Oh yeah, I Love Jeans!

Cukup lama tidak mengisi blog, padahal cukup banyak yang sedang kupelajari belakangan ini. Namun entahlah, tidak banyak yang bisa kuceritakan soal pelajaranku. Aku ingin menulis soal lain saja. Kucari-cari topik yang kupikir menarik, dan begitu saja terpikir untuk menulis tentang jeans terkait diriku sendiri. Tulisan ini sudah kutulis akhir Januari lalu sebetulnya, tak lama sejak beberapa peristiwa terkait terjadi.

Jeans aka denim pants (celana denim) adalah jenis pakaian kasual yang mungkin paling populer. Bermula dari memenuhi kebutuhan para pekerja tambang atas pakaian yang nyaman dipakai dan tidak mudah robek dalam aktivitas fisik yang cukup berat, jeans kemudian meluas digunakan berbagai kalangan.

Brand image pemasaran jeans bergeser terutama di dunia berkembang ketika sasarannya bukan lagi para pekerja tambang, akan tetapi pada generasi muda. Jeans dicitrakan modis, kasual, trendy, pakaian anak muda. Istilahnya, anak gaul. Begitulah, hingga ada salah kaprah penggunaan istilah, jeans versus celana bahan/kain. Lho apakah jeans tidak dibuat dari bahan/kain juga, yakni bahan/kain denim? Anak-anak gaul memakai jeans, yang agak kuper atau formal biasanya bercelana bahan/kain, kalau santri sarungan. Lah ini… – -‘

Begitu kuatnya citra yang melekat, hingga pernah pada suatu masa, seolah ada pandangan bahwa ‘tidak pantas kalau “anak mesjid” menggunakan jeans. Atau setidaknya pengguna jeans mestilah bukan anak rohis. Muncul celetukan semisal, “Wah, ga nyangka dia shalat, juga rajin ke mesjid, padahal pakai jeans.” Loh, Si Boy aja shalatnya rajin gitu loh (ga nyambung, kan?)…

Belakangan hal itu bukan lagi hal yang umum, orang sudah mulai maklum bahwa jeans pun boleh-boleh saja dipakai anak mesjid. Ya iyalah, siapa larang, toh dalam Islam juga tidak diharamkan. Nah, tapi berbeda kalau penggunanya whom-so-called akhwat, alias para sisters/saudara perempuan. Tertama para pengguna kerudung (relatif) lebar. Sampai detik ini, jika berkeliaran di dalam lingkup daerah khususi dengan menggunakan jeans, hampir selalu ada saja orang yang “takjub” melihatku. Tentu yang terheran-heran seperti itu biasanya mereka dari kalangan “sisters” juga, selainnya tak banyak.

Terus terang jeans merupakan pakaian favoritku. Digunakan bersama t-shirt atau kemeja, rasanya nyaman saja. Aku sudah terbiasa menggunakan pakaian semacam itu sejak kecil. Sempat terhenti saat SMP ketika sedang menyukai tipe pakaian Si Nidaii 🙂 Bukan benar-benar suka juga sebenarnya, hanya karena baru tahu bahwa pakaian muslimah itu seharusnya kurang lebih nampak seperti itu, jadi akupun mengikuti saja.

Namun kemudian, seiring perjalananku memahami ketentuan Islam atas pakaian wanita, kutemukan bahwa sebetulnya tak ada ketentuan khusus atas jenis pakaian yang boleh digunakan untuk menutup aurat. Artinya, jeans sekalipun boleh saja dipakai. Tentu saja tetap harus berjilbabiii jika berada di lingkungan ruang publik. Dengan demikian aku bisa kembali menggunakannya. Demikianlah bertahun-tahun berikutnya, hingga kini aku setia dengan jenis pakaian itu. Kautahu? Semakin tua jeans dan t-shirt maka akan semakin nyaman digunakan, apalagi kalau sudah agak robek, rasanya semakin menyatu dengan dirimu dan menjadi bagian hidupmu. Ahaha, aku suka juga menisik jeans yang sudah sedikit robek. Aku belajar menisik dari kakekku, tapi hingga sekarang belum bisa meniru tisikannya yang sangat rapi itu.

Kembali pada salah satu motivasiku menuliskan semua ini, baru saja beberapa bulan lalu aku hendak mendaftar pada sebuah pesantren, rencananya hendak menjadi santri kalong. Ahaha, tapi aku mengurungkan niatku ketika pada aturan tertulisnya dikatakan bahwa santri di sana dilarang menggunakan jeansiv. Itu bukan alasan primer sih, yang utama, letaknya cukup jauh dari kampus sementara aku tak berkendara, dan juga tak ada kendaraan umum yang melintas di sana.

Selain itu, ada satu dua teman lain yang juga menampakkan keheranannya (sudah biasa) pada kesempatan ketika aku tak berjilbab. Ah, ya sudahlah, kasihan kamu jeans, dicitrakan sedemikian rupa, seolah-olah jauh dari keshalehan, haha. Padahal sebagai mihnahv jeans sangat aman, karena bahannya yang lumayan kaku tidak akan membentuk tubuh dan kita leluasa bergerak, tak perlu khawatir ada aurat tersingkap saat jilbab tersingkap.

i Dalam Islam dikenal dua lingkungan yang berbeda terkait dengan ranah privasi (sebetulnya pembagian ini bisa dianggap pembedaan yang umum kita temukan dalam berbagai corak masarakat, hanya saja dalam islam ada hukum-hukum tertentu yang berlaku khusus sebagai implikasinya, terutama terkait aspek pergaulan laki-laki dan perempuan). Ada ruang publik dan ruang privat yang pembedanya adalah diperlukan izin dalam mengakses ruang tersebut. Contoh ruang privat misalnya rumah, kendaraan pribadi, atau ruangan apapun yang untuk memasukinya diperlukan izin dari si empunya/pengguna ruangan.

Dalam dua ranah berbeda ini ada ketentuan penggunaan pakaian yang berbeda. Pada pokoknya, muslimah yang baligh tidak boleh menampakkan auratnya di hadapan nonmahram, baik di ruang privat maupun di ruang publik. Hanya saja ada ketentuan tambahan untuk di ruang publik, yaitu menggunakan jilbab (jubah longgar) sebagai pakaian luar. Terminologi ini diambil dari keterangan pada beberapa tafsir al-Qur’an semisal: baju panjang (mula’ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita (Imam an-Nawawi, dalam Tafsir Jalalyn), atau pakaian seperti terowongan (baju panjang yang lurus sampai ke bawah) selain kerudung (Tafsir Ibnu Katsir).

ii Ikon majalah remaja An-nida, Seorang siswi SMA yang menggunakan tunik panjang, rok panjang dan berkerudung sangat lebar, juga dengan kacamata besarnya. Oh ya, dulu aku benar-benar menggunakan kerudung yang panjangnya hingga ke lutut, makin lama makin pendek (waktu SMA masih menggunakan kerudung sepinggang), hingga saat ini mentok memenuhi syarat minimal saja: menutupi dada. 🙂

iii Sering ada kesalahan memahami jilbab dan keliru tertukar dengan kerudung. Kerudung dalam bahasa arab adalah khimar, penutup kepala yang wajib digunakan muslimah hingga menutupi dadanya di hadapan nonmahram, karena yang boleh terlihat hanya wajah dan telapak tangan. Adapun jenis pakaian yang digunakan untuk menutup bagian tubuh yang lain dibebaskan, boleh kemeja, baju terusan, celana panjang, kulot, rok, dll asal tidak ketat dan menerawang hingga memperlihatkan warna kulit (hal yang disebut juga sebagai berpakaian tapi telanjang). Sementara itu, jilbab merupakan jenis pakaian khusus yang digunakan sebagai jubah atau pakaian luar ketika keluar rumah. Pakaian ini wajib digunakan oleh muslimah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyah yang menjadi penegas atas QS al Ahzab: 59. Namun kewajiban ini hanya berlaku hingga seorang muslimah mencapai masa menopause-nya sebagaimana keterangan dalam QS an-Nur:60. Setelah melewati masa itu, kupahami tidak wajib berjilbab, hanya harus menutup aurat saja, dengan khimar dan pakaian jenis apapun, asal menutup aurat sempurna (yakni seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan).

ivSebetulnya pada tata tertib di kampusku sekarang juga ada larangan demikian, tapi karena aku berjilbab, ga kelihatan juga toh? Sementara kalau di dalam pondok yang kupikir aku tak perlu berjilbab, mau pakai apa kalau tidak menggunakan jeans-ku itu ketika aku tidak memiliki satu rok pun, ada sarung sih, tapi ya…—’ sementara itu malas juga jika aku mesti terus-terusan berjilbab, seolah tak punya ruang bebas sama sekali. Jilbab bagiku sudah identik dengan ruang publik di mana privasiku sangat terbatas bilapun masih ada.

v Ketika menggunakan jilbab, pakaian dalam rumah (rapi menutup aurat maupun tidak) tidak dilepas untuk kemudian diganti dengan jilbab. Tapi jilbab sebagai pakaian luar posisinya adalah melingkupi atau digunakan di atas pakaian tersebut. Gambarannya begini, misalkan di rumah sehari-hari biasa bercelana panjang/rok dan menggunakan t-shirt tangan pendek. Itulah yang disebut mihnah, ketika ada tamu nonmahram, harus menutup aurat sempurna dengan tambahan kerudung juga pakaian yang menutup lengan (bisa berganti pakaian atau menggunakan jaket misalnya), juga kaus kaki atau sendal dalam rumah yang menutup kaki. Sementara kalau hendak keluar rumah (artinya menuju ruang publik), yang demikian saja tidak cukup karena perintahnya bukan sekedar menutup aurat tapi juga berjilbab, artinya menggunakan jilbab di atas mihnah/pakaian rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s