Belanja

Belanja seringkali diidentikkan dengan perempuan. Beberapa penelitian berikut menegaskan hal tersebut:

1. Berdasarkan hasil survei GE Money yang dilakukan 2006, seorang perempuan mampu menghabiskan waktu belanja rata-rata selama 25.184 jam 53 menit dalam 63 tahun masa hidupnya. Dari survei yang dilakukan terhadap 3.000 perempuan tersebut menunjukkan, kaum perempuan dapat melakukan aktivitas belanja sebanyak 301 kali tiap tahun, dengan total waktu hingga 399 jam 46 menit. Artinya, hampir setiap hari seorang perempuan akan berbelanja.

Selain itu, survei tersebut juga menyimpulkan bahwa perempuan sebagai kaum shophacolic dapat menghabiskan lebih dari satu jam,yaitu sekitar 94 jam dan 55 menit untuk belanja makanan. Di mana nilai rata-rata kunjungan ke restoran mencapai 84 kali per tahun. Sedangkan untuk aktivitas membeli dan menawar pakaian terbaru, mereka bisa menghabiskan waktu hingga 100 jam 48 menit per tahun. Sementara itu, untuk melakukan window shopping atau aktivitas jalan-jalan di mal sambil melihat-lihat barang di balik etalase saja,mereka setidaknya bisa melakukan hingga 51 kali dalam satu tahun, dengan menghabiskan waktu selama 48 jam 51 menit.

2. Menurut Lee Min-Hoon, peneliti dari Samsung Economic Research Institute (SERI), kekuatan perempuan dalam berbelanja diharapkan bisa membentuk suatu pasar yang besarnya dua kali lipat dari produk domestik bruto (PDB) China dan India pada 2014. SERI juga menyebutkan bahwa konsumen perempuan memiliki dampak besar pada perusahaan dan reputasi produk, karena mereka memengaruhi 80% dari keputusan pembelian kebutuhan anggota keluarga dan teman-teman. Untuk mencapai hal tersebut, para produsen harus memahami beberapa hal penting. Pertama, desain harus ramah pada perempuan (women-friendly design). Kedua,menjadikan belanja sebagai sumber kenikmatan. Ketiga, perempuan lebih perhatian terhadap detail barang belanjaan. Perempuan cenderung mendeteksi, tidak hanya pada detail produk, tetapi juga kebersihan toko, nada dan sikap penjual,dan mengingat mereka untuk waktu yang lama. Keempat, mereka memberikan penekanan pada layanan pribadi. Kelima, mereka memperhatikan pesan iklan.

Tidak mengherankan bila diungkapkan bahwa pria membeli dan wanita berbelanja.  Tentu tidak berlaku pada setiap orang, ada saja yang tidak termasuk wanita yang gemar berbelanja dan berlama-lama di tempat perbelanjaan[i]. Begitu juga pasti ada saja laki-laki yang gemar berbelanja. Persentase pengunjung laki-laki dan perempuan sebagaimana pengakuan PR di Mall Senayan City dan Mall Artha Gading, Jakarta, adalah 60% dan 40%. Terlihat meski perempuan lebih banyak namun perbedaannya tidak begitu jauh. Hal itu seringkali disebabkan karena belanja pun dapat menjadi rekreasi keluarga yang dilakukan bersama oleh suami-istri beserta anak-anak mereka. Namun demikian, target bidikan utama dari berbagai pusat perbelanjaan adalah wanita. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah tenant produk-produk untuk perempuan yang begitu mendominasi dibandingkan dengan produk untuk laki-laki dan anak-anak. Di Mall Artha gading, tenant untuk produk-produk perempuan mencapai 80%.

Kecenderungan wanita untuk menghabiskan waktu yang lama untuk berbelanja seringkali karena keinginan untuk mendapatkan produk yang terbaik dan paling cocok bagi dirinya. Akan tetapi hal ini seringkali dilakukan tanpa mempedulikan efektivitas dan efisiensi waktu, tenaga, maupun finansial. Karena ternyata, berbelanja dan berkeliling di pusat perbelanjaan itu sendiri menjadi sarana rekreasi bagi sebagian besar perempuan. Bukan masalah bagi mereka untuk berjalan berjam-jam dengan sepatu berhak tinggi hingga menemukan produk yang dirasa tepat untuk mereka.  Perlu dicatat, dirasa tepat belum tentu merupakan produk yang benar-benar mereka butuhkan. Seringkali perempuan menginginkan suatu produk karena produk tersebut bagus untuk mereka kenakan (tentu saja hal ini terutama terkait produk fashion, sepatu, atau kosmetik). Bisa jadi standar ‘butuh/tidak butuh” terhadap suatu produk pun berbeda. Seorang perempuan bisa saja merasa butuh membeli sepatu tertentu karena ia memiliki pakaian yang memiliki warna yang kurang pas bila digunakan dengan sepatu-sepatu lain yang ia miliki. Jadi, bukan karena sepatunya rusak dan perlu pengganti.

Karena itulah kalau diperhatikan untuk produk sepatu saja, terdapat kecenderungan yang berlainan antara produk laki-laki dan perempuan. Tentu saja bukan semata-mata dari desain dan ukuran yang pasti berbeda, tapi juga dari segi ketahanan (durability). Jika kita perhatikan, produk sepatu untuk perempuan berfokus pada desain yang cantik dan menarik, tidak didesain untuk dapat digunakan dalam waktu lama dan untuk berjalan jauh (nampak dari sol sepatu yang seringkali tipis dan jarang dijahit, hanya dilem[ii]). Karena itulah, saya pribadi biasanya lebih memilih menggunakan sepatu kets yang lebih kuat, akan tetapi dalam sejumlah acara formal, mau tak mau tetap membutuhkan sepatu perempuan.

Belum lagi terkait produk pakaian, kosmetik, kerudung, maupun aksesoris. Karena ingin berpenampilan menarik, perempuan yang melek mode tidak pernah ketinggalan berita terbaru atas desain yang sedang tren. Tak mengherankan, begitu suatu produk inovatif diluncurkan, segera kita akan melihat perempuan berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan untuk memborong produk tersebut, atau marak memesannya di online shop. Kemudian tak lama setelah itu, di jalanan kita akan melihat banyak perempuan bergaya dengan penampilan yang sedikit mirip satu sama lain. Karena pesanan begitu banyak maka pasar mengimbangi dengan persediaan yang juga melimpah. Akibatnya produk lain yang kurang populer menjadi tergeser dan semakin sulit ditemukan[iii].

Memang pada sejumlah perempuan, setelah memiliki bayi, keinginan untuk berbelanja dan memperbarui penampilan dengan mode terbaru menjadi sedikit berkurang. Nah, tapi berdasarkan pengakuan beberapa orang, mata mereka justru semakin “hijau” pada produk bayi yang lucu-lucu. Jadi, pada dasarnya kebiasaan berbelanja itu tidak sepenuhnya hilang, hanya berganti obyek. Namun waktu untuk berkeliling-keliling di mall dengan sendirinya berkurang karena kesibukan mengurus bayi.

Apakah hal tersebut salah? Mengapa disebut salah? Tentu kita tidak bisa menggeneralisasi hal ini. Perlu meninjau latar belakang yang bersangkutan sebelum menentukan sikapnya dalam berbelanja. Tentu berbeda ketika kita meninjau seseorang yang berbelanja pakaian relatif banyak untuk menunjang pekerjaannya dalam posisi Public Relations dengan seseorang yang berbelanja sekadar suka, sekadar punya uang, lalu produk itupun hanya menunggu waktu untuk dibuang, tanpa digunakan optimal.

Jika kita analisis, kebiasaan berbelanja ini tidak melulu bertumpu pada gender, kembali pada mindset seseorang  terkait belanja. Lebih dalam lagi terkait hidup itu sendiri. Kenapa seorang perempuan menjadi begitu gemar berbelanja (terutama yang dipermasalahkan adalah barang-barang yang tidak terlalu ia butuhkan) tak lepas dari pandangannya terkait apa yang dikejar dalam hidup, apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, maupun kebahagiaan dalam hidup.

Faktor-faktor yang  terkait kenyamanan adalah fasilitas hidup yang relatif mudah dan praktis. Keamanan terkait dengan perasaan tenang bahwa yang dibutuhkan telah terpenuhi dan tersedia, hal inilah yang menyebabkan perempuan seringkali menyetok  suatu produk hingga jumlah yang cukup banyak[iv]. Sementara terkait kebahagiaan dalam berbelanja nampaknya merupakan pengejawantahan perasaan mendapatkan apa yang diinginkan, dan terpenuhinya hasrat untuk memiliki sesuatu.

Bagi seseorang yang memandang bahwa di dalam hidup begitu banyak hal yang harus dikejar dan dimiliki untuk dapat menikmati hidup itu sendiri, belanja adalah sarana ekspresi terbaik. Belanja adalah mekanisme untuk memenuhi keinginan terhadap barang-barang atau jasa yang ingin dimiliki namun tidak diproduksi sendiri.  Seringkali inspirasi berbelanja malah datang dari aspek eksternal, jadi penawaran muncul sebelum permintaan. Seringkali awalnya tak terpikirkan membutuhkan sesuatu (karena dengan yang sudah ada saja masih bisa menjalani hidup dalam taraf relatif baik), namun karena ada tawaran atau promosi barang/jasa tertentu, tiba-tiba jadi merasa butuh (padahal ternyata bukan kebutuhan tapi sekadar keinginan saja). Hal ini berbeda dengan orang yang berbelanja hanya sesuai dengan kebutuhan. Belanja tidk menjadi satu-satunya opsi untuk memenuhi kebutuhan. Orang-orang ini seringkali mendata dahulu apa yang mereka butuhkan lalu sekedar berbelanja memenuhi kebutuhan tersebut. Bukan berarti tidak memperhatikan promosi. Akan tetapi tidak termakan oleh iklan-iklan tersebut. Bisa jadi ada produk baru yang selama ini dicari-cari untuk menyelesaikan masalahnya secara lebih efektif dan efisien, dan sebagainya.

Menjelang akhir tahun seperti ini, berbagai pusat perbelanjaan biasanya menggelar pesta diskon, cuci gudang dan lain sebagainya.  Bagaimana agar tetap menjadi pengendali penuh atas harta anda sendiri dan tidak termanipulasi oleh pasar maupun suasana yang mendorong banyak orang untuk menghambur-hamburkan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu. Utamanya adalah berbelanja hanya sesuai kebutuhan. Bukan karena diskon, bukan karena murah, bukan karena indah atau penawarannya menarik, apalagi rayuan pramuniaga yang sangat ramah dan sopan. Perlu diingat juga bahwa mengeluarkan harta termasuk perbuatan yang akan kita pertanggungjawabkan kelak. Jadi, ya bisa dipikirkan apakah setiap rupiah yang keluar sudahkah tepat atau tidak.


[i] Saya termasuk salah satunya, kecuali jika berada di toko/pasar buku 🙂

[ii] Hal ini menjadi permasalahan tertentu bagi saya yang hanya membeli sepatu bila sepatu lama telah rusak. Seringkali setiap mendapatkan sepatu yang dirasa cocok, sebelum menggunakannya untuk pertama kali, saya meminta tukang sol sepatu untuk menambah tebal sol sepatu dan menjahitnya, hingga saya bisa lebih tenang dan berharap sepatu tersebut dapat berumur lebih panjang hingga waktunya diganti.

[iii] Berdampak buruk bagi perempuan-perempuan yang cukup konservatif dan merasa cukup dengan desain-desain kerudung yang sederhana seperti kerudung katun segi empat yang hanya dibordir minimal pada keempat sisinya, atau kerudung langsungan berbahan kaus polos yang cukup lebar. Saat ini begitu sulit untuk menemukan produk-produk tersebut. Kemudian, mau tak mau akhirnya saya pun turut menggunakan kerudung yang sering disebut sebagai jenis “paris”  (yang syukurnya masih polos). Hanya saja lebih merepotkan karena perlu kerudung tambahan untuk melapisi bahannya yang tipis.

[iv] Pada sebuah kasus ekstrim yang pernah ditampilkan dalam talkshow Rachael Ray, seorang perempuan memiliki kebiasaan menyetok barang dalam jumlah banyak di dapurnya, entah itu bahan makanan, atau barang-barang keperluan rumah tangga. Dia sendiri mengklaim bahwa dirinya tahu persis di mana ia meletakkan barang-barang keperluannya dan dapat menemukannya dengan mudah. Sementara itu ia terus berbelanja dan berbelanja lagi terutama jika ada diskon. Namun suami dan anak-anaknya mulai khawatir dengan kebiasaan berbelanja dirinya. Suatu ketika, saat tim dari acara Rachael Ray berkunjung ke rumahnya, mereka menemukan tumpukan barang yang kadaluarsa tersembunyi di antara barang-barang yang sudah lama ataupun baru dibeli. Ternyata sang wanita tersebutpun baru menyadari kalau selama ini ia menyimpan cukup banyak sampah di dapurnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s