Di Toko Buku

Paling tidak satu minggu sekali, pasti aku pergi ke toko buku. Tak selalu membeli buku, lebih sering hanya melihat-lihat buku terbitan baru, atau membaca satu-dua buku yang cukup menarik di sana. Untungnya, cukup banyak pilihan toko maupun kios buku di kota ini. Jadi, kalau kadang bosan mengunjungi satu venue, masih terbuka pilihan lainnya. Tapi favoritku Social Agency Baru di Jalan Godean (karena sepi), Togamas Gejayan (karena suasananya relatif menyenangkan), atau Gramedia Sudirman (karena dekat Perpustakaan Kota). Jadi seminggu sekali, minimal salah satu dari ketiga toko buku itu biasanya kukunjungi.

Sebetulnya kalau mau membeli buku, bisa juga mencari di kios-kios buku yang berderet di belakang kawasan Taman Pintar atau Pasar Beringharjo, harganya lebih miring dan beberapa juga bajakan. Jelas bisa lebih mengirit anggaran. Tapi itu kalau memang sudah punya buku incaran yang akan dibeli dan ancang-ancang harganya. Kalau sekedar mau melihat-lihat, ya tidak nyaman juga karena penjaga kios bukunya akan selalu menyanyakan buku apa yang kita cari dan menawarkan bantuan mereka untuk mencarikan buku-buku tersebut. Ya, situasinya sama lah seperti kalau kita belanja buku di Pasar Palasari, Bandung (sampai beberapa waktu aku masih saja melakukan asosiasi ini-itu antara Yogya-Bandung).

Hal lain yang kulakukan di toko buku adalah kontemplasi, khususnya mengenai dunia perbukuan dan penerbitan. Pernah di Gramedia aku terpaku di depan sebuah rak besar yang penuh berisi buku-buku motivasi dan pengembangan diri, banyak diantaranya diklaim sebagai best-seller. Mungkin itu salah salah satu alasan mengapa buku genre ini semakin banyak ditulis, karena angka penjualannya bagus, penulis maupun penerbit jadi berlomba-lomba menghasilkan lebih banyak buku serupa. Pertanyaannya kenapa buku-buku seperti ini begitu laku?

Motivasi dan pengembangan diri, tak ada yang salah ketika banyak orang berbagi inspirasi tentang hal itu. Bahkan itulah nilai dari kemampuan kita berkomunikasi, untuk berbagi dengan sesama. Hanya saja, ketika kita meninjaunya dari sisi lain, terkait kebutuhan pasar, terkait permintaan yang menjadi cukup tinggi atas topik-topik tersebut, dapatkah kemudian kita mengatakan bahwa saat ini banyak orang yang merasakan kering dalam hidupnya dan membutuhkan petuah serta motivasi untuk mengembangkan dirinya, membuatnya lebih bergairah dalam hidup dan seterusnya?

Itu hanya salah satu pertanyaan yang muncul, untuk menjawabnya tentu membutuhkan telaah khusus dan takkan kulanjutkan dalam tulisan ini yang sedianya memang tidak akan membahas hal tersebut. Hal lain misalnya terkait begitu banyaknya buku pelajaran dasar yang merupakan terjemahan dari terbitan korea. Biasanya berupa buku pelajaran berilustrasi yang disajikan dalam bentuk komik atau cerita.

Ah, banyak buku yang diterbitkan begitu banyak orang yang menulis membuat menulis bukan lagi menjadi sesuatu yang luar biasa. Banyak orang menulis, hampir semua orang menulis. Masalah kualitas, hanya jadi perdebatan. Kedalaman atau kepraktisan tulisan menjadi nilai tersendiri yang menentukan seseorang membeli atau mengabaikan suatu buku. Bukan hanya itu sih, bahkan hal-hal lain semacam artistik layout, atau mood pembeli sekalipun dapat berpengaruh.

Entah berapa kali aku terhenyak, “hah, soal begini bisa juga ditulis dan ada yang mau menerbitkan? Bahkan ada yang bersedia membelinya?”. Tapi memang begitu, pengetahuan yang dibutuhkan atau diinginkan orang jelas beragam, dan mengunjungi toko buku adalah salah satu jalan untuk mengetahuinya.

Aku sendiri, karena banyak variabel yang terlibat dalam pengambilan keputusan membeli buku, biasanya membatasi buku hanya yang dapat dijadikan referensi. Entah idenya, atau mungkin referensi sebagai kebukuannya itu sendiri. Maksudku, contoh penulisan atau perwajahan bukunya. Apalagi kalau ada beberapa buku incaran dalam suatu waktu, aku mesti mencari versi ebooknya dulu yang dapat didownload secara gratis, lalu cek di perpustakaan, setidaknya apakah informasi yang bersangkutan dapat diakses dan dikumpulkan dari berbagai website di internet? Bila tak ada barulah dibeli. Itu khusus terkait buku yang benar-benar dibutuhkan informasi atau ide di dalamnya, lain lagi dengan buku yang secara fisik benar-benar ingin kau miliki sebagai koleksi, meski sebenarnya sudah pernah membaca isinya.

Advertisements

2 thoughts on “Di Toko Buku

  1. iya, menurutku buku-buku itu seolah hanya memberi peta yang bisa mendatangkan motivasi kalau kita melewati jalan sama atau menemukan jalan lain ke tujuan yang kurleb sama, tapi membaca saja, kita belum sampai ke titik itu, dan jalannya belum juga tepat untuk kasus khusus kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s