OSPEK NGAYOGYAKARTA

Hari ini (7 Desember 2011) aku memulai OSPEK (Orientasi dan Pengenalan Kota) di tempat tinggalku yang baru. Terakhir kali aku melakukan ini sekitar tujuh tahun silam di kota Bandung. Waktu itu, selama dua hari aku menumpang angkutan dalam kota, mengenali lingkungan, menandai  lokasi tempat-tempat penting yang sekiranya dibutuhkan selama aku tinggal di kota itu.

Yogyakarta merupakan kota yang cukup unik. Di sini bisa dibilang berlaku jam malam. Tidak ada angkot atau mikrolet yang rawan menyebabkan kemacetan sebagaimana  yang biasa kujumpai di Bandung, Bogor, Sukabumi, atau Jakarta. Moda transportasi publik di sini sangat terbatas. Hanya ada bus yang beroperasi hingga pukul 6 sore atau bahkan lebih awal dari itu, serta Transjogja yang beroperasi hingga pukul 21.30 WIB. Ya, selainnya hanya ada moda transportasi bebas arah semacam  taksi, becak, andong,  ojek, cator (becak motor). Jadi, untuk pengguna angkutan  umum sepertiku, mobilisasi agak terhambat di sini. Kebanyakan penduduk mengunakan sepeda atau sepeda motor.  Hal yang cukup menarik juga sebenarnya melihat lalu lalang pengendara sepeda di jalan raya. Banyak juga ibu-ibu paruh baya dengan kebayanya (beberapa di antaranya konsisten dengan konde mereka, lho, ternyata Kanjeng Mami tidak lebay, banyak juga yang terbiasa berkonde sehari-hari –‘) bersepeda ke pasar, membawa barang dagangannya.

Nah, angkutan berupa bus kota itu melintasi sejumlah trayek lintasan tertentu yang disebut jalur. Setidaknya ada 19 jalur yang dilayani. Hal ini berdasarkan ketetapan SK Gubernur DIY No I tahun 2002 tentang Uji Coba Rute dan Trayek Angkutan. Keseluruhan angkutan bus memulai trayek dari terminal sesuai jalurnya masing-masing. Ada tiga terminal bus, yaitu Terminal Giwangan, Terminal Condongcatur (biasa disebut juga Concat), dan Terminal Jombor. Kebanyakan jalur ini melintasi Bunderan UGM dalam trayeknya. Jadi, beruntunglah bagi yang beraktivitas di sekitar kawasan itu, soal transportasi tidak begitu menjadi permasalahan besar.

Tempat tinggalku sebenarnya tidak berada di dalam Kota Yogyakarta. Sudah termasuk Kabupaten Bantul yang letaknya di selatan Kota Yogyakarta. Beruntungnya, lokasi kost dan kampus masih dekat dengan Ring Road Selatan (bahkan Kampus UMY tepat berada di pinggir jalan tersebut) sehingga masih dilintasi angkutan yang langsung menghubungkan dengan Kota Yogyakarta.

Jalur bus yang melintas tepat di depan kampus adalah Jalur 09. Rutenya sebagai berikut:  Terminal Giwangan- Jalan Pramuka- Ngeksigondo- Gedong Kuning-Jalan Kusumanegara-Tamansiswa-Pojok Beteng Wetan-Jalan Brigjen Katamso- Jalan Panembahan Senopati-Jalan KHA Dahlan-Jalan Wahid Hasyim-Patangpuluhan-IKIP PGRI-Jalan Wates-Ringroad Selatan-Jalan Bugisan-Jalan S.Parman-Jalan KHA Dahlan-Pojok Beteng Wetan-Jalan Tamansiswa-Jalan Suryopranoto-Mangunsarkoro-Jalan Kusumanegara-Gedong Kuning-Ngeksigondo-Jalan Pramuka-Terminal Giwangan. Pertama kali aku berencana untuk mencoba trayek ini sampai akhir, lalu dari Terminal Giwangan aku akan mencoba naik trayek lain hingga Bunderan UGM, baru dari saja menguji rute Transjogja.

Permasalahan lain, karena jumlah unit angkutan terbatas, untuk menunggu kemunculan busnya saja memakan waktu lama. Hampir sejam kutunggu, kadang-kadang sambil berjalan kaki ke arah Gamping hingga bus Jalur 09 melintas. Aku sudah menyiapkan print-out jalur bus, pulpen, dan stopwatch. Untuk apa stopwatch? Ya, jelas untuk mengukur waktu tempuh pada titik-titik tertentu. Akupun sudah mengaturnya pada splitting mode, hingga akan memudahkan dan memberi cukup waktu untuk mencatat tanpa harus menghentikan sementara jalannya stopwatch.

Berangkat dari Ringroad Selatan, tepatnya seberang Gerbang Utama UMY sekitar pukul  09.02 WIB. Berikut ini tempat-tempat yang kuanggap penting untuk kucatat waktu tempuhnya:

Perempatan Kasihan (2’43”)-Pondok Gadjah Villa, Meeting Room, dll ( 4’15”)-Desa Wisata Krebet (7’15”)-Masjid Miniatur Baiturrahman Banda Aceh-(memasuki Jalan Bugisan sekitar pukul 09.13 WIB)-Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah (17’6”)-(memasuki Jalan S.Parman sekitar pukul 9.20)-Masjid Gedhe Kauman (20′ 40”)-SMA Muhammadiyah I (22’17”)-PP Aisyiah (23’12”)-RS PKU Muhammadiyah (23’47”)-Monumen Serangan Umum 1 Maret (24’36”)-Taman Pintar(25’20”)-Jogjatronik (27’51”)-Pura Wisata(28’45”)-Halte Transjogja Katamso I-BCA Katamso 29’19”-nDalem Pojokusuman 29’19”-Halte Transjogja Sugiono I-Biro Koran Tempo 30’55”-UII (32’31”)-Halte Kusumanegara I (39′)

Perjalanan dilanjutkan dengan jalur 04 hingga Terminal Giwangan. Dari Terminal Giwangan aku melanjutkan perjalanan dengan bus jalur 07 pada pukul 10.05. Rutenya sebagai berikut: Jalan Pramuka – Halte Pasar Seni Kerajinan DIY (9’44”) – RSI Hidayatullah – Kebun Binatang Gembira Loka (9’56”) -Halte kusumanegara – JEC – Halte Gedong kuning (Wonocatur-RSAU Harjoloekito – Halte Hardjoloekito (13’11”) – GSG Adisucipto – Mall Ambarukmo – UIN Kalijaga – Museum Kesatuan Pergerakan Wanita (Gedug Wanitatama) 34′ – RRI (36’36”)-UNY (37’43”) – Toko Buku Tiga Serangkai – Toko Buku Diskon Togamas-…-lingkar UGM

Dari UGM jalan kaki sampai kawasan Jalan Sudirman, lalu naik Transjogja menuju malioboro (sebetulnya bisa saja naik Transjogja langsung dari UGM, tapi aku sedang ingin jalan kaki saja) untuk naik bus jalur 09 dari Jalan KH Ahmad Dahlan melewati Jalan Wahid Hasyim-Patangpuluhan-IKIP PGRI- Jalan Wates-Ringroad Selatan.

Andaikan Bus Jalur 09 tidak ada, alternatifnya adalah Bus Jalur 15, turun di Pasar Gamping, lalu berjalan kaki sekitar 1 km saja. Untuk rute-rute lain tak perlu kutuliskan detail karena kurang lebih sama dengan keterangan yang  bisa dilhat dalam pengumuman trayek resmi.

Nah, kembali dalam topik ospek, orientasi ruang adalah hal vital dalam teknik survival, hehehe. Dalam melaksanakan berbagai urusan dan aktivitas di suatu tempat, yang penting terkait teknik dan sarana adalah, di mana aku bisa mendapatkan sesuatu dan bagaimana caranya mendapatkan (termsuk bagaimana cara menempuhnya). Dengan demikian mengetahui sejumlah titik-titik vital aktivitas muamalah seperti masjid, toko buku, perpustakaan, pusat studi, pusat perbelanjaan, kantor pos, bank, kantor polisi, dan lain-lain adalah kepentingan yang tak terbantahkan.

Toko Buku dan Perpustakaan

Sejauh ini yang membahagiakan, (hehe) aku menemukan banyak toko buku, yang besar-besar misalnya Gramedia terdapat di tiga lokasi: Jalan Sudirman, Mall Malioboro, dan Mall Ambarukmo. Situasi Toko Gramedia di Jalan Sudirman kurang menyenangkan. Entah kenapa tidak membuat betah berlama-lama di sana. Rasanya plafonnya terlalu rendah dan penataan barang-barangnya kurang menarik maupun membuat pengunjung merasa nyaman mengeksplorasi isi toko. Sementara yang di dalam Mal Malioboro mengingatkanku pada Toko Gramedia di dalam Botani Square IPB, terletak di lower ground floor sebuah mall dan situasinya cukup mirip. Adapun yang terletak di Mall Ambarukmo belum sempat kukunjungi. Selain itu Togamas di sini lebih besar daripada di yang biasa kusambangi di Jalan Supratman, Bandung (ya iyalah), otomatis koleksinya lebih banyak. Tempatnya pun lumayan nyaman, aku membaca dua buku sekaligus pada kunjungan pertamaku ke sana selama empat jam. Lalu di Jakal (Jala Kaliurag) ada Mizan Corner. Selain itu ada kumpulan toko buku loakan yang bisa dibilang Palasari-like. Memang tidak sebesar Pasar Palasari, tapi masih jauh lebih besar dari kompleks Toko Buku Gelap Nyawang. Letaknya di Taman Pintar, semacam pusat aktivitas sains dan taman bermain anak yang lokasinya di belakang Monumen Serangan Umum Sebelas Maret, masih dekat di sekitar Malioboro. Kalau mau mencari kitab-kitab agama, ada toko-toko kitab yang berjejer di sepanjang Jalan KHA Dahlan. Selain itu masih ada juga sih seperti toko buku Tiga Serangkai, toko-toko buku/age buku grosiran di Jala Adisucipto,  dan lain-lainnya. Belum lagi kalau menyambangi penerbit-penerbit yang cukup banyak di Yogya. Jadi, untuk suplai buku tak perlu khawatir di sini.

Sementara Perpustakaan Kota terletak di Jalan Sudirman, dekat dengan Toko Gramedia. Tidak terlalu besar tapi pilihan koleksinya baik, dan tempatnya didesain cukup nyaman bagi pengunjung. Tak heran, Perpustakaan Kota Yogyakarta nampaknya cukup ramai pngunjung. Selain itu, karena banyak kampus di sini, masih tersedia banyak sekali perpustakaan. Sebut saja, selain yang terdekat denganku di UMY, bisa main ke Perpustakaan UGM, UNY, UIN Kalijaga, UII, UPN, dan lain-lain.

Masjid

Masjid Raya Kota Yogyakarta disebut Masjid Gedhe, letaknya di Kauman, di depan alun-alun.  Ada empat sektor berdekatan di wilayah sini yang menjadi simbol sehingga pengelolaannyaberada di “tangan Kraton”  (atau mungkin “hak miliknya”, karena pengelolaan secara praktik dilakukan bersama dengan masyarakat), yaitu Kraton sebagai pusat pemerintahan (meski untuk Kantor gubernur ada lokasinya sendiri di Jalan Malioboro, dekat dengan Kantor DPRD), Pasar Beringharjo sebagai pusat kegiatan ekonomi, Alun-alun sebagai pusat kegiatan sosial, serta Masjid Gedhe sebagai pusat aktivitas religius (agak menarik, karena pada akhirnya Ketua takmir dan elemen organisasi dalam mesjid akhirnya banyak dipegang masyarakat Kauman yang notabene Muhammadiyah, sementara pihak Kraton sendiri NU).

Suatu malam, ketika ngobrol-ngobrol santai dengan seorang ibu di serambi masjid Gedhe, aku ditanya, “Sudah mengunjungi masjid mana saja?” Wah, sebetulnya aku belum banyak berjalan-jalan kecuali menguji rute dan menghabiskan sebagian besar waktuku dalam “berjalan-jalan” di dalam bus seperti kalau kita ke Taman Safari. Selain Masjid Gedhe, yang baru kukunjungi baru masjid-masjid yang kusinggahi untuk shalat dalam perjalanan, seperti Masjid Kampus UGM, Masjid Sholihin di dekat Pasar Beringharjo (ada yang menarik di dalam toilet masjid ini :p); atau Masjid Gemah Ripah dalam kawasan Pasar Induk Buah-buahan Ambarketawang di daerah Gamping.; satu lagi ya Masjid KHA Dahlan yang ada di dalam kawasan kampus UMY.  Segera bila ada waktu nanti, aku akan langsung mengunjungi masjid-masjid lainnya, terutama yang memiliki nilai sejarah. Oh, ya mungkin  Langgar Kidul itu masih lumayan dekat ya.

Bank, Kantor Polisi, dan Kantor Pos

Bangunan bank mungkin tidak terlalu penting dari sebaran ATM. Waduh, ternyata ATM BCA agak sulit ditemukan di sekitar tempat tinggalku, di kampus yang ada hanya BNI dan BSM (tapi untungnya BSM tergabung dalam Jaringan Prima).  ATM yang cukup marak itu BNI dan BRI. Untuk mencari ATM BCA biasanya harus mendekat pada kawasan dekat sentra perbelanjaan baru lumayan tersebar di sana. Kemudian, untuk kantor polisi. Wah, kantor polisi? ada urusan apa ya? Haha. Ya, yang kutahu Polresta Kota Yogya ada di kawasan Malioboro juga. Nah, kantor pos-nya (penting untuk beromantis ria, haha) ada di seberang Bank BNI dan Monumen Serangan Umum 1 Maret (pada perempatan lintasan Jalan KHA Dahlan, Ahmad Yani).

Kampus Universitas

Salah satu alasan mengapa Yogyakarta dinobatkan sebagai Kota Pelajar, ya tidak bisa lepas dari banyaknya kampus yang tersebar. Seru lah, pastinya akan banyak tambahan perpustakaan, acara-acara menarik dan kawasan diskusi juga. Tapi konsentrasinya memang kebanyakan di daerah utara. Tak apa-apa, karena agak jauh lokasinya, aku bisa ke sana cuma sekali-kali dan selebihnya kan bisa konsentrasi dengan studi-ku sendiri. Kalau terlalu dekat dengan sentra diskusi, bisa-bisa fokusku terganggu (teringat cerita pengalaman Pak Iman waktu se-kost dengan anak UIN, hehe).

Kuliner

Ada beberapa hal yang cukup menarik terkait kuliner di sini. Memang belum cukup untuk generalisasi tapi kebanyakan penjual bubur kacang hijau (burjo) di sini merupakan Orang Sunda. Terlihat dari nama-nama warungnya: Kabita, Katineung, Asep Putra, dll. Sementara warung masakan padang hampir selalu menyematkan kata “murah”, misalkan namanya: Murah Meriah, Padang Murah, dll. Apakah masakan padang kadung terstigmakan mahal sehingga perlu ada pencitraan baru di tengah-tengah lingkungan yang makanannya relatif lebih murah ini? Entahlah, yang jelas suatu malam aku pernah mencoba makan di warung padang, harganya sama saja dengan harga normal di Bandung, nasi rendang Rp 9000. Baru beberapa hari kemudian aku menemukan warung padang yang memang murah harganya berkisar Rp 4000-Rp 6000 perporsi.

Advertisements

4 thoughts on “OSPEK NGAYOGYAKARTA

  1. Sugeng Rawuh wonten Ngayogyakarto, Met Datang di Jogja Mbak!
    O, iya tentang toko buku ada lagi yang lumayan gede, namanya Social Agency…. Trus kalo perpustakaan yang lebih gede ada Perpustakaan Daerah di Jl Tentara Pelajar….kalo kuliner pualingg murah ada nasi kucing harga seribu 😀

  2. Matur nuwun, Social Agency itu yang di Jalan Adisucipto kan ya? Wah, makasih info Perpustakaan Daerah-nya 😀

  3. iya mbak ada lagi di Jl Kaliurang, Jl Gejayan & Jl Prof Herman Yohanes. yg di Jl Kaliurang cukup gede sama kayak yg di Jl Adisucipto & JL Godean 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s