Masa Depan ASEAN di antara Kepentingan Global

Perkembangan peran ASEAN di kawasan Asia Tenggara semakin menguat beberapa tahun belakangan. Terutama sejak  sosialisasi ASEAN Connectivity pada KTT ASEAN ke-17 di Hanoi. ASEAN Connectivity merupakan rencana yang sangat optimis untuk memantapkan kekuatan ASEAN terutama dalam mempengaruhi arsitektur kawasan di berbagai bidang. Sepanjang tahun ini serangkaian pertemuan berbagai tingkat dalam berbagai bidang telah digelar unutuk menjajaki kerjasama negara-negara ASEAN dalam bidang ekonomi, penegakkan HAM, antiterorisme, audit, perlucutan senjata nuklir, kepolisian, industri pertahanan, dan lain-lain.

Dari sudut pandang ekonomi, Kawasan Asia Tenggara dinilai banyak pihak memiliki kondisi paling stabil. Dampak krisis tahun 2008 yang dipicu oleh keruntuhan Lehman Brother tidak memberi pukulan besar, begitupun pada tahun-tahun berikutnya. Tidak heran bila Asia Tenggara dipandang sebagai mitra penting oleh berbagai negara. Indonesia misalnya, selain kaya sumber daya alam, tingginya konsumsi dalam negeri membuat ekonomi Indonesiapun terus tumbuh. Pada tahun 2011 ini,  meski dibayangi krisis Eropa, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi bisa menembus angka 6,5%. Sementara, tahun depan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,7%. Amerika pun dengan gesit meminta indonesia bergabung dengan TPP (Trans-Pacific Partnership) pada KTT APEC di Honolulu, Hawaii namun urung diterima.  Hingga saat ini baru AS, Selandia Baru,Peru,Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Cile,dan Australia yang menyatakan berminat untuk bergabung dalam TPP. Bagi Indonesia,pendekatan khusus pemerintah AS, bisa dimanfaatkan untuk meminta lembaga pemeringkat internasional menaikkan rating Indonesia menjadi investment grade.

Bukan hanya bagi Amerika, China dan Rusia pun memiliki kepentingan atas peluang besar sumber daya alam maupun potensi pasar yang luar biasa ini. Bahkan bila krisis Eropa semakin memburuk pada tahun depan bisa jadi, semakin ramai melirik pada kawasan ini. Tak ketinggalan negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan. Jepang mendapatkan keuntungan yang besar dalam mendapatkan suplai sumber daya energi pascatsunami yang merusak sistem penyediaan energi yang bertumpu pada nuklir. Korea Selatan menjalin kerjasama industri pertahanan; sementara Rusia sudah memulai proyek pembangunan jalur kereta api di kawasan Kalimantan.

Sementara China, yang ekonominya semakin menguat beberapa tahun ini—terlihat dari perjanjian Sino-ASEAN pada 2002—semakin  memberikan pengaruh pada ASEAN. Padahal, selama kurun waktu 1990-an GDP ASEAN masih mendekati GDP China, sementara saat ini GDP China sudah mencapai tiga kali lipatnya. China pun menguat di bidang militer untuk mengamankan kepentingan nasionalnya. Saat ini mereka memiliki kekuatan yang tidak mereka miliki pada dekade lalu. Hal ini menimbulkan setidaknya dua dampak menurut analis Michael Mazza dan Gary Schmitt. Pertama, keberlanjutan pembangunan militer China memberi peluang bagi China untuk memperluas cara-caranya menjaga kepentingan nasionalnya. China tak perlu lagi memaksakan diri bertahan dalam negosiasi untuk menghasilkan resolusi-resolusi yang menguntungkan baginya. Kedua, dengan kekuatan seperti ini China mampu menarik beberapa negara anggota ASEAN untuk berputar dalam orbitnya. Hal ini mengakibatkan ikatan internal ASEAN melemah, karena ikatan antaranggota ASEAN diposisikan dalam prioritas yang lebih rendah daripada ikatan dengan China.

Karena itu, kepemimpinan dalam ASEAN bisa jadi tidak begitu signifikan karena seolah mesti bersaing dengan posisi China. Misalnya dalam isu perebutan wilayah Laut China Selatan. Meski telah ada pertemuan yang menyatakan telah dicapainya kesepakatan antara ASEAN dan China terkait pengelolaan kawasan tersebut dengan damai, namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa masih terbuka kemungkinan-kemungkinan lain semacam penanganan lewat militer. China telah membangun soft power secara diam-diam di Timor Leste. Banyak dari gedung-gedung pemerintahannya yang dibiayai oleh Beijing. Pada pertengahan tahun ini China pernah mengajukan proposal kerjasama militer dengan Timor Leste. Dalam sebuah kesempatan Gusmao mengeluarkan pernyataan apa salahnya bila Timor Leste melakukan kerjasama militer dengan China. Bukan tidak mungkin bila pada perkembangannya kelak Timor Leste bersedia menerima pembangunan pangkalan militer China di sana. Karena itulah Amerika Serikat dengan sigap mengantisipasi hal ini dengan mengajukan pembangunan pangkalan militer mereka di Darwin, Australia.

Melihat peta ketegangan politik di kawasan saat ini,terutama antara China dengan Amerika Serikat, muncul kekhawatiran akan mengganggu kestabilan keamanan Asia Tenggara. Karena kepentingan kedua negara, bukan tak mungkin  Asia Tenggara akan menjadi arena pertandingan perebutan pengaruh dan kekuasaan atas potensi-potensi ekonominya. Dengan demikian menjadi sangat penting untuk merumuskan sendiri arah kebijakan yang sesuai dengan kepentingan yang menguntungkan negara-negara anggota ASEAN. Sayangnya hal ini pun memeliki hambatan tersendiri karena beberapa negara ASEAN satu sama lain masih berada dalam ketegangan terkait batas negara, dan sebagainya. Hal ini justru akan semakin memperlemah ASEAN dan merupakan keuntungan bagi negara-negara besar yang akan mengail di air keruh.

Solusi riil untuk mewujudkan persatuan dan kekuatan ASEAN takkan dicapai hanya dengan menyatukan kepentingan-kepentingan ekonomi kawasan, atau malah bekerjasama dalam menyukseskan agenda global seperti penanganan antiterorisme bersama atau perlucutan senjata nuklir, sementara negara-negara pengincar keuntungan di ASEAN justru telah dipersenjatai nuklir. Hal ini tentu akan semakin menjerat ASEAN untuk berada di bawah ketiak kepentingan negara-negara besar tersebut. Persatuan yang sesungguhnya hanya dapat dicapai bila memiliki kesamaan visi global. Dalam hal ini, ikatan komunitas seperti yang dibentuk di kawasan lain semacam Uni Eropa bukan harapan terbaik. Persaingan pengaruh di antara beberapa negara besar serta ketidakstabilan penyatuan mata uang malah menimbulkan permasalahan baru. Kita melihat betapa kacaunya mekanisme penanganan krisis eropa, alih-alih menuju perbaikan, satu persatu negara eropa jatuh dalam kubangan krisis. Apalagi negara-negara ASEAN dengan kekuatan militer yang rendah tentu akan semakin kecil posisi tawarnya di hadapan negara-negara besar, sehingga akan sangat mudah dikendalikan. Dengan demikian satu-satunya peluang besar hanya persatuan yang kokoh di bawah penyatuan ideologi yang akan menjamin seluruh kepentingan penduduk di kawasan tanpa kecuali.

Advertisements

One thought on “Masa Depan ASEAN di antara Kepentingan Global

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s