Putus

Mungkin hampir setiap orang mengharapkan kelanggengan dalam menjalani hubungan personal, terlepas dari level keintimannya; entah sebagai teman, sahabat, atau bahkan hubungan suami-istri. Banyak teori yang diungkap untuk menjaga kelestarian hubungan, menganalisis berbagai alasan yang diungkapkan ketika seseorang (terpaksa) mengakhiri suatu hubungan. Dalam tulisan ini aku akan menyoroti dua aspek yang termasuk penting dalam hal ini. Yaitu, pengenalan potensi internal dan keharmonisan dalam proses tumbuh sebagai manusia. Dua hal ini sebetulnya berkaitan, namun agar lebih jelas, akan dijabarkan singkat satu persatu.

 

Orang-orang tertentu seringkali tak butuh kata-kata untuk mengerti. Mereka membaca binar di matamu atau menangkap sendunya suaramu. Bahkan ketika buta petunjuk, mereka sabar menunggu hingga kau siap bicara. Tak ada yang mereka lakukan kecuali memastikan kautahu bahwa mereka ada untukmu. Lirih do’a mereka panjatkan pada Tuhan, di dalamnya ada namamu.

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa tak semua orang dapat melakukan itu? Orang-orang yang dapat melakukan itu hanyalah oramg-orang yang mampu melihat potensi  terdalam kita sebagai individu, bukan semata bagian dari ras manusia. Karenanya hal ini seringkali dimiliki oleh orangtua terutama seorang ibu. Jika ada orang asing hal itu mungkin terjadi karena ada identifikasi kemiripan karakter tertentu atau kedalaman kemampuan berempati seseorang, faktor kuantitas waktu dan intensitasnya pergaulanpun bisa saja berpengaruh. Hal seperti ini memang lebih cenderung naluriah.

Ketika di dalam suatu hubungan yang cukup dekat melibatkan dan membutuhkan banyak penjelasan; apalagi jika semakin lama semakin banyak dan banyak lagi, cukuplah itu sebagai tanda untuk tidak melangkah lebih jauh lagi, bahkan mungkin  kau perlu mundur.

Tulisan ini bukan berisi doktrin antikomunikasi, bahwa orang-orang yang layak untuk dekat dengan kita hanyalah mereka yang tidak banyak bertanya dan dapat “membaca isi hati”. Tidak seperti itu. Komunikasi sangat penting dan merupakan salah satu faktor esensial dalam hubungan. Namun komunikasi efektif dalam hubungan yang relatif dekat hanya dapat diwujudkan dengan adanya pengertian yang lebih mendalam. Menariknya pengertian yang mendalam ini seringkali muncul dari intensitas komunikasi dalam jangka waktu dan topik tertentu. Kadang terjadi tiba-tiba seolah sudah kenal lama, kadang memang terbangun setelah melewati sejumlah proses.  Saat itu mulai terasa ketika tidak bertanya bukan menjadi indikasi ketidakpedulian akan tetapi tidak diperlukan (karena sudah paham) atau justru dalam upaya memberi kesempatan, memberi ruang.

Hal kedua yang penting adalah “tumbuh bersama-sama”. Kebersamaan dalam tumbuhnya individu ini bukan sekedar tumbuh besar atau beranjak tua bersama, tapi lebih pada arah pengembangan kapasitas dan eksistensi diri. Orang-orang yang bertemu di persimpangan lalu berjalan bersama, terkadang mesti berpisah di persimpangan berikutnya. Begitupun dalam kehidupan, mimpi atau tujuan hidup yang mulanya diduga searah, terkadang dapat berubah.

Aku berdo’a pada Tuhan: “Jangan biarkan orang-orang yang kusayangi menjadi asing; tak perlu mereka menjadi jauh; tak perlu mereka melangkah pergi; jika mereka tetap di sini sebagai orang lain, itu sudah cukup membuatku menutup pintu. Aku tidak minta agar mereka tidak berubah, ya Tuhan. Aku ingin mereka selalu tumbuh dan berkembang, sebagaimana yang juga kuharapkan atas diriku. Aku hanya minta kami tak tumbuh berlainan arah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s