Cangkir-cangkir Rindu

SMS manis dari ibuku: “(Ibu) lagi goreng ikan asin. Bapak baru pulang. (Seperti) biasa, kopi sudah siap. Sudah minum kopi?…”.  Sudah ngopi hari ini? Aku belum ngopi yang diseduh ibu, batinku. Aku memandangi cangkir kopiku dan teringat saat-saat ibu menyiapkan kopi menyambut kepulangan Bapak yang seringkali kusambut dengan “dua, Bu!”. Ibu lantas bertanya, “pakai gula?”, yang kujawab dengan”sedikit” kadang “tidak”.

Momen kopi berikutnya adalah mengobrol dan sesekali menyeruput kopi dengan Bapakku. Bapak meminum kopi paling tidak tiga cangkir sehari. Subuh sepulang dari masjid, sepulang kerja (kapanpun itu) dan malam hari, ditambah waktu-waktu tentatif. Jadwalku sendiri adalah pagi hari, beberapa waktu setelah sarapan sekitar pukul 8-10 (tepat ketika aku memulai aktivitas di depan komputer), kemudian jam makan siang (sebelum tidur siang), sore hari (seringnya diganti teh manis), dan malam hari. Lebih sering aku tidak memenuhi jadwal lengkapku itu, jadi kurang dari empat cangkir perhari.

Kopi yang kunikmati berganti-ganti jenisnya. Paling sering kopi tubruk, tanpa campuran apa-apa, bahkan gula. Kopi dukun kalau orang-orang bilang. Kopi jenis ini paling enak dinikmati pagi hari. Secangkir kopi dengan uapnya yang masih mengepul panas untuk dinikmati harum aromanya sembari menunggu sisa butiran kopi mengendap ke dasar gelas.  Siang hari, karena dinikmati tak lama setelah makan siang dan menjelang istirahat sejenak, aku pilih yang sedikit ringan, white coffee dengan sedikit gula (sepertinya kebiasaan makan menjelang istirahat ini yang mempertahankan kegemukanku, haha). Sore hari adalah saat bersantai, bisa kuhabiskan sambil membaca novel, menonton film, atau memandangi gerimis (hanya jika hujan tentu saja), jenis kopi atau teh yang dipilih disesuaikan dengan suasananya.  Tentang jenis kopinya sendiri, apakah Arabica atau Robusta, kopi Jawa, Sumatra, dan lain-lainnya,tak tahulah. Aku awam sempurna dalam hal itu. Tapi bicara merk, untuk kopi tubruk aku paling suka Kopi Cap Oplet, mungkin karena tradisi keluarga.

Aku tak hanya mengopi di rumah. Di antara event menyenangkan yang paling kusuka adalah acara (seminar, summer school, dll) fisika di mana kopi berlimpah. Ada satu yang istimewa.  Aku tak pernah melupakan hari-hari itu. Seminggu membicarakan fisika, dan fisika lagi, di antara cangkir-cangkir kopi. Tersedia saat sarapan, coffee break pagi, makan siang, coffee break sore, dan makan malam. Jika kurang masih ada suplemen kopi instan tersedia di kamar yang diisi ulang setiap hari. Ah, ya aku lupa merk kopi instannya apa, tapi kemasannya menarik karena baru kutemukan yang seperti teh celup begitu. Hidup terasa begitu menyenangkan dan membuatku bersemangat hingga aku tak memikirkan atau menginginkan hal lain lagi selain bertahan seperti itu. Hal yang menyadarkanku bahwa justru karena alasan itulah aku mesti menarik diri dulu sementara waktu.

Saat kuliah, akupun sering mengopi bersama teman-teman kajianku. Ada warung kopi yang sering jadi tempat tongkrongan anak-anak Fisika maupun Sunken Court di kawasan jajanan Jalan Gelap Nyawang, kiosnya Babeh. Begitu kami biasa memanggil pemiliknya. Tak ada teknik khusus penyeduhan kopi di sana, hanya menyeduh kopi instan kemasan sachet aneka rupa. Tapi setiap momennya begitu istimewa.

Di Bandung terbilang banyak kedai-kedai kopi yang menyajikan racikan kopi dengan berbagai modifikasinya. Sekali waktu aku pergi mencicipi kopi-kopi itu, sendiri atau bersama teman. Enaknya memang malam-malam, apalagi kalau sendirian, dan tempatnya tidak begitu ramai.  Salah satu spot menyenangkan untuk hal ini (kalau sepi, tapi kondisi itu jarang sekali) adalah Mc Cafe  (Mc Donald Cafe) di Simpang Dago, dari lantai dua kita bisa melihat ke luar jendela dan menyaksikan kesibukan di salah satu sudut pusat Kota Bandung. Ketika sepi dan aku telah terserap ke dalam fokusku, hanya ada aku, kopi dan semesta pikiranku yang begitu bebas untuk kutuangkan perlahan-lahan di atas kertas. Saat sedikit tersendat, tetes-tetes kopi akan mendesaknya perlahan.

Kini cangkir-cangkir kopiku belum memiliki kisah baru. Setiap kuangkat cangkirku, kulihat genangan-genangan memori yang mengepulkan kerinduan di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s