Minor Art dan Gempuran K-Pop

Kitsch atau minor art merupakan jenis ketiga yang dicetuskan oleh Milan Kundera sebagai iblis yang memaksa pembaca kehilangan kontak dengan kekuatan revolusioner sebuah novel. Minor art digambarkan sebagai “menyalin kebodohan menerima ide tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan”. Secara praktis, kitsch merupakan gelombang besar yang menyapu kesadaran dan mendiktekan gaya hidup yang mesti diikuti agar menjadi bagian dari gaya hidup populer dan tidak “ketinggalan zaman”. Istilah ini kemudian bisa saja diperluas bukan sekedar dalam pembahasan novel/roman, namun terkait karya sastra yang lebih umum, misalnya media film.

Pemilahan budaya populer dan massa

Fenomena budaya populer atau budaya massa[i] tidak sulit kita jumpai dalam situasi masyarakat belakangan ini. Beberapa waktu ini wacana hiburan didominasi oleh materi-materi budaya populer Asia Timur, terutama Korea Selatan. Mulai dari makin maraknya penyebaran film, drama, musik, hingga gaya hidup yang tercermin dalam cara berpakaian, dsb. Semua langsung menyebar, melompati proses evaluasi dan analisis kecocokan maupun kepatutan kelompok masyarakat setempat. Apapun yang menarik, yang populer, buru-buru ditelan, tanpa dikecap, tanpa dikunyah. Memang ada juga yang melakukan kajian tertentu namun karena produk minor art sendiri memang dirancang dalam misi hiburan, bukan dalam porsi revolusioner sastra yang menggedor-gedor kesadaran, maka tidak banyak juga yang dapat digali.

Karena meninjau aspek populeritas dan bentuk penerimaan serta tipe apresiasinya yang khusus, wajar bila muncul pertanyaan: “Apa yang sebetulnya dikatakan sebagai minor art, suatu genre karya seni itu sendiri, penyajiannya, atau justru apresiasinya yang tanpa melalui proses berpikir mendalam?”

Terlepas dari motif awal para pekerja seni maupun insan industri hiburan—apakah semata keuntungan materi atau membawa misi pengembangan budaya—hasilnya  sudah pasti: masyarakat gandrung dengan materi hiburan yang dangkal bahkan kosong isi dan keuntungan ekonomi yang besar otomatis diraup darinya.

Apakah minor art semakin mudah berkembang dalam masyarakat yang enggan berpikir dan malas mengapresiasi karya serius? Dengan kata lain dapatkah maraknya minor art dijadikan indikator level intelektualitas suatu kelompok masyarakat? Terdapat hal yang menarik dari Korea Selatan sebagai eksportir besar budaya pop[ii] ini sekaligus sebagai negara yang sistem pendidikannya dinobatkan sebagai yang terbaik nomor dua di dunia (setelah Finlandia). Hal ini (tingkat pendidikan dan selera budaya) seolah-olah tidak memiliki keterkaitan yang pasti dan bersifat otomatis. Bagaimana ini? Jadi, apakah seni rendah (minor art) tidak berarti lahir dari pemikiran dangkal (shallow mind)?


[i] Seni populer dan seni massa seringkali digunakan untuk merujuk pada klasifikasi yang sama, akan tetapi menurut pembagian oleh…seni populer dan seni massa memiliki perbedaan. …membagi seni ke dalam empat buah kategori, yang pertama adalah seni elit, seni populer, seni massa, dan seni rakyat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s