Surabaya, Semalam Sehari

Sudah lima tahun berlalu sejak terakhir kujejakkan kaki di kota ini. Aku ingat benar, saat itu tahun 2007, aku tiba di Stasiun Gubeng dengan kusut masai setelah menghabiskan 16 jam dalam perjalanan. Kepalaku juga kacau. Les Miserables yang menemaniku di sepanjang perjalanan memang membuatku merasa sedikit lebih baik. Tapi secara umum, kondisiku dapat dikatakan buruk. Masalah yang terlampau berat menderaku di Bandung membuatku sesak dan memaksaku berlari sejauh-jauhnya. Aku ingat sekali sehari sebelumnya, pukul 17 WIB adalah jadwal keberangkatan kereta bisnis Mutiara Selatan, sementara pada pukul 16.30 aku masih berjalan bolak-balik di depan gerbang Stasiun Bandung. Ragu. Entah mengapa aku sudah tiba begitu saja di depan stasiun. Benarkah aku akan pergi? Hingga kemudian aku melangkah mantap dan membeli tiket kereta yang terakhir. Aku nyaris tak mendapatkannya kalau saja tak ada penumpang yang membatalkan keberangkatan di menit-menit terakhir.


Kini, 17 Januari 2012, aku kembali tiba di sini setelah 6 jam perjalanan dari Lempuyangan. Sembari memakan sebatang wortel merah, bekalku, aku duduk menanti jemputan di ruang tunggu penumpang kelas ekonomi. Tidak banyak suasana yang berubah nampaknya. Aku masih ingat beberapa detil stasiun ini, kantin tempat aku memakan sayur asem yang rasanya cukup aneh, dan, ah stasiun. Aku selalu suka stasiun. Satu hal yang jelas-jelas berubah adalah hati yang kubawa. Kali ini aku merasa perlu datang ke sini untuk menyampaikan pesan bahwa aku baik-baik saja.

 
Pukul 15.00. Setengah jam berlalu sejak keretaku tiba. Aku menumpang kereta Sri Tanjung dengan rute asal Lempuyangan-Banyuwangi. Berangkat pukul 7.30 dari Jogja dan tiba pukul 21.30 malam di Banyuwangi menurut jadwal. Akan tetapi perjalanan itu tak kutuntaskan. Aku berhenti di Surabaya, tepatnya Stasiun Gubeng pada pukul 13.30. Jadi kereta terlambat tiba hampir sekitar satu jam. Esok siang, pukul 13.50 baru aku akan melanjutkan perjalanan dengan kereta yang sama ke arah timur menuju Jember. Dengan demikian, waktuku di Surabaya sekitar 23,5 jam saja.

 
Pukul 15.30 Mbak Naim tiba menjemputku dan kami segera meluncur ke Semolowaru tempatku menginap. Dari kediaman Mbak-ku itu aku beristirahat sejenak, membersihkan diri lalu kami keluar lagi karena Mbak Naim hendak mentraktirku makan Tahu Tek. Kami makan di warung sekitar daerah Keputih. Sudah lama sekali sejak aku sempat berkeliaran di daerah ini. Kembali pada kuliner, Tahu Tek adalah sajian yang terdiri atas potongan tahu goreng, orak-arik telur, kecambah, acar ketrimun yang disiram bumbu kacang. Sayangnya tempat yang dipilih saat itu tidak memberikan sajian terbaiknya. Ada rasa yang sedikit aneh. Lebih enak yang lewat depan rumah, kata Mbak Naim.

 
Bakda Maghrib, setelah mencicipi Tahu Tek keliling yang melewati kediaman Mabak Naim, kami pergi ke Gramedia Kertajaya. Aku, Mbak Naim dan Fikri, ponakannya pergi bertiga. Fikri yang berusia tujuh tahun memaksa ibunya memberi izin keluar rumah malam itu. Di Gramedia aku kalah lagi melawan godaan. Ini masih Bulan Januari, sebetulnya aku masih berada dalam detensi. Saat Grebeg Buku tempo hari aku masih bisa mengendalikan diri. Kali ini benar-benar tak kuasa. Ada beberapa buku bagus yang diobral dalam promosi Gramedia se-Jatim. Berdasarkan pengalamanku, koleksi buku yang diobral biasanya terbatas dan beragam di berbagai cabang. Kalau aku tak mendapatkannya di sini, belum tentu, bahkan kecil kemungkinan aku bisa mendapatkannya di tempat lain pada waktu lain.

 
Kami tiba di rumah pada pukul 21.05. Kupikir aku akan tidur dan melepas lelah. Tapi, kantukku sudah hilang dan kemudian kami mengobrol nyaris semalaman setelah aku bermain-main dengan Fikri dan dia tertidur tak lama kemudian. Entah pukul berapa akhirnya terlelap juga dan ketika bangun sekitar pukul 6 pagi kepalaku sedikit pusing.

Pukul 9 pagi aku menunggu jemputan Intan yang sudah tak kujumpai hampir setahun lamanya dan kini aku menemuinya lagi dalam kondisi sudah berbadan dua. Banyak kabar berita yang baru kudengar ketika kami kemudian mengobrol di Laboratorium Fisika Teori ITS, juga bersama suaminya Nailul dan kawan lab yang lain. Makan siang pukul 12.30 aku bertemu lagi dengan tumpukan kecambah dalam sajian Lontong Balap. Entah kenapa dinamai begitu, mungkin karena kecambahnya yang banyak membalap si lontong, seloroh Intan. Rasanya agak-agak mirip dengan Toge Goreng khas Bogor, kuliner khas terakhir yang kumakan di rumah sebelum keberangkatanku ke Yogyakarta nyaris dua bulan lalu.

 
Ah, perjalanan kali ini benar-benar menyenangkan meski memang melelahkan. Tak lama setelah makan siang, Intan menyelesaikan bimbingan dengan supervisornya di lab dan mengantarku ke Stasiun Gubeng untuk melanjutkan perjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s