In the Attic

Beberapa hari lalu, aku mengunjungi Grebeg Buku.  Pameran buku tahunan di Yogyakarta ini dinamai begitu karena memiliki tradisi unik Grebegan. Kira-kira seribu buku disusun pada sebuah gunungan lalu orang-orang akan berebut untuk mengambil buku-buku tersebut.  Aku sendiri tidak hadir pada momen tersebut, jadi tak tahu bagaimana serunya rebutan buku gratis di pameran.

Berhubung tak ada anggaran khusus membeli buku pada bulan ini, aku sudah menegaskan pada diri sendiri untuk tidak membeli buku, bagaimanapun menariknya buku tersebut. Anggap sajalah tak ada uang, mau apa lagi? Tapi seperti diduga, memang ada sejumlah buku yang menarik hati, selalu begitu. Kali ini aku menemukan sejumlah referensi bagus untuk mendukung penulisan buku sains untuk pengembangan pola berpikir anak yang sedang kukerjakan.

Lokasinya di stand buku-buku impor, meski diberi diskon, tetap saja aku tak bisa membelinya karena ketidakdisiplinanku bulan lalu. Anggaran buku bulan ini habis dipakai menomboki pos pengeluaran lain yang kupakai membeli buku di bulan lalu. Jadi ya sudahlah, semoga ada kali lain dan rezeki yang lain.

Nah, selain buku-buku referensi aktivitas sains itu, akupun menemukan sebuah buku cerita anak berilustrasi yang cukup menarik. Judulnya “In the attic”, sayang sekali aku lupa nama penulisnya. Kisahnya kurang lebih tentang petualangan seorang anak di loteng di rumahnya. Dia menaiki tangga menuju ke sana dan menemukan di dalamnya bertumpuk barang-barang yang sudah lama tidak dipakai di rumahnya. Dia mengeksplorasi seluruh loteng dan memainkan barang-barang itu dengan imajinasinya. Kadang ia membayangkan terbang di udara ketika duduk di atas sebuah karpet bekas. Atau berimajinasi menjadi bajak laut yang mengarungi samudera dan lain-lain. Ketika hari mulai gelap, barulah ia turun dan menjumpai ibunya, ia bercerita tentang petualangannya seharian ini dengan penuh keceriaan. Namun sang ibu heran dan bertanya, “Bagaimana bisa, kita kan tak punya loteng?”.

Jadi, dia pergi ke mana? Pada halaman berikutnya di buku tersebut diperlihatkan tangga tergeletak. Oh, ternyata itupun bukan tangga sungguhan, tapi tangga mainan kecil yang menempel di mobil-mobilan pemadam kebakaran si anak. Jadi, pada hari itu, si anak telah berimajinasi penuh totalitas. Ia bahkan berimajinasi dua tingkat. Pertama-tama membayangkan sebuah loteng di rumahnya dengan segala isinya yang kemudian ia jadikan bahan untuk melakukan imajinasi lanjutan yang sedemikian bebas.

Pesan penulis cerita ini sebetulnya mengingatkan kembali akan potensi imajinasi manusia yang begitu besar. Tapi semua itu teronggok begitu saja tak termanfaatkan di dalam loteng. Loteng itu adalah otak kita. Tempat berbagai informasi terkumpul dan terakumulasi, namun dibandingkan dengan yang sering kita gunakan masih lebih banyak yang tidak terpakai. Akibatnya kreativitas kita mandeg, hanya melakukan sesuatu sesuai pakem dan tradisi yang jarang dievaluasi, tidak berani mencoba hal-hal yang baru dan menyia-nyiakan potensi besar dalam berpikir.

Pada benak anak yang belum terkontaminasi oleh berbagai kekakuan “aturan berpikir”, potensi itu masih berpeluang besar untuk dikembangkan. Oleh karena itu, memang perlu diberikan ruang dan kesempatan yang lebih luas untuk dapat menajamkan kemampuan itu melalui proses pendidikan yang ramah-imajinasi.

Advertisements

2 thoughts on “In the Attic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s