Alasan

Kenapa sih kamu melakukan ini? Kenapa sih kamu begitu? Apa maksudmu, keinginanmu, yang kaukejar? Pertanyaan seperti itu banyak ditujukan kepadaku dari orang-orang dengan level hubungan yang beragam. Sebagian memang peduli tapi tak mengerti, sebagian menganggapnya bagus untuk koleksi informasi, sebagian lagi butuh konfirmasi atas upayanya menebak maksudku.

Aku—dan mungkin kebanyakan kenalanku—menganggap bahwa penggunaan logika dan rasioku sangat dominan. Dalam bahasa pemetaan otak, otak kiriku yang superior dibandingkan dengan otak kanan.  Tapi seorang kawan-dengan bidang keahlian psikologi-suatu ketika berceletuk,”kamu otak kanan sejati!”. Pernyataannya cukup mengagetkan. Oh iyakah? Masa sih?  Soalnya aku tak pandai menggambar atau bernyanyi. Apresiasi seniku terbatas. Dalam sastrapun baru setaraf konsumen. Tapi kalau menilik pada beberapa momen ketika aku mengambil suatu keputusan, rasanya mungkin ada benarnya.

Otakku berputar terus, tapi tangan dan kakiku seringkali bergerak lebih cepat mendahului momen “aha! aku tahu”. Entah apa yang menuntunku jika kenyataannya kesadaranku seringkali terlambat. Tapi aku jarang sekali menyesal, sungguh. Aku merasa intuisiku cukup kuat meski akupun sebenarnya merupakan perencana yang cukup detail. Tapi pada beberapa keputusan besar dalam hidupku, aku hanya melakukannya tanpa berpikir panjang, intuitif sekali. Alasan-alasan mengapa aku melakukannya baru kutemukan di kemudian hari yang meyakinkanku bahwa aku telah mengambil langkah tepat.

Seringkali di luar ekspektasi yang kemungkinan besar kutetapkan untuk diriku sendiri, bahkan kebanyakan tak dapat—atau mungkin tepatnya, belum—terjelaskan. Karena itulah jelas sangat mengesalkan bila ada sejumlah orang yang senantiasa tak sabar mencari tahu alasan-alasan yang bahkan belum kutahu pasti. Ujung-ujungnya mereka menganggapku egois dan tidak berpikir banyak atas kepentingan orang lain di sekitarku. Hanya orang yang bergerak dan berlaku sesuai keinginannya.

Aku pikir sebetulnya hal itu wajar saja. Wajar jika kita kadang kehilangan penjelasan atau sekedar kehilangan ekspresi untuk menjelaskan. Kendali kita dalam hidup bukan sekedar pikiran. Atau katakanlah bukan cuma pikiran sadar. Ada rasa, ada unsur pikiran yang diolah di luar kondisi sadar. Selama kita punya keberanian untuk melangkah sekedar dengan bekal keyakinan hal-hal tersebut tidak mencacatkan integritas kita, menurutku, kenapa tidak berusaha meraihnya sekalipun belum terang benar alasan-alasan logis di baliknya. Kadang kalau kau berhenti terlampau lama buat berpikir, waktu yang tepat akan hilang dan kesempatan baik segera berlalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s