapak itulah kujumpai takdir dan satu-satu menghantarkanku pada ridha-Mu.

Advertisements

One thought on “Anak dan Rencana Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s